KURSI PANAS DI AMBANG PURNA: DILEMA JABATAN GURU SENIOR DAN MANDEGNYA KADERISASI SEKOLAH

Dunia pendidikan adalah sebuah ekosistem yang dinamis, namun sering kali terperangkap dalam romantisasi masa lalu. Di sekolah, kita sering menjumpai sosok-sosok tangguh: guru senior yang telah mengabdi puluhan tahun, saksi hidup pergantian kurikulum dari Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) hingga Kurikulum Merdeka. Namun, di balik rasa hormat yang mendalam, tersimpan sebuah fenomena "gajah di dalam ruangan" (elephant in the room) yang jarang dibicarakan secara terbuka: Fenomena keengganan melepas jabatan menjelang purna tugas.

Jabatan sebagai Wakil Kepala Sekolah, Ketua Jurusan, Bendahara, hingga Koordinator Kurikulum seolah menjadi "zona nyaman" yang sulit dilepaskan, bahkan ketika Surat Keputusan (SK) pensiun tinggal menghitung bulan.

Mengapa hal ini terjadi, dan apa dampaknya bagi kesehatan organisasi sekolah?

1. Psikologi "Post-Power Syndrome" Sebelum Waktunya

Secara manusiawi, bekerja selama puluhan tahun menciptakan identitas diri yang melekat kuat pada jabatan. Bagi sebagian guru senior, jabatan bukan sekadar tugas tambahan, melainkan simbol eksistensi dan otoritas.

Ada ketakutan bawah sadar bahwa ketika jabatan dilepaskan, mereka akan kehilangan relevansi di sekolah. Mereka khawatir tidak lagi didengar, tidak lagi dianggap penting, atau merasa "kosong" sebelum benar-benar meninggalkan gerbang sekolah. Hal inilah yang kita sebut sebagai anticipatory post-power syndrome, kecemasan akan hilangnya kekuasaan sebelum masa tugas berakhir.

2. Dampak Terhadap Kaderisasi: Rantai yang Terputus

Akibat paling nyata dari fenomena ini adalah stagnasi kaderisasi. Sekolah bukanlah milik pribadi, melainkan institusi yang harus terus hidup melampaui usia personelnya. Ketika guru senior memegang jabatan hingga detik terakhir, terjadi beberapa kerugian sistemik:

  • Hilangnya Masa Transisi: Idealnya, satu atau dua tahun sebelum pensiun, guru senior bertindak sebagai mentor bagi suksesornya. Jika jabatan baru dilepas tepat saat pensiun, guru pengganti akan "terjun bebas" tanpa bimbingan langsung, yang sering kali berujung pada kekacauan administrasi.
  • Demotivasi Guru Muda: Guru-guru muda yang memiliki energi meluap, penguasaan teknologi mutakhir, dan inovasi segar sering kali merasa terhambat. Mereka merasa jalan untuk berkontribusi lebih luas tertutup oleh "tembok besar" senioritas.
  • Kesenjangan Kompetensi Digital: Di era digitalisasi pendidikan, banyak jabatan memerlukan kelincahan teknologi. Memaksakan jabatan tetap di tangan yang kurang lincah secara digital hanya akan memperlambat ritme kerja sekolah secara keseluruhan.

3. Analisis "Comfort Zone" vs "Growth Zone"

Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus berputar. Mari kita lihat perbandingannya dalam tabel berikut:

Aspek

Status Quo (Jabatan Dipertahankan)

Transformasi (Kaderisasi Dini)

Budaya Kerja

Birokratis dan kaku

Inovatif dan adaptif

Transfer Ilmu

Terputus mendadak saat pensiun

Berlangsung secara organik (mentoring)

Kesehatan Mental

Kelelahan di usia senja

Kebanggaan sebagai mentor/penasihat

Efisiensi

Tergantung pada figur personal

Tergantung pada sistem yang solid

 4. Peran Kepala Sekolah: Ketegasan dalam Kelembutan

Kepala Sekolah memegang kunci utama dalam menyelesaikan kebuntuan tersebut. Sering kali, Kepala Sekolah merasa "sungkan" atau tidak enak hati untuk mengganti guru senior karena faktor senioritas atau jasa masa lalu. Namun, kepemimpinan yang efektif harus mengutamakan kepentingan institusi.

Kepala Sekolah perlu melakukan pendekatan persuasif yang memanusiakan. Alih-alih "mencopot", bahasanya harus diubah menjadi "mempersiapkan estafet". Guru senior harus diberi pengertian bahwa warisan (legacy) terbaik mereka bukanlah jabatan yang dipegang hingga akhir, melainkan lahirnya pemimpin-pemimpin baru yang tumbuh di bawah bimbingan mereka.

5. Menghidupkan Budaya "Sepuh yang Mengasuh"

Kita perlu mendefinisikan ulang peran guru senior di akhir masa baktinya. Daripada sibuk dengan urusan teknis jabatan yang menguras fisik, guru senior seharusnya diposisikan sebagai Empu atau Penasihat Agung.

Di sinilah peran coaching dan mentoring menjadi krusial. Guru senior tetap memiliki panggung, namun panggungnya bukan lagi sebagai pelaksana, melainkan sebagai pengamat dan pemberi arah. Dengan cara ini, mereka tetap merasa dihormati dan dibutuhkan tanpa harus menghambat regenerasi.

6. Dampak pada Kualitas Pembelajaran dan Murid

Pada akhirnya, segala dinamika di sekolah akan berimbas pada murid. Jabatan manajerial yang dipegang oleh guru yang sudah kelelahan secara fisik dan mental cenderung bersifat "administratif belaka".

Jika guru senior mau melepaskan jabatan lebih awal (misalnya 2 tahun sebelum pensiun), mereka bisa kembali fokus pada tugas utama: Mengajar dengan penuh kasih sayang di sisa waktu mereka. Murid akan mendapatkan perhatian penuh, sementara urusan manajerial diurus oleh mereka yang masih memiliki energi sirkular yang tinggi.

7. Menyiapkan Estafet dengan Terhormat

Pensiun bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah transisi menuju fase kehidupan yang baru. Memaksakan diri memegang jabatan hingga napas terakhir pengabdian hanya akan meninggalkan beban bagi rekan sejawat dan organisasi.

Sebaliknya, melepaskan jabatan dengan sukarela untuk diberikan kepada yang lebih muda adalah bentuk integritas tertinggi seorang pendidik. Itu adalah bukti bahwa sang guru bukan hanya mengajarkan teori tentang ikhlas di dalam kelas, tapi juga mempraktikkannya dalam realitas organisasi.

Mari jadikan sekolah kita sebagai tempat di mana yang senior dihormati karena kebijaksanaannya melepaskan, dan yang muda dihargai karena keberaniannya memimpin. Estafet harus terus berjalan, karena pendidikan adalah lari maraton yang tidak pernah mengenal garis finis.

"Seorang guru yang hebat tidak hanya mencetak murid yang cerdas, tetapi juga menyiapkan pengganti yang lebih hebat dari dirinya sendiri."

Bagaimana Menurut Anda?

Apakah di sekolah Anda juga terjadi fenomena serupa?

Bagaimana cara terbaik menyikapi senioritas tanpa mengorbankan kualitas regenerasi?

Bagikan pendapat Anda di kolom komentar agar kita bisa berdiskusi lebih dalam.

Posting Komentar untuk "KURSI PANAS DI AMBANG PURNA: DILEMA JABATAN GURU SENIOR DAN MANDEGNYA KADERISASI SEKOLAH"