GURU BUKAN PEMAIN "SOLO": PELAJARAN KEPEMIMPINAN YANG SEHARUSNYA DIAJARKAN DI SETIAP SEKOLAH

Guru Bukan Pemain Solo – miftahmath.com
Refleksi

Guru Bukan Pemain Solo: Pelajaran Kepemimpinan yang Seharusnya Diajarkan di Setiap Sekolah

Oleh Miftah · 26 April 2026

Ada momen yang tidak mudah dilupakan. Ketika seorang kepala sekolah memimpin rapat, membagi tugas, dan di ujung rapat berkata, "Kalau ada yang tidak sanggup, bilang." Tidak ada yang bicara. Semua mengangguk. Lalu setelah rapat bubar, di koridor, bisik-bisik itu muncul: "Gimana mau bilang? Nanti dikira tidak profesional."

Inilah salah satu ironi terbesar dunia pendidikan: kita mengajarkan murid untuk berani berbicara, tapi kita sendiri diam dalam rapat. Kita mengajarkan kolaborasi di kelas, tapi di ruang guru, ego sering kali lebih keras dari ide.

Beberapa waktu lalu, saya menyimak pemikiran Ignasius Jonan, sosok yang pernah mengubah wajah Perseroan Terbatas Kereta Api Indonesia (PT KAI) dan kemudian menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tentang kepemimpinan. Dan jujur, saya tidak menyangka ada begitu banyak hal yang relevan dengan keseharian sebagai pendidik dan pemimpin di sekolah.

1

Pemimpin Bukan Soal Kelihatan Sibuk

Pak Jonan pernah menyampaikan sesuatu yang sederhana namun menohok: pemimpin sejati bukan ditentukan dari seberapa sibuk ia terlihat, melainkan dari seberapa jelas ia tahu mana yang harus diatur sendiri dan mana yang perlu didelegasikan kepada orang lain.

"Pemimpin itu bukan soal kelihatan sibuk, tapi soal tahu apa yang harus diatur dan apa yang harus diperintahkan."
— Ignasius Jonan

Saya langsung teringat kepala sekolah atau wakasek yang setiap hari terlihat hilir mudik, membawa tumpukan kertas, selalu ada di mana-mana, tapi sekolah jalan di tempat. Program yang sama diulang tiap tahun. Rapat yang sama dengan hasil yang sama. Semua orang sibuk, tapi tidak ada yang tumbuh.

Padahal, kepemimpinan yang sesungguhnya bukan soal terlihat bekerja keras. Ini soal tahu mana yang harus didelegasikan, mana yang harus diputuskan sendiri, dan mana yang cukup dipantau dari jauh. Seorang guru senior yang memimpin tim kurikulum bukan tugasnya mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Tugasnya adalah memastikan setiap guru paham arah, punya kapasitas, dan bisa bergerak mandiri.

Relevansi untuk Sekolah

Jika Anda adalah wakil kepala bidang akademik atau kurikulum, tanyakan pada diri sendiri: apakah kesibukan Anda hari ini adalah kerja yang seharusnya dilakukan orang lain? Jika ya, Anda belum memimpin, Anda masih mengerjakan.

2

Godaan Terbesar Pemimpin: Ingin Terlihat Pintar

"Ini yang paling menghantam saya". Jonan menyebut bahwa godaan terbesar seorang pemimpin adalah keinginan untuk menunjukkan kepintaran dirinya sendiri, bukan untuk melayani kebutuhan timnya.

"Godaan terbesar pemimpin adalah ingin menunjukkan bahwa kita pintar."
— Ignasius Jonan

Di dunia sekolah, ini muncul dalam bentuk yang sangat halus. Guru yang selalu mendominasi diskusi dalam rapat, bukan karena idenya selalu terbaik, tapi karena ingin dilihat kompeten. Kepala sekolah yang memilih solusinya sendiri meski ada usulan dari guru yang lebih relevan, karena kalau usulan orang lain yang dipakai, seolah otoritasnya berkurang.

Ketika memimpin sebuah sesi pelatihan guru junior, seorang kepala sekolah terkadang lebih banyak berbicara daripada mendengar. Bukan karena tidak ada yang perlu disampaikan, tapi karena kepala sekolah tersebut ingin terlihat menguasai materi. Padahal, setelah refleksi, sesi yang paling berdampak justru ketika kepala sekolah bertanya: "Menurut Bapak/Ibu, apa yang sudah berjalan baik di kelas selama ini?", dan dia diam, mendengarkan jawaban mereka.

Melayani itu bukan berarti lemah. Melayani berarti memilih dampak tim di atas validasi diri sendiri.
3

Perubahan Tidak Bisa Dikebut

Jonan percaya pada satu prinsip sederhana namun dalam: direction is more important than speed. Arah lebih penting daripada kecepatan. Ini berbicara langsung ke jantung masalah yang sering terjadi di sekolah: reformasi yang terburu-buru.

Kurikulum baru diimplementasikan tanpa pelatihan yang cukup. Sistem penilaian diganti tanpa guru diberi waktu adaptasi. Program unggulan diluncurkan dengan deadline yang tidak realistis. Kelas boarding diadakan tanpa persiapan yang matang. Semua karena ingin cepat terlihat berhasil.

Yang Sering Terjadi di Sekolah

Tim dipaksa cepat beradaptasi, sementara arahnya sendiri belum jelas. Guru berlari kencang tapi tidak tahu menuju ke mana. Ini bukan efisiensi, ini kelelahan tanpa makna.

