BUKAN SEKADAR BERHITUNG: MENGAPA GERAKAN NUMERASI NASIONAL BISA MENGUBAH NASIB BANGSA INDONESIA
Coba ingat kembali: kapan terakhir kali kamu merasa takut
saat disuruh guru maju ke papan tulis untuk mengerjakan soal matematika?
Kalau jawabanmu adalah "hampir setiap hari waktu sekolah
dulu," kamu tidak sendirian. Jutaan pelajar Indonesia tumbuh dengan
perasaan yang sama, bahwa matematika adalah momok, sesuatu yang hanya bisa
dikuasai oleh orang-orang berbakat, bukan semua orang. Dan ternyata, rasa takut
itulah yang kini sedang coba diperangi oleh pemerintah Indonesia secara serius
lewat sebuah inisiatif besar bernama Gerakan Numerasi Nasional (GNN).
Tapi tunggu dulu. Gerakan ini bukan sekadar program belajar
matematika biasa. GNN jauh lebih luas dari itu, dan jika berhasil, maka dampaknya
bisa terasa sampai ke cara kita mengambil keputusan sehari-hari, mengelola
keuangan keluarga, bahkan memahami berita yang kita baca setiap pagi.
Kenapa Harus Ada Gerakan Numerasi Nasional (GNN)?
Sebelum membahas lebih jauh, mari kita hadapi fakta pahitnya
terlebih dahulu.
Data dari Programme for International Student Assessment
(PISA) tahun 2022 menunjukkan bahwa Indonesia berada di antara sepuluh negara
dengan peringkat terendah dalam literasi matematika, dengan skor hanya 366, jauh
di bawah rata-rata internasional sebesar 420 poin. Yang lebih mengejutkan lagi,
sekitar 82% pelajar Indonesia usia 15 tahun tergolong sebagai pelajar
berprestasi rendah dalam numerasi. Artinya, delapan dari sepuluh anak remaja
kita kesulitan mengerjakan soal yang membutuhkan penalaran di luar konteks yang
sudah dikenal.
Ini bukan angka yang bisa kita abaikan begitu saja.
Tapi bukan hanya angka PISA yang jadi masalah. Rapor
Pendidikan dari tahun ke tahun juga menunjukkan bahwa rata-rata skor numerasi
murid Indonesia di semua jenjang, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama
(SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), masih berkutat di kategori
"sedang" dengan kisaran 40% – 70%. Tidak ada peningkatan signifikan
yang terjadi. Kita seperti berjalan di tempat.
Dan ini bukan salah muridnya saja. Observasi terhadap 24
sekolah di Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur mengungkap realita
yang lebih kompleks: banyak guru pun masih keliru memahami apa itu numerasi.
Sebagian besar mengira numerasi sama dengan matematika rutinitas, latihan soal
berulang, rumus hafalan, tanpa konteks kehidupan nyata. Padahal numerasi jauh
melampaui itu semua.
Jadi, Apa Sebenarnya "Numerasi" Itu?
Inilah yang sering disalahpahami. Numerasi bukan hanya
kemampuan berhitung. Numerasi adalah kecakapan hidup, kemampuan untuk
menggunakan pengetahuan matematika dalam menghadapi situasi nyata kehidupan
sehari-hari.
Seorang perawat yang menghitung dosis obat berdasarkan berat
badan pasien sedang bernumerasi. Seorang ibu rumah tangga yang merencanakan
belanja bulanan dengan anggaran terbatas sedang bernumerasi. Seorang warga yang
membaca berita inflasi dan mencoba memahami dampaknya terhadap daya beli
keluarganya pun sedang bernumerasi.
Model numerasi abad ke-21 memiliki lima dimensi yang saling
terkait:
Pertama, pengetahuan matematis, ini dasarnya. Tanpa fondasi konsep
bilangan, pola, dan penalaran, seseorang tidak bisa bernumerasi dengan baik.
Kedua, konteks, inilah jantung dari numerasi. Matematika tanpa konteks
bukanlah aktivitas bernumerasi. Saat kita menggunakan matematika untuk menyelesaikan
masalah nyata, barulah numerasi benar-benar hidup.
Ketiga, disposisi, sikap dan kepercayaan diri terhadap matematika. Seseorang
yang percaya bahwa ia bisa belajar matematika (bukan percaya bahwa
"matematika itu bukan bakat saya") akan jauh lebih siap bernumerasi.
