FILOSOFI "BIASA SAJA" DI SEKOLAH: MENGAPA KADANG GURU PERLU DIAM UNTUK MEMENANGKAN PERMAINAN

Dunia pendidikan sering kali menuntut kita untuk selalu tampil "luar biasa". Sebagai guru, kita didorong untuk menjadi yang paling kreatif, paling vokal dalam rapat, paling inovatif dalam teknologi, dan paling menonjol dalam setiap prestasi. Namun, pernahkah Anda merasa bahwa menjadi terlalu menonjol justru membuat Anda menjadi "sasaran empuk"?

Dalam sebuah pemikiran yang menarik, muncul sebuah perspektif bahwa memilih untuk menjadi "biasa saja" di kantor (atau dalam hal ini, di sekolah) bukanlah sebuah tanda ketertinggalan. Sebaliknya, pilihan tersebut bisa jadi adalah strategi yang matang untuk memahami medan sebelum melangkah lebih jauh. Mari kita bedah mengapa strategi tersebut relevan bagi kita di dunia sekolah.

1. Menghindari Menjadi "Sasaran Empuk"

Ketika seseorang terlalu menonjol, ia sering kali menjadi target. Di lingkungan sekolah, hal ini sangat nyata. Guru yang terlalu vokal atau terlalu cepat menunjukkan "taringnya" sering kali mendapatkan beban kerja tambahan yang tidak proporsional atau bahkan menjadi objek kecemburuan sosial.

Menjadi "biasa saja" bukan berarti kita malas. Menjadi “biasa saja” adalah cara kita untuk menjaga energi. Sekolah adalah tempat dengan dinamika sosial yang kompleks. Dengan tidak terlalu mengekspos setiap kelebihan kita di awal, kita memiliki perlindungan diri dari ekspektasi yang belum saatnya kita pikul.

2. Diam adalah Ruang untuk Membaca "Papan Catur"

Salah satu poin paling kuat adalah: “Diam bisa memberimu ruang kosong untuk membaca permainan.”

Bayangkan sekolah sebagai papan catur yang besar. Ada kurikulum yang berubah, kebijakan kepala sekolah, aspirasi orang tua, hingga karakter murid yang beragam. Guru yang terus-menerus bicara dan tampil menonjol sering kali kehilangan detail-detail kecil yang penting karena mereka terlalu sibuk menjadi pusat perhatian.

Dengan memilih untuk tampak "biasa saja", seorang guru sebenarnya sedang melakukan observasi mendalam:

  • Siapa yang benar-benar bekerja dengan hati?
  • Mana kebijakan yang efektif dan mana yang hanya formalitas?
  • Bagaimana dinamika antar murid yang sebenarnya terjadi di luar kelas?

3. Strategi "Memetakan Papan Catur" di Lingkungan Pendidikan

Kita tahu bahwa matematika bukan hanya soal angka, tapi soal logika dan strategi. Begitu juga dengan karier dan pengabdian sebagai guru.

Guru yang tampak biasa saja hari ini mungkin adalah sosok yang sedang menyusun modul pembelajaran paling efektif di rumah. Mereka mungkin sedang mendalami literatur terbaru tentang psikologi anak atau metode pengajaran yang lebih humanis, seperti Kurikulum Berbasis Cinta. Mereka tidak butuh pengakuan instan dalam rapat-rapat rutin; mereka sedang memetakan papan catur.

4. Efek Kejut: Ketika Waktunya Tiba

“Dan bila waktunya tiba, maka dia akan...”

Seorang guru yang cerdas tahu kapan harus mengeluarkan "kartu as"-nya. Ketika sebuah masalah besar muncul di sekolah yang tidak bisa diselesaikan oleh mereka yang selama ini hanya pandai bicara, di situlah guru yang "biasa saja" tersebut tampil dengan solusi yang matang. Hasil dari pengamatan diam mereka selama ini akan membuahkan hasil yang presisi.

5. Menjadi Biasa untuk Tetap Rendah Hati

Dalam dunia pendidikan, ego adalah musuh terbesar. Terlalu ingin menonjol sering kali membuat kita lupa bahwa fokus utama kita adalah murid, bukan pengakuan dari rekan sejawat atau pimpinan.

Filosofi "biasa saja" mengajarkan kita untuk tetap membumi. Kita bekerja dalam senyap, memastikan setiap murid paham konsep matematika yang kita ajarkan, tanpa harus berteriak di depan publik bahwa kita adalah guru terbaik. Kualitas kerja kita adalah bukti nyata, bukan citra yang kita bangun.

Kesimpulan untuk Rekan Pendidik

Jangan berkecil hati jika saat ini Anda merasa tidak setenar rekan lain yang selalu tampil di depan. Jika Anda merasa sedang "biasa saja" di lingkungan sekolah Anda, maka pastikan Anda sedang menggunakan waktu tersebut untuk mengamati, belajar, dan memetakan langkah.

Yang dianggap tertinggal hari ini, bisa jadi adalah mereka yang sedang mempersiapkan lompatan terjauh. Seperti dalam permainan catur, bukan siapa yang paling banyak bicara yang menang, tapi siapa yang paling tepat menempatkan langkahnya di saat yang krusial.

Tetaplah menginspirasi dalam senyap!

Posting Komentar untuk "FILOSOFI "BIASA SAJA" DI SEKOLAH: MENGAPA KADANG GURU PERLU DIAM UNTUK MEMENANGKAN PERMAINAN"