Perubahan yang tahan lama dimulai dari kejelasan arah. Kepala sekolah atau pemimpin tim yang baik adalah yang mampu menjawab pertanyaan sederhana ini: "Ke mana kita akan pergi, dan mengapa?", bukan hanya "Kapan ini harus selesai?"

Dan yang tidak kalah penting: pemimpin harus menjadi contoh arah itu sendiri. Kalau kita menginginkan guru yang reflektif, kita sendiri harus terlihat merefleksikan praktik mengajar kita. Kalau kita menginginkan guru yang kolaboratif, kita harus yang pertama membuka diri untuk dikritik.

4

Berubah itu Perlu Rendah Hati

Jonan mengingatkan bahwa perubahan tidak bisa instan. Dan titik awal kepemimpinan yang berdampak bukan gaya bicara yang keras, bukan jabatan yang tinggi, melainkan kerendahan hati. Bukan ketegasan suara, melainkan ketegasan arah dan konsistensi langkah.

Ini mungkin poin yang paling sulit diterima di lingkungan sekolah. Ada tekanan tidak tertulis bahwa pemimpin harus selalu tahu jawabannya. Kepala sekolah yang bilang "Saya tidak tahu, mari kita cari tahu bersama" kadang dilihat sebagai tidak kompeten. Padahal justru sebaliknya, kejujuran itulah yang membangun kepercayaan tim.

Rendah hati bukan berarti tidak punya pendirian. Rendah hati berarti cukup jujur untuk mengakui keterbatasan, cukup bijak untuk mendengar pendapat orang lain, dan cukup kuat untuk tetap konsisten menuju arah yang sudah disepakati bersama, meski jalannya berliku.

5

Tidak Ada Anak Emas di Tim yang Sehat

Jonan tegas soal kaderisasi: harus profesional, tidak boleh ada anak emas. Di sekolah, ini terasa sangat nyata. Siapa yang dipilih jadi wakil kepala? Siapa yang sering dipilih jadi wali kelas unggulan? Siapa yang selalu dikirim ke pelatihan bergengsi? Siapa yang "kebetulan" selalu mendapat jam mengajar yang nyaman?

Kalau jawabannya selalu orang yang itu-itu saja, bukan karena kapasitasnya, tapi karena dekat secara personal dengan pemimpin, itu adalah benih ketidakadilan yang lambat laun merusak iklim kerja seluruh sekolah.

Konsekuensi Jangka Panjang

Guru-guru lain yang kompeten akan merasa tidak dihargai, kehilangan motivasi, dan akhirnya hanya bekerja sekadar memenuhi kewajiban, bukan karena panggilan. Dan murid-murid kita lah yang menanggung akibatnya.

Kaderisasi yang sehat artinya sistem promosi dan pengembangan guru didasarkan pada kinerja, potensi, dan kebutuhan sekolah, bukan pada kedekatan emosional. Hal ini membutuhkan keberanian dari pemimpin untuk bersikap objektif, bahkan ketika itu menyakitkan secara personal.

6

Eksekusi adalah Segalanya

Penutup yang paling keras dari semua pelajaran ini: strategi tanpa eksekusi hanyalah omong kosong. Dan di lapangan, setiap keputusan yang dibuat, entah dalam bentuk surat tugas, jadwal, atau komitmen rapat, bukan sekadar kertas. Itu adalah simbol kejelasan, keberanian, dan tanggung jawab.

Berapa banyak program sekolah yang lahir dari rapat panjang, dicatat rapi dalam notulen, lalu terlupakan begitu saja? Berapa banyak visi sekolah yang tertulis indah di baner depan gerbang, tapi tidak pernah terasa dalam keseharian kelas?

Di sekolah, eksekusi adalah saat guru benar-benar masuk kelas dengan persiapan matang. Saat kepala sekolah benar-benar melakukan supervisi, bukan sekadar tanda tangan. Saat program tidak hanya diluncurkan tapi dipantau, dievaluasi, dan diperbaiki terus-menerus.

Kalau kita membuat keputusan tapi tidak menjalankannya, kita sedang mengajarkan budaya tidak bertanggung jawab kepada seluruh tim. Dan budaya itu, perlahan, akan merembes ke dalam cara murid memandang komitmen.

Sekolah Butuh Pemimpin, Bukan Aktor

Keenam pelajaran dari Ignasius Jonan tersebut bukan hanya relevan untuk pemimpin korporasi atau birokrat pemerintahan. Justru, dunia pendidikan adalah tempat di mana kepemimpinan yang baik paling dibutuhkan dan paling berdampak, karena efeknya tidak berhenti di laporan tahunan, melainkan mengalir ke dalam karakter ribuan murid yang dididik.

Kepemimpinan di sekolah bukan soal jabatan. Bukan soal siapa yang paling senior. Ini soal siapa yang cukup rendah hati untuk terus belajar, cukup berani untuk memberi arah yang jelas, dan cukup konsisten untuk menjadi contoh nyata dari nilai-nilai yang diperjuangkan di depan kelas.

Pertanyaannya bukan "Apakah saya sudah jadi pemimpin yang baik?" tapi "Apa satu hal yang bisa saya ubah pekan ini agar tim saya bisa bekerja lebih baik tanpa saya harus ada di mana-mana?" Kalau Anda membaca artikel ini sampai akhir, kemungkinan besar Anda adalah tipe pemimpin yang mau berkembang. Dan itu sudah setengah jalan. Selamat berproses.

Posting Komentar untuk "GURU BUKAN PEMAIN "SOLO": PELAJARAN KEPEMIMPINAN YANG SEHARUSNYA DIAJARKAN DI SETIAP SEKOLAH"