SENI MENJAGA INTEGRITAS DI TENGAH KEBISINGAN VALIDASI
Dunia kerja adalah panggung sandiwara yang luas, dan sekolah,
sebagai miniatur masyarakat, bukanlah pengecualian. Seringkali kita melihat
sebuah ironi yang tajam: di tempat di mana nilai-nilai luhur dan kejujuran
diajarkan kepada murid, justru di kantornya sendiri, dinamika politik kantor
yang melelahkan sering kali terjadi.
Kalimat "Kamu diam mereka berisik, kamu fokus kerja
mereka fokus jadi penjilat, kamu kerja cari rejeki mereka kerja cari
validasi" bukan sekadar curhatan di media sosial. Bagi banyak guru dan
tenaga kependidikan, hal ini adalah realitas pahit yang dihadapi setiap hari
Senin hingga Sabtu.
Namun, bagaimana kita menavigasi diri di lingkungan seperti
ini tanpa kehilangan jati diri?
1. Dikotomi "Bekerja" vs "Cari Panggung"
Dalam ekosistem sekolah, ada dua tipe pekerja yang sangat
kontras. Tipe pertama adalah "The Silent Achiever".
Mereka adalah guru-guru yang datang lebih awal untuk menyiapkan alat peraga,
yang tetap tinggal di kelas saat istirahat untuk mendengarkan keluh kesah murid,
dan yang menghabiskan malam mereka mengoreksi tumpukan tugas dengan detail.
Mereka "diam" karena energi mereka habis untuk substansi pendidikan.
Tipe kedua adalah "The Validation Seeker".
Mereka mungkin tidak memiliki kedalaman materi yang mumpuni, namun mereka
sangat mahir dalam "seni terlihat sibuk" di depan kepala sekolah atau
pengawas. Mereka adalah orang-orang yang paling "berisik" saat rapat,
bukan untuk memberikan solusi, melainkan untuk memastikan semua orang tahu
bahwa mereka ada.
Di dunia sekolah, pencari validasi tersebut sering kali
menggunakan kedekatan personal dengan pimpinan sebagai jalur pintas karir. Hal
inilah yang sering kita sebut sebagai "penjilat". Mereka mengutamakan
branding daripada learning.
2. Mengapa Lingkungan Sekolah Rentan Terhadap Budaya
"Cari Muka"?
Sekolah adalah institusi yang sangat bergantung pada hierarki
dan penilaian subjektif. Sertifikasi, kenaikan pangkat, hingga penunjukan
jabatan strategis sering kali dipengaruhi oleh rekomendasi atasan. Hal ini
menciptakan celah bagi mereka yang lebih mengandalkan kemampuan lobi daripada
kompetensi pedagogi.
Ketika "cari muka" menjadi lebih dihargai daripada
"cari ilmu", maka integritas akademik akan terancam. Guru yang jujur
dan fokus pada perkembangan murid sering kali merasa terpinggirkan karena
mereka tidak punya waktu untuk bergosip atau melakukan basa-basi politik yang
tidak perlu.
3. Strategi Bertahan untuk Sang "Pekerja Fokus"
Jika Anda merasa berada di posisi "diam dan fokus",
maka jangan berkecil hati. Berikut adalah beberapa prinsip untuk tetap waras
dan produktif:
a. Ubah "Rezeki" Menjadi "Keberkahan"
Bagi seorang guru, rezeki bukan hanya gaji bulanan yang masuk
ke rekening. Rezeki terbesar adalah ketika melihat seorang murid yang dulunya
kesulitan membaca kini bisa memahami buku atau ketika seorang murid yang nakal
kembali ke sekolah bertahun-tahun kemudian untuk sekadar berterima kasih.
Fokuslah pada keberkahan tersebut. Validasi dari manusia itu semu dan
sementara, tetapi jejak kebaikan pada seorang manusia adalah amal jariyah yang
abadi.
b. Diam Bukan Berarti Lemah
Diam adalah filter. Dengan diam, Anda menghemat energi mental
dari kebisingan yang tidak perlu. Biarkan mereka berisik dengan drama-drama
kantor. Fokuslah pada inovasi di kelas. Ingatlah prinsip: "Bekerjalah
dalam diam, biarkan keberhasilanmu yang bersuara." Ketika hasil
belajar murid Anda meningkat secara nyata, tidak ada retorika penjilat mana pun
yang bisa menutupi fakta tersebut.
c. Bangun Personal Brand melalui Karya, Bukan Kata
Jika mereka mencari validasi melalui kata-kata manis di depan
pimpinan, Anda bisa membangun "validasi" melalui karya yang nyata.
Menulislah di blog pendidikan, buatlah modul pembelajaran yang kreatif, atau
ikutlah kompetisi guru berprestasi. Hal ini adalah bentuk "bersuara"
yang elegan dan profesional.
4. Etika dan Integritas: Benteng Terakhir Pendidik
Menjadi pendidik bukan hanya soal mentransfer rumus
matematika atau sejarah. Guru adalah role model.
Jika guru di sekolah mencontohkan perilaku penjilat, maka bagaimana
mereka bisa mengajarkan kejujuran pada muridnya?
Kita harus sadar bahwa setiap tindakan kita juga diperhatikan
oleh lingkungan. Integritas adalah melakukan hal yang benar meskipun tidak ada
orang yang melihat. Pekerja yang fokus pada tugasnya adalah mereka yang
menghargai profesinya sebagai sebuah ibadah dan pengabdian.
5. Menghadapi "Rekan Kerja Berisik" dengan Bijak
Bagaimana cara berinteraksi dengan rekan kerja yang hanya
fokus mencari panggung?
1. Tetap Profesional: Jangan memusuhi,
tapi jangan juga terlalu akrab hingga Anda terseret dalam pusaran gosip mereka.
Tetapkan batasan yang jelas.
2. Dokumentasikan Pekerjaan: Karena
mereka pandai mengklaim kerja keras orang lain, pastikan Anda memiliki
dokumentasi yang rapi atas semua inovasi dan tugas yang Anda kerjakan.
3. Cari Komunitas yang Sefrekuensi:
Carilah rekan guru lain yang memiliki visi yang sama, mereka yang juga ingin
fokus bekerja. Memiliki satu atau dua teman yang tulus jauh lebih berharga
daripada dikelilingi sekumpulan penjilat.
6. Memilih Jalan yang Benar, Bukan yang Mudah
Dunia kerja memang keras. Kadang-kadang kita merasa iri
melihat mereka yang "berisik" mendapatkan promosi lebih cepat atau
perhatian lebih banyak. Namun, tanyakan pada diri sendiri:
Apakah saya ingin dihormati karena kualitas saya, atau karena
kemahiran saya dalam menjilat?
Sekolah butuh guru-guru yang "diam dalam bekerja"
namun "nyata dalam berkarya". Sekolah butuh orang-orang yang mencari
rezeki melalui keringat dedikasi, bukan melalui validasi palsu.
Teruslah fokus. Teruslah belajar. Karena pada akhirnya,
sejarah pendidikan tidak akan mencatat siapa yang paling berisik di ruang
rapat, tetapi siapa yang paling dalam menyentuh hati para murid di ruang kelas.
Catatan Penutup: Setiap langkah kecil Anda di kelas adalah investasi masa depan. Jangan biarkan politik kantor yang kotor memadamkan api semangat Anda untuk mendidik.
.png)

Posting Komentar untuk "SENI MENJAGA INTEGRITAS DI TENGAH KEBISINGAN VALIDASI"
Posting Komentar