Keempat, alat, baik alat fisik seperti penggaris, alat digital seperti
kalkulator atau aplikasi, maupun alat representasi seperti grafik dan diagram.
Numerasi bukan tentang menghitung di kepala saja.
Kelima, orientasi kritis, kemampuan untuk mempertanyakan dan mengevaluasi
bagaimana matematika digunakan di masyarakat. Apakah data statistik yang
disajikan media itu masuk akal? Apakah klaim persentase dalam iklan itu menipu?
Inilah orientasi kritis.
Orang yang numerat adalah orang yang bisa menggabungkan
kelima dimensi tersebut secara fleksibel, sesuai dengan situasi yang dihadapi.
GNN: Gerakan, Bukan Sekadar Program
Yang menarik dari Gerakan Numerasi Nasional adalah pilihan
kata itu sendiri: gerakan.
Bukan "program numerasi." Bukan "kurikulum
baru." Tapi gerakan.
Sebuah program bisa berhenti saat anggaran habis atau
pemerintahan berganti. Tapi gerakan hidup dari kesadaran kolektif masyarakat, dari
dalam, bukan dari atas. GNN dirancang agar numerasi bukan hanya menjadi urusan
sekolah, tapi menjadi bagian dari cara kita hidup bersama sebagai bangsa.
Konsep utamanya mengandalkan apa yang disebut catur matra
pendidikan: empat pusat pendidikan yang harus bergerak bersama.
Sekolah menjadi pusat pembelajaran terstruktur. Di sinilah guru, kepala sekolah,
dan seluruh warga sekolah bekerja untuk menciptakan lingkungan belajar
matematika yang bermakna, kontekstual, dan membebaskan murid dari kecemasan.
Keluarga adalah pusat pertama dan utama. Orang tua memiliki dampak besar terhadap
cara anak memandang matematika. Ketika orang tua mengatakan "aku juga
tidak bisa matematika" di depan anaknya, kecemasan tersebut menular tanpa
disadari. Sebaliknya, ketika orang tua melibatkan anak dalam aktivitas numerasi
sehari-hari, seperti berbelanja, memasak, atau menghitung waktu perjalanan,
fondasi numerasi terbentuk dengan cara yang menyenangkan.
Masyarakat menjadi ruang praktik sosial yang luas. Komunitas lokal,
organisasi, dunia usaha, hingga perguruan tinggi berperan memperkuat ekosistem
numerasi di luar sekolah dan rumah.
Media adalah pilar keempat yang sering dilupakan. Media memiliki kekuatan luar
biasa untuk membentuk persepsi publik. Jika media konsisten menyajikan konten
yang menunjukkan matematika sebagai sesuatu yang relevan, menyenangkan, dan
berguna, bukan sekadar teka-teki abstrak, maka persepsi masyarakat akan
perlahan berubah.
Tiga Kunci Keberhasilan: Mindset, Skillset, Toolset
GNN memetakan masalah numerasi Indonesia ke dalam tiga akar
utama, yang masing-masing butuh solusi berbeda.
Masalah pertama: Stigma. Banyak orang meyakini bahwa matematika itu sulit dan
hanya untuk orang tertentu. Solusinya adalah membangun numeracy mindset,
pola pikir bertumbuh yang percaya bahwa kemampuan matematika bisa dikembangkan
melalui usaha, bukan bawaan lahir. Hal ini bukan hanya urusan murid, tapi juga
guru, orang tua, dan masyarakat luas.
Masalah kedua: Lemahnya pemahaman konsep dan kesenjangan
penerapan. Murid
bisa menghafal rumus tapi gagal menerapkannya saat dihadapkan pada situasi
nyata. Solusinya adalah memperkuat numeracy skillset, kemampuan
pemahaman konseptual, penalaran adaptif, dan kompetensi strategis yang
terintegrasi, bukan terpisah-pisah.
Masalah ketiga: Minimnya perangkat pendukung. Banyak sekolah kekurangan media
pembelajaran yang kontekstual dan menarik. Banyak guru belum terampil
memanfaatkan alat digital maupun fisik untuk mengajarkan numerasi. Solusinya
adalah membangun numeracy toolset, memperluas akses terhadap
sumber belajar, teknologi, dan media yang mendukung pembelajaran numerasi yang
kreatif.
Ketiga hal tersebut, mindset, skillset, toolset, harus
berkembang bersama. Tidak bisa hanya satu.
