SENI MEMILIH DIAM: STRATEGI MENJAGA KEWARASAN DAN INTEGRITAS GURU DI SEKOLAH

Dunia pendidikan seringkali digambarkan sebagai taman yang tenang tempat ilmu bersemi. Namun, bagi kita yang setiap hari berjibaku di sekolah, kita tahu realitanya jauh lebih kompleks. Sekolah bukan hanya tempat bertemunya angka, rumus, dan pelajaran, melainkan sebuah ekosistem emosi yang padat. Di antara tumpukan administrasi Kurikulum Merdeka dan persiapan materi Deep Learning, ada satu tantangan yang seringkali lebih menguras energi daripada mengajar di lima kelas berturut-turut: dinamika interaksi antarmanusia.

Kita sering membahas teknik mengajar matematika atau pelajaran lain yang efektif. Namun, efektivitas mengajar mustahil tercapai jika batin guru sedang bergejolak karena konflik yang tidak perlu. Terinspirasi dari filosofi menjaga energi negatif, mari kita bedah mengapa "Diam" terkadang menjadi kurikulum tersirat yang paling ampuh bagi seorang pendidik.

Mengapa Guru Perlu Strategi "Diam"?

Sebagai guru, kita dilatih untuk berbicara. Kita menjelaskan konsep, memberikan motivasi, dan menegur kesalahan. Namun, ada kalanya kata-kata justru menjadi bumerang. Di lingkungan sekolah, kita akan bertemu dengan berbagai karakter: rekan sejawat, pimpinan, hingga orang tua murid yang masing-masing membawa beban emosionalnya sendiri.

Memilih untuk diam bukan berarti kita kalah atau tidak memiliki argumen. Sebaliknya, diam adalah manajemen energi. Dalam psikologi pendidikan, guru yang memiliki regulasi diri yang baik akan lebih mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif. Berikut adalah adaptasi dari berbagai jenis orang yang sebaiknya dihadapi dengan diam, khusus dalam konteks dunia kerja guru.

1. Rekan Kerja yang "Selalu Ingin Menang" dalam Rapat

Kita semua pasti pernah berada dalam rapat dinas di mana satu orang mendominasi pembicaraan. Mereka bukan mencari solusi terbaik untuk sekolah atau murid, melainkan mencari validasi bahwa pendapat merekalah yang paling benar.

  • Dalam Konteks Sekolah: Saat Anda mengusulkan metode evaluasi baru atau perubahan jadwal, mereka akan mematahkan argumen Anda dengan alasan "pengalaman lama" atau sekadar ingin terlihat lebih vokal di depan kepala sekolah.
  • Mengapa Harus Diam? Jika Anda melayani debat tersebut, rapat akan berlarut-larut. Energi yang seharusnya Anda gunakan untuk mengoreksi tugas murid akan habis untuk perdebatan ego. Biarkan mereka "menang" secara verbal di ruang rapat. Kebenaran efektivitas kerja Anda akan terbukti di dalam kelas, bukan di meja diskusi.

2. Sosok yang Hobi Menjatuhkan (The Toxic Gossipers)

Sekolah bisa menjadi tempat yang sangat hangat, tapi juga bisa menjadi sarang gosip yang dingin. Ada tipe orang yang merasa lebih tinggi jika berhasil menjatuhkan reputasi rekan sejawatnya.

  • Dalam Konteks Sekolah: Mereka mungkin menyindir cara Anda berpakaian, cara Anda mengajar. Ucapan mereka sebenarnya adalah cerminan dari ketidaknyamanan mereka terhadap prestasi Anda.
  • Mengapa Harus Diam? Menanggapi gosip hanya akan membuat Anda masuk ke dalam "frekuensi rendah" yang sama. Tetaplah tersenyum tipis, jaga jarak profesional, dan biarkan integritas Anda yang berbicara. Guru yang berkualitas tidak dinilai dari pembelaan dirinya terhadap gosip, melainkan dari jejak manfaat yang ditinggalkan pada muridnya.

3. Mereka yang Mendengar Hanya untuk Membalas

Komunikasi dua arah adalah kunci kolaborasi. Namun, ada tipe rekan kerja atau bahkan atasan yang saat Anda berbicara, mereka tidak menyimak substansi, melainkan hanya menunggu jeda napas Anda untuk masuk dan membantah.

