MENGUPAS FENOMENA "FRIENDLY FIRE" DI SEKOLAH: MENGENALI TOPENG KEBAIKAN DALAM EKOSISTEM GURU

Dunia sekolah sering kali dianggap sebagai oase moral. Sebagai pendidik, kita terbiasa bicara tentang budi pekerti, integritas, dan ketulusan. Namun, bagi kita yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di sekolah, kita tahu bahwa realitanya tidak selalu seputih seragam yang kita pakai. Di balik keramahan saat rapat atau senyum di koridor, terkadang tersimpan dinamika yang melelahkan: rekan kerja atau atasan yang tampaknya sangat baik, namun secara perlahan mengikis kesehatan mental dan profesionalisme kita.

Dalam psikologi populer, hal ini sering disebut sebagai perilaku manipulatif atau toxic positivity. Namun, dalam artikel kali ini, kita akan membedah lebih dalam berdasarkan pola-pola spesifik "orang yang aslinya jahat tapi berpura-pura baik" dan bagaimana manifestasinya terjadi di lingkungan sekolah.

1. Kebaikan yang Membutuhkan Panggung (The Performer)

Ciri pertama yang sering muncul adalah kebaikan yang selalu membutuhkan audiens. Di sekolah, hal ini adalah tipe rekan yang sangat rajin menolong, tetapi pertolongannya harus diketahui oleh Kepala Sekolah atau diumumkan di grup WhatsApp resmi sekolah.

Mereka mungkin akan membantu menyusun perangkat ajar Anda, tetapi kemudian akan mengungkitnya di depan forum: "Untung kemarin saya bantu edit RPP-nya Pak Miftah, jadi akreditasinya lancar." Jika mereka melakukan sesuatu yang baik namun tidak mendapatkan apresiasi atau pujian yang mereka harapkan, mereka akan langsung berubah dingin atau bahkan "ngambek" secara profesional.

Ketahuilah bahwa kebaikan yang tulus di lingkungan sekolah biasanya bersifat senyap. Guru yang benar-benar peduli akan membantu Anda tanpa perlu membuat laporan pandangan mata kepada semua orang.

2. Mulut Manis, Tindakan Melukai (The Gaslighter)

Ini adalah jenis yang paling berbahaya di sekolah. Mereka berbicara dengan nada sangat lembut, sopan, bahkan sering membawa narasi religius atau kebijaksanaan. Namun, keputusan yang mereka ambil sering kali merugikan orang lain secara sistematis.

Contoh konkret: Seorang rekan senior dengan lembut berkata, "Saya rasa demi perkembangan karirmu, kamu lebih cocok memegang kelas yang paling menantang (baca: nakal) tahun ini. Saya mendoakanmu agar sukses." Padahal, tujuannya adalah agar ia sendiri mendapatkan kelas yang lebih mudah. Tindakannya adalah bentuk manipulasi yang dibungkus dengan "demi kebaikanmu". Jika Anda merasa keberatan, maka mereka akan menggunakan teknik gaslighting dengan mengatakan Anda terlalu sensitif atau kurang ikhlas dalam mengabdi.

3. Menjatuhkan Secara Halus (The Subtle Saboteur)

Pernahkah Anda dikritik dengan kalimat: "Saya cuma jujur kok, ini demi kebaikanmu"? Di dunia kerja guru, kritik destruktif sering dibungkus sebagai "evaluasi sejawat".

Tipe tersebut tidak akan menghina Anda secara langsung. Mereka akan menggunakan kalimat-kalimat yang membuat Anda ragu pada kemampuan diri sendiri. Saat Anda mencoba inovasi metode pembelajaran baru di kelas, mereka mungkin akan berkomentar, "Metodenya bagus, tapi apa anak-anak kita mampu? Jangan-jangan cuma bikin mereka bingung. Saya cuma jujur supaya kamu tidak malu nanti kalau dipantau pengawas." Kalimat tersebut bertujuan mematikan kreativitas Anda sebelum sempat berkembang, namun disampaikan dengan wajah penuh "kepedulian".

4. Hierarki Kebaikan (The Upward Kisser)

Karakter asli seseorang terlihat dari caranya memperlakukan mereka yang tidak bisa membalas atau yang kedudukannya lebih rendah. Di sekolah, perhatikan bagaimana seorang guru memperlakukan penjaga sekolah, petugas kebersihan, atau guru honorer yang baru masuk.

Ada tipe guru yang sangat ramah, santun, dan suportif kepada Kepala Sekolah atau pejabat dinas (karena menguntungkan), tetapi sangat kasar, meremehkan, dan semena-mena kepada staf tata usaha atau rekan kerja yang ia anggap "lemah". Jika seseorang hanya baik kepada mereka yang punya kuasa, maka kebaikannya itu bukanlah karakter, melainkan strategi politik.