Dampak Numerasi Rendah: Lebih Serius dari yang Kamu Kira
Mungkin ada yang berpikir: "Ah, ini kan urusan nilai
matematika di sekolah. Tidak terlalu serius."
Nyatanya, dampak rendahnya numerasi jauh lebih luas dan
menyentuh kehidupan nyata.
Individu dengan numerasi rendah cenderung membuat keputusan
keuangan yang buruk, lebih mudah terjebak utang berbunga tinggi, gagal memahami
kontrak kredit, atau tidak mampu merencanakan tabungan dengan baik. Dalam
konteks kesehatan, mereka lebih rentan salah memahami dosis obat atau risiko
penyakit. Di dunia kerja, mereka kesulitan beradaptasi dengan teknologi baru
yang berbasis data, yang berarti peluang kerja lebih sempit.
Di tingkat nasional, riset menunjukkan bahwa kenaikan skor
numerasi rata-rata pelajar berkontribusi signifikan terhadap peningkatan Produk
Domestik Bruto per kapita dalam jangka panjang. Hal ini bukan sekadar statistik,
ini adalah argumen ekonomi yang kuat bahwa investasi pada numerasi adalah
investasi pada masa depan bangsa.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan Sekarang?
GNN adalah gerakan nasional, tapi gerakan tersebut dimulai
dari langkah-langkah kecil yang nyata.
Jika kamu seorang guru: mulailah bereksperimen dengan
konteks kehidupan nyata dalam pembelajaran matematika. Bukan soal cerita yang
dibuat-buat, tapi situasi yang benar-benar relevan dengan kehidupan murid.
Refleksikan: apakah pelajaranmu membangun keyakinan murid, atau justru
memperparah kecemasan mereka?
Jika kamu seorang orang tua: jangan biarkan rasa
takutmu terhadap matematika menular ke anak. Jadikan kegiatan sehari-hari. belanja,
memasak, bermain, sebagai kesempatan bernumerasi bersama. Sambutan hangat
terhadap kesalahan jauh lebih berharga daripada tuntutan kesempurnaan.
Jika kamu seorang pelajar: tahu bahwa matematika bukan
tentang siapa yang paling cerdas, tapi tentang siapa yang paling gigih mencoba.
Kecemasan matematika itu nyata, tapi bisa diatasi, perlahan, dengan dukungan
yang tepat.
Dan jika kamu siapa pun yang membaca artikel ini: mulailah
melihat angka di sekitarmu dengan rasa ingin tahu, bukan ketakutan. Tanya
"apakah data ini masuk akal?" saat membaca berita. Hitung
pengeluaranmu dengan sadar. Estimasi waktu perjalananmu. Semua itu adalah
numerasi yang hidup.
Sebuah Gerakan yang Baru Dimulai
Gerakan Numerasi Nasional baru saja diluncurkan, dan
perjalanannya masih panjang. Dokumen akademik yang menjadi pondasinya, diterbitkan
pada Januari 2026 oleh Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, adalah
bukti bahwa ada keseriusan dan kedalaman berpikir di balik inisiatif ini.
Landasan filosofisnya mengacu pada nilai-nilai Pancasila dan semangat Ki Hadjar
Dewantara: pendidikan yang memanusiakan, yang membebaskan, bukan yang
mengekang.
Tapi seperti semua gerakan sosial yang bermakna, keberhasilan
GNN tidak bisa diserahkan hanya kepada pemerintah. Keberhasilan GNN butuh
sekolah yang berani berinovasi, keluarga yang terlibat, komunitas yang peduli,
dan media yang bertanggung jawab.
Yang paling penting: keberhasilan GNN butuh perubahan cara
pandang kita semua tentang matematika dan numerasi.
Bukan lagi: "Matematika itu sulit dan bukan untuk
semua orang."
Tapi: "Numerasi adalah kecakapan yang bisa dipelajari
siapa saja dan numerasi penting untuk menjalani kehidupan dengan lebih
bijak."
Itulah inti dari Gerakan Numerasi Nasional.
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari upaya mendukung
penguatan literasi dan numerasi di Indonesia. Apakah kamu punya pengalaman
menarik atau tantangan dalam belajar/mengajar matematika? Bagikan di kolom
komentar!

Posting Komentar untuk "BUKAN SEKADAR BERHITUNG: MENGAPA GERAKAN NUMERASI NASIONAL BISA MENGUBAH NASIB BANGSA INDONESIA"
Posting Komentar