KETIKA "MAKLUM" MENJADI RACUN: WAJAH TERSEMBUNYI KEMUNDURAN SEKOLAH
Ketika "Maklum" Menjadi Racun: Wajah Tersembunyi Kemunduran Sekolah
Ada penyakit yang jarang terdiagnosis dengan benar di dunia pendidikan. Penyakit tersebut bukan berbentuk gedung rusak atau anggaran yang cekak. Penyakit tersebut bersembunyi di balik kata yang terdengar bijak dan penuh empati.
Pernahkah Anda berjalan masuk ke sebuah sekolah yang terasa sempurna dari luar, taman tertata rapi, gerbang terbuka tepat waktu, papan visi-misi tergantung megah di lobi, namun di dalamnya ada sesuatu yang terasa... mati?
Bukan mati secara harfiah. Tapi ada kelesuan yang sulit dijelaskan. Guru-guru yang masuk kelas tanpa semangat. Rapat yang berlangsung panjang namun tidak menghasilkan keputusan. Keluhan orang tua yang dijawab dengan anggukan, lalu dilupakan begitu saja.
Jika Anda pernah merasakannya, baik sebagai guru, kepala sekolah, orang tua, atau bahkan sebagai murid, maka artikel berikut mungkin akan membuat Anda mengangguk pelan, lalu berpikir keras. Karena ada satu penyakit yang jarang terdiagnosis dengan benar di dunia pendidikan. Namanya: Budaya Maklum.
Bagian 01Sekolah Mewah dengan Mesin yang Berkarat
Bayangkan sebuah mobil mewah. Catnya berkilau, interiornya wangi, dan tampilannya memukau siapa pun yang melihat. Semua orang ingin naik ke dalamnya. Semua orang yakin mobil tersebut luar biasa.
Tapi begitu kap mesinnya dibuka, Anda akan melihat komponen yang berkarat dan mesin yang keropos.
Banyak sekolah seperti ini. Dari luar semuanya tampak hebat, tapi begitu kap mesinnya dibuka, sekolah itu sedang "sakit" dalam diam.
Nilai akreditasi A, gedung baru, laboratorium komputer dengan kursi ergonomis, seragam batik yang cantik di hari Rabu. Tapi jika Anda berani membuka "kap mesin" sekolah tersebut, melihat proses belajar di dalam kelas, kualitas umpan balik guru kepada murid, tingkat kedisiplinan murid, Anda akan menemukan sesuatu yang berbeda.
Dan penyakitnya bukan kurangnya anggaran. Bukan kurangnya teknologi. Bukan kurangnya kurikulum yang bagus. Penyakitnya adalah sesuatu yang lebih halus, lebih merasuk, dan justru karena itulah lebih berbahaya.
Bagian 02Apa Itu Budaya Maklum?
Budaya Maklum adalah kondisi di mana pemimpin menggunakan "rasa kasihan" atau "nggak enakan" sebagai tameng untuk menutupi kinerja yang buruk.
Kata "maklum" sendiri terdengar indah. Terdengar bijak. Terdengar seperti empati. Dan memang, dalam porsi yang tepat, memaklumi adalah bentuk kemanusiaan yang mulia.
Sekali, dua kali, itu adalah empati yang sehat dan wajar. Tapi ketika "maklum" menjadi respons otomatis terhadap setiap pelanggaran standar, setiap keterlambatan, setiap kelas yang ditinggalkan tanpa alasan jelas, maka "maklum" bukan lagi empati. Maklum telah berubah menjadi pembiaran yang melembaga.
Dan pembiaran yang melembaga menghancurkan standar. Pembiaran tersebut mengirim pesan kepada seluruh staf bahwa di sini, konsekuensi tidak nyata. Standar bisa dinegosiasikan. Dan alasan adalah mata uang yang sah.
Bagian 03Perhatikan Polanya
Coba perhatikan satu pola kecil di sekolah. Ada seorang guru yang selalu terlambat mengumpulkan nilai, setiap semester, tanpa gagal, dengan alasan yang berbeda namun intinya sama.
"Maaf, anak saya lagi rewel."Kepala sekolah menjawab:
"Ya sudah, maklum, namanya juga musibah."Sekali dua kali, itu memang kemanusiaan. Tapi jika terjadi setiap semester dan tetap dibiarkan, maka yang sedang terjadi bukan lagi toleransi. Anda sedang melegalkan kegagalan sistem.
Bagian 04Ketika Otot Tanggung Jawab Mengecil
Salah satu dampak paling merusak dari Budaya Maklum adalah budaya tersebut mematikan "otot" tanggung jawab. Otot, jika tidak dilatih, akan mengecil. Begitu pula tanggung jawab, jika tidak pernah benar-benar dituntut, tanggung jawab akan layu.
Tim yang terbiasa dimaklumi akan terbiasa bersembunyi di balik alasan setiap kali ada target yang meleset. Ketika ada protes keras dari orang tua murid tentang kualitas lulusan, mereka tidak akan duduk bersama mencari solusi. Mereka justru akan saling tunjuk:
"Itu salah bagian kurikulum." | "Maklum, kami kan kurang orang, saya kerja sendiri."Mereka lebih sibