SEKOLAH MAIN-MAIN: KETIKA PEMBELAJARAN DAN ASESMEN HANYA JADI FORMALITAS BELAKA

Pernahkah Anda membayangkan sebuah sekolah yang setiap pagi mengibarkan bendera merah putih, para guru masuk kelas dengan tertib, murid duduk rapi di kursi masing-masing, namun sesungguhnya tidak ada proses pembelajaran bermakna yang terjadi? Mungkin terdengar seperti skenario distopia pendidikan, tetapi kenyataan pahit tersebut sudah menjadi rahasia umum di sebagian institusi pendidikan kita.

Fenomena sekolah yang tidak serius dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, termasuk dalam menyiapkan asesmen seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs), bagaikan bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan masa depan generasi bangsa. Mari kita bedah persoalan tersebut secara jujur dan mendalam.

Potret Buram Sekolah yang Main-Main

Di era kompetisi global seperti sekarang, ironisnya masih banyak sekolah yang menjalankan roda pendidikan bagaikan mesin tua yang hanya bergerak karena inertia, kebiasaan semata. Rencana pembelajaran disusun asal jadi, hanya untuk memenuhi tuntutan administratif. Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di-download dari internet, diganti kopnya, lalu dianggap selesai. Padahal, dokumen tersebut tidak pernah benar-benar menjadi panduan dalam proses belajar-mengajar.

Guru masuk kelas tanpa persiapan matang, mengajar dengan metode monoton, dan cenderung asal menyampaikan materi. Tidak ada inovasi, tidak ada upaya memahami karakteristik murid, dan yang paling menyedihkan, tidak ada keinginan untuk memastikan apakah murid benar-benar memahami apa yang diajarkan.

Ketika waktu asesmen tiba, kekacauan pun terjadi. Soal-soal asesmen disusun secara tergesa-gesa, tanpa melalui proses validasi yang memadai, tidak mengacu pada indikator pencapaian kompetensi yang jelas, dan bahkan kadang tidak mencerminkan materi yang telah diajarkan. Lebih parah lagi, dalam beberapa kasus ekstrem, praktik "bocor soal" atau memberikan kisi-kisi yang terlalu detail hingga hampir sama persis dengan soal ujian menjadi rahasia umum yang ditoleransi.

Akibat Fatal yang Tidak Bisa Diremehkan

Mari kita jujur, main-main dengan dunia pendidikan sama artinya dengan main-main dengan masa depan bangsa. Akibat dari kelalaian tersebut sungguh fatal dan multidimensi.

Pertama, terbentuknya generasi yang rapuh secara akademik. Murid mungkin lulus dari SMP/MTs dengan nilai rapor dan ijazah yang indah, namun ketika harus bersaing di jenjang pendidikan berikutnya, misalnya melalui seleksi masuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) favorit yang mengandalkan TKA atau tes sejenis, mereka akan kesulitan. Pondasi pengetahuan yang tidak kokoh di SMP/MTs akan menyebabkan bangunan pemahaman mereka di SMA/SMK menjadi timpang dan mudah runtuh.

Kedua, hilangnya kesempatan emas untuk perbaikan. Asesmen yang baik seharusnya menjadi alat diagnosis untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan murid. Dengan TKA yang asal-asalan, sekolah tidak bisa memetakan area mana yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran. Ibarat dokter yang mendiagnosis pasien dengan alat rusak, resep yang diberikan pun pasti meleset.

Ketiga, krisis kepercayaan. Ketika masyarakat, terutama orang tua, menyadari bahwa sekolah hanya menjalankan rutinitas tanpa makna, kepercayaan pada institusi pendidikan formal akan luntur. Hal ini berbahaya karena dapat memicu turunnya kepercayaan karena orang tua merasa tidak mendapatkan value yang sepadan dengan biaya yang mereka keluarkan.

Keempat, dampak psikologis pada murid. Murid bukanlah makhluk bodoh yang tidak peka. Mereka bisa merasakan ketika guru tidak serius mengajar atau ketika asesmen hanya formalitas belaka. Hal ini dapat membentuk karakter yang tidak menghargai proses, instant gratification, dan terbiasa dengan jalan pintas. Mentalitas "yang penting nilai bagus" tanpa memperhatikan proses belajar akan tertanam dan terbawa hingga mereka dewasa.

Kelima, ketimpangan kualitas lulusan. Sekolah yang serius mempersiapkan TKA akan menghasilkan lulusan yang siap bersaing. Sementara sekolah yang main-main hanya akan menghasilkan lulusan yang secara administratif "lulus", tetapi secara kompetensi jauh tertinggal. Ketika mereka bertemu di dunia nyata, misalnya di dunia kerja nanti, kesenjangan ini akan terlihat nyata dan menyakitkan.

Solusi: Kembali ke Ruh Pendidikan

Lantas, apa yang harus dilakukan? Apakah kita hanya bisa pasrah dan menunggu kehancuran sistem pendidikan? Tentu tidak. Masih ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan ini.

Pertama, pengawalan ketat terhadap perencanaan pembelajaran. Kepala sekolah dan pengawas harus benar-benar memastikan bahwa perencanaan pembelajaran (RPP, silabus, program tahunan dan semester) disusun secara sungguh-sungguh oleh guru, bukan hasil copy-paste. Supervisi akademik harus dilakukan secara reguler dan konstruktif, bukan hanya formalitas dua kali setahun.

Kedua, peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan. Guru harus didorong untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Workshop, pelatihan, dan seminar yang relevan harus diikuti, dan yang lebih penting, hasil pelatihan tersebut harus diimplementasikan di kelas. Sekolah perlu menciptakan budaya belajar di kalangan guru, bukan hanya di kalangan murid.

Ketiga, revitalisasi fungsi Kelompok Kerja Guru (KKG) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Forum-forum ini harus dihidupkan kembali sebagai wadah kolaborasi profesional antar guru. Di sinilah mereka bisa saling berbagi praktik baik, mendiskusikan tantangan pembelajaran, dan bersama-sama mengembangkan instrumen asesmen yang berkualitas. Untuk TKA misalnya, soal-soal bisa dikembangkan bersama dalam forum MGMP, melalui proses telaah dan validasi yang ketat.

Keempat, perbaikan sistem evaluasi dan pelaporan hasil asesmen. Hasil TKA tidak boleh hanya berhenti sebagai angka di sertifikat. Harus ada analisis mendalam tentang capaian kompetensi murid per indikator. Hasil analisis tersebut kemudian menjadi umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran di semester berikutnya. Sekolah juga perlu melaporkan hasil analisis tersebut kepada orang tua secara transparan, sehingga orang tua memahami posisi dan perkembangan anak mereka secara objektif.

Kelima, penanaman kembali nilai-nilai kejujuran dan integritas. Sekolah harus menjadi benteng terakhir dalam menanamkan nilai-nilai ini. Praktik-praktik tidak jujur seperti membocorkan soal atau memberikan nilai tanpa proses yang benar harus dihentikan. Sekolah harus berani mengatakan bahwa proses belajar jauh lebih penting daripada sekadar angka di atas kertas.

Keenam, optimalisasi peran komite sekolah dan orang tua. Orang tua harus dilibatkan secara aktif dalam proses pendidikan, bukan hanya sebagai sumber dana. Sekolah perlu membangun komunikasi yang intens dengan orang tua, termasuk dalam hal persiapan asesmen seperti TKA. Orang tua perlu diedukasi bahwa belajar bukan hanya untuk ujian, tetapi untuk membangun kompetensi.

Ketujuh, pemanfaatan teknologi secara bijak. Di era digital, banyak platform asesmen online yang bisa dimanfaatkan untuk menyusun dan melaksanakan TKA secara lebih efisien dan terstandar. Teknologi juga bisa membantu analisis hasil ujian secara lebih cepat dan akurat. Namun, teknologi hanyalah alat, yang terpenting adalah komitmen dan kesungguhan manusianya.

Refleksi Akhir

Sekolah yang tidak serius dalam pembelajaran dan asesmen bagaikan petani yang malas menanam dan merawat, tapi berharap panen melimpah. Mustahil! Pendidikan adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan. TKA untuk jenjang SMP/MTs bukanlah momok yang harus ditakuti, melainkan alat untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan baik.

Kita semua, guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, dan masyarakat, memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa sekolah benar-benar menjadi tempat yang menyiapkan generasi penerus bangsa dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi korban dari kelalaian dan kemalasan kita.

Mari kita jadikan momen persiapan TKA dan asesmen-asesmen lainnya sebagai momentum untuk introspeksi dan perbaikan. Mari kita buktikan bahwa sekolah kita adalah sekolah yang sungguh-sungguh, yang menjalankan amanah pendidikan dengan penuh tanggung jawab. Karena masa depan bangsa ini sedang dipertaruhkan di dalam kelas-kelas kita.

Artikel ini ditulis sebagai pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh dimain-mainkan. Semoga bermanfaat dan menginspirasi perubahan positif di dunia pendidikan.

Posting Komentar untuk "SEKOLAH MAIN-MAIN: KETIKA PEMBELAJARAN DAN ASESMEN HANYA JADI FORMALITAS BELAKA"