  • Dalam Konteks Sekolah: Saat Anda mencoba menjelaskan kendala teknis dalam implementasi kurikulum, mereka langsung memotong dengan kalimat, "Ah, itu sih kamunya saja yang kurang kreatif."
  • Mengapa Harus Diam? Berhenti menjelaskan. Jika seseorang sudah menutup pintu pemahamannya, penjelasan sepanjang apa pun hanya akan menjadi angin lalu. Diam melindungi Anda dari percakapan yang "muter di tempat". Gunakan waktu Anda untuk berdiskusi dengan rekan yang benar-benar ingin bertumbuh bersama.

4. Sang "Drama King/Queen" di Sekolah

Bagi sebagian orang, konflik adalah bahan bakar. Tanpa adanya drama atau kubu-kubuan di sekolah, mereka merasa hidupnya hambar. Mereka senang membesar-besarkan masalah sepele menjadi isu nasional di lingkungan sekolah.

  • Dalam Konteks Sekolah: Masalah pembagian tugas tambahan yang tidak merata akan menjadi isu ketidakadilan sistemik.
  • Mengapa Harus Diam? Jangan menjadi panggung bagi drama mereka. Saat Anda tidak memberikan reaksi yang meledak-ledak, drama tersebut akan kehilangan kekuatannya. Jadilah guru yang "membosankan" bagi para pencari drama karena Anda terlalu sibuk dengan inovasi pembelajaran.

5. Penguji Kesabaran yang Manipulatif

Tipe ini biasanya tahu persis titik lemah Anda. Mereka mungkin akan memberikan beban kerja tambahan di saat Anda sedang sibuk-sibuknya, atau melontarkan komentar sarkastik di depan umum untuk melihat apakah Anda akan meledak.

  • Dalam Konteks Sekolah: Ini bisa datang dari siapa saja. Mereka sedang menguji kontrol diri Anda sebagai seorang pendidik.
  • Mengapa Harus Diam? Diam adalah bentuk kekuatan batin yang luar biasa. Guru yang mampu tetap tenang di bawah tekanan (stay cool under pressure) memiliki wibawa yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang reaktif. Diam Anda menunjukkan bahwa Anda adalah tuan atas emosi Anda sendiri.

Menghubungkan Diam dengan "Kurikulum Berbasis Cinta" (KBC)

Kita sering mendengungkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta. Cinta bukan berarti lemah atau membiarkan segalanya terjadi. Cinta yang sejati juga melibatkan self-love, mencintai diri sendiri dengan cara menjaga kedamaian mental.

Bagaimana mungkin kita bisa memberikan "Deep Learning" yang bermakna bagi murid jika pikiran kita penuh dengan sisa-sisa kemarahan akibat perdebatan kusir di sekolah? Dengan memilih diam pada tempatnya, kita sedang:

1. Menghemat Energi: Energi ini kita alihkan untuk memikirkan soal-soal olimpiade matematika atau menyusun media ajar yang menarik.

2. Menjadi Teladan: Murid melihat bagaimana guru mereka bersikap. Guru yang tenang dan tidak mudah tersulut konflik adalah teladan nyata dari pendidikan karakter.

3. Menjaga Kewarasan: Profesionalisme guru dimulai dari kesehatan mentalnya. Sekolah yang sehat dimulai dari guru-guru yang mampu memilah mana konflik yang perlu diselesaikan dan mana yang cukup disikapi dengan diam.

Diam adalah Jawaban Terbaik

Memilih untuk diam bukan berarti kita apatis. Kita tetap bekerja dengan standar terbaik, tetap ramah, dan tetap memenuhi kewajiban. Namun, kita menarik diri dari drama-drama yang tidak memberikan kontribusi pada kecerdasan murid atau kemajuan sekolah.

Sebagaimana angka nol dalam matematika, terlihat kosong tapi memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah nilai sebuah angka atau bilangan, demikian pula diam. Diam terlihat tidak melakukan apa-apa, tapi sebenarnya sedang menjaga nilai integritas dan kedamaian diri kita sebagai manusia.

Mari kita kembali ke kelas dengan hati yang lebih ringan. Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan murid kita adalah kehadiran utuh kita, bukan sisa-sisa energi kita yang habis terbuang untuk orang-orang yang tidak mau mengerti.

Bagaimana pendapat Anda?

Apakah Anda pernah berada dalam situasi di mana diam justru menjadi senjata paling ampuh?

miftahmath.com – Menginspirasi Matematika, Mengelola Hati.

Posting Komentar untuk "SENI MEMILIH DIAM: STRATEGI MENJAGA KEWARASAN DAN INTEGRITAS GURU DI SEKOLAH"