5. Narasi Korban Abadi (The Professional Victim)

Dunia sekolah penuh dengan konflik kepentingan. Tipe "korban abadi" tidak pernah mau mengakui kesalahan. Jika ada proyek sekolah yang gagal atau kelas yang kacau, ia akan selalu punya kambing hitam.

"Saya sudah berusaha maksimal, tapi karena timnya tidak solid, jadi berantakan." Mereka tidak pernah benar-benar minta maaf. Jika ditegur, maka mereka akan memutarbalikkan fakta sehingga mereka terlihat sebagai pihak yang paling tersakiti oleh keadaan. Di sekolah, orang seperti ini sangat melelahkan karena mereka menyerap energi empati kita untuk kepentingan ego mereka sendiri.

6. Kebaikan Bersyarat (The Controller)

Kebaikan mereka ada harganya: kepatuhan Anda. Mereka akan sangat baik kepada Anda selama Anda setuju dengan pendapat mereka, berguna bagi kepentingan mereka, dan tidak berbeda pandangan.

Namun, cobalah sesekali mengatakan "tidak" pada permintaan mereka atau memberikan argumen yang berbeda saat rapat. Seketika itu juga, "topeng" mereka akan jatuh. Mereka akan langsung memusuhi Anda dan menyebarkan desas-desus di sekolah. Kebaikan mereka bukanlah kasih, melainkan alat kontrol.

7. Senang di Atas Kegagalan (The Secret Celebrator)

Ini adalah perilaku schadenfreude yang disembunyikan. Saat ada guru lain yang ditegur atasan atau mendapat nilai buruk dalam Penilaian Kinerja Guru (PKG), mereka akan datang dengan ucapan "Turut prihatin ya..." namun dengan nada yang hambar atau mata yang berbinar penuh rasa puas.

Mereka sering membungkus gosip dengan label "kepedulian". "Eh, kalian dengar tidak soal Pak X? Kasihan ya dia sampai begitu. Kita harus doakan ya..." Padahal, tujuan utamanya adalah menyebarkan berita kegagalan orang lain agar dirinya terlihat lebih unggul secara moral atau profesional.

8. Moralitas Sebagai Alat, Bukan Prinsip

Tipe terakhir adalah mereka yang selalu bicara tentang etika, agama, dan nilai-nilai luhur pendidikan di depan umum, namun di belakang melakukan hal yang sebaliknya. Mereka bicara tentang integritas dalam ujian, tapi di belakang mereka memanipulasi nilai murid demi citra sekolah. Mereka bicara tentang kesejahteraan guru, tapi secara licik memotong hak rekan lainnya. Bagi mereka, nilai-nilai moral hanyalah alat untuk membangun citra sebagai "orang baik", bukan prinsip hidup yang benar-benar dijalankan.

Catatan Penting untuk Kita Semua

Sebagai guru, kita harus bijak. Membaca ciri-ciri di atas bukan berarti kita harus menjadi paranoid dan mencurigai semua rekan kerja. Perlu diingat bahwa satu atau dua ciri saja belum tentu menandakan seseorang itu jahat. Kita semua pernah mengalami hari yang buruk atau salah ucap.

Yang berbahaya adalah jika ciri-ciri tersebut membentuk pola yang konsisten. Jika ada seseorang di lingkungan sekolah Anda yang secara rutin menunjukkan perilaku tersebut dan efeknya membuat orang lain merasa terluka, kehilangan harga diri, atau merasa tidak berdaya, maka Anda sedang berhadapan dengan "topeng" tersebut.

Bagaimana Menghadapinya?

1. Tetapkan Batasan (Boundaries): Bersikaplah profesional. Anda tidak perlu menjadi teman dekat dengan semua orang. Cukup jadilah rekan kerja yang baik namun tetap waspada terhadap informasi pribadi yang Anda bagikan.

2. Fokus pada Karya: Kita percaya bahwa kualitas seorang guru dilihat dari dampaknya kepada murid. Biarkan karya dan dedikasi Anda di kelas yang berbicara.

3. Dokumentasi: Jika Anda berhadapan dengan tipe manipulatif, pastikan semua koordinasi pekerjaan dilakukan secara tertulis (email atau chat) untuk menghindari pemutarbalikan fakta.

4. Cari Lingkaran Sehat: Temukan rekan-rekan yang memiliki integritas murni. Mereka yang berani menegur Anda saat salah, tapi tulus mendukung saat Anda jatuh.

Mengajar bukan hanya soal mentransfer ilmu, tetapi juga tentang menavigasi kemanusiaan di sekolah. Dengan mengenali pola-pola tersebut, kita bisa melindungi kesehatan mental kita agar tetap bisa memberikan yang terbaik untuk murid-murid kita.

Tetap semangat mengabdi dengan ketulusan yang tenang, bukan kebaikan yang ribut.

Posting Komentar untuk "MENGUPAS FENOMENA "FRIENDLY FIRE" DI SEKOLAH: MENGENALI TOPENG KEBAIKAN DALAM EKOSISTEM GURU"