MEETING DI SEKOLAH: FENOMENA "SIAP PAK" YANG TIDAK DIIKUTI DENGAN EKSEKUSI SERIUS
Dalam dunia manajemen profesional, ada sebuah kutipan menarik
yang belakangan ini viral:
"Buat apa meeting selalu 'siap pak' kalau eksekusinya
nggak serius?"
Kalimat tersebut mungkin terdengar tajam, namun jika kita
bawa ke dalam koridor sekolah, kalimat itu menjadi cermin retak yang
merefleksikan realitas banyak rapat guru di Indonesia.
Seringkali, rapat di sekolah berjalan sangat tenang. Kepala
sekolah memaparkan program dan para guru kompak menjawab, "Siap,
Pak," atau "Setuju, Bu." Tidak ada debat, tidak ada
sanggahan, semua tampak harmonis. Namun, begitu rapat usai, program tersebut
berjalan di tempat atau bahkan hilang ditelan kesibukan rutin.
Mengapa fenomena "Yes Men" ini bisa merusak
kualitas pendidikan?
Dan bagaimana seharusnya sebuah rapat sekolah yang sehat itu
berlangsung?
Mari kita bedah lebih dalam.
1. Ilusi Harmoni: Musuh Tersembunyi Kemajuan Sekolah
Banyak sekolah yang terjebak dalam apa yang disebut sebagai Ilusi
Harmoni. Ilusi Harmoni adalah kondisi di mana semua orang terlihat setuju
hanya karena ingin menjaga perasaan, menghindari konflik, atau sekadar ingin
rapat cepat selesai agar bisa segera kembali mengajar (atau pulang).
Rapat seharusnya menjadi tempat untuk penyelesaian masalah
dan penentuan keputusan. Jika di dalam rapat semua orang sudah setuju sejak
awal, maka sebenarnya tidak ada yang perlu dibicarakan.
Di sekolah, jika seorang kepala sekolah mengusulkan metode
evaluasi baru dan semua guru langsung setuju tanpa menanyakan detail teknisnya,
kemungkinan besar mereka tidak benar-benar paham atau yang lebih buruk, mereka
berencana untuk tidak melakukannya sama sekali. Hal ini adalah "eksekusi
nol besar" yang harus dihindari.
2. Rapat Sekolah: Antara "Tausiyah" dan Dialog
Interaktif
Salah satu poin menarik adalah sindiran mengenai rapat yang
isinya hanya mendengarkan "tausiyah" atau ceramah satu arah. Di
sekolah, seringkali rapat guru berubah menjadi sesi pengarahan panjang dari
pimpinan tanpa ruang diskusi bagi guru.
Guru adalah praktisi di lapangan. Mereka yang paling tahu
dinamika di dalam kelas, karakter murid yang beragam, dan kendala kurikulum
yang nyata. Jika rapat hanya berisi instruksi satu arah, maka:
- Kreativitas
guru mati: Guru
merasa ide mereka tidak diperlukan.
- Rasa
memiliki (sense of ownership) rendah: Guru merasa hanya sebagai
"pelaksana tugas", bukan "arsitek pendidikan".
- Masalah
tidak terselesaikan: Masalah nyata di kelas tidak pernah naik ke meja rapat karena ruang
dialog tertutup oleh budaya "asal bapak senang".
3. Mengapa Perbedaan Pandangan Itu Sehat?
Rapat yang sehat justru diisi dengan perbedaan pandangan,
perbedaan sudut pandang, dan perbedaan cara penanganan.
Dalam konteks sekolah, bayangkan jika seorang guru matematika
berdebat dengan guru Bimbingan Konseling (BK) tentang cara menangani murid yang
malas mengerjakan tugas.
- Guru
Matematika mungkin menekankan pada kedisiplinan dan logika konsekuensi.
- Guru
BK mungkin menekankan pada pendekatan psikologis dan latar belakang
keluarga.
Debat tersebut mungkin terasa "panas", tetapi
inilah yang disebut Dialog Produktif. Dari sinilah akan lahir solusi
yang komprehensif. Sekolah yang maju adalah sekolah yang mengizinkan
guru-gurunya untuk "tidak setuju" di dalam ruang rapat, demi mencapai
kesepakatan terbaik bagi murid.
4. Membangun Budaya "Saling Percaya" sebagai
Fondasi
Ada satu syarat mutlak agar debat di rapat sekolah tidak
berubah menjadi permusuhan pribadi: Saling Percaya.
Debat yang sehat harus didasari pada niat memberikan nilai
tambah (value added) bagi sekolah, bukan untuk menjatuhkan rekan
sejawat. Jika guru saling percaya bahwa setiap masukan bertujuan untuk kebaikan
murid, maka argumen yang tajam sekalipun akan diterima dengan lapang dada.
Kepala sekolah berperan penting di sini. Ia harus mampu
memoderasi rapat sehingga setiap guru merasa aman untuk berbicara tanpa takut
diintimidasi atau dicap sebagai "pembangkang".
5. Dari "Siap Pak" Menjadi "Siap
Eksekusi"
Hasil rapat bukan dilihat dari notulensi yang rapi, melainkan
dari eksekusi yang nyata.
Berikut adalah beberapa tips untuk mengubah budaya rapat
sekolah agar lebih berorientasi pada eksekusi:
1. Hadirkan Gagasan, Bukan Sekadar
Badan: Pastikan setiap peserta rapat membawa gagasan atau pandangan. Mintalah
guru untuk menyiapkan laporan singkat atau ide sebelum rapat dimulai.
2. Gunakan Pertanyaan Terbuka: Kepala
sekolah harus menghindari pertanyaan seperti, "Apakah semua
setuju?" Ganti dengan, "Apa kendala yang kira-kira akan muncul
jika kita menerapkan program ini?"
3. Tentukan Penanggung Jawab dan Tenggat
Waktu: Rapat harus menghasilkan daftar tindakan (action plan) yang
jelas. Siapa melakukan apa dan kapan harus selesai.
4. Evaluasi Berkala: Jangan tunggu rapat
bulan depan untuk mengecek kemajuan. Lakukan monitoring kecil untuk memastikan
"siap" di ruang rapat benar-benar menjadi "jalan" di
lapangan.
6. Mari Bicara Lebih Banyak, Eksekusi Lebih Serius
Sekolah bukan sekadar gedung, melainkan sebuah organisme yang
tumbuh dari kolaborasi ide-ide di dalamnya. Jika kita masih terjebak dalam
budaya "Yes Men", sekolah kita akan tertinggal oleh zaman yang terus
menuntut inovasi.
Mari kita jadikan setiap rapat guru sebagai arena intelektual
yang bergairah. Jangan takut pada konflik ide, karena dari sanalah percikan
solusi hebat akan muncul. Jangan biarkan rapat kita hanya menjadi formalitas
yang membosankan dengan eksekusi yang nol besar.
Ingat, setiap menit yang kita habiskan di ruang rapat tanpa hasil yang nyata adalah waktu yang kita curi dari masa depan murid-murid kita.

Posting Komentar untuk "MEETING DI SEKOLAH: FENOMENA "SIAP PAK" YANG TIDAK DIIKUTI DENGAN EKSEKUSI SERIUS"
Posting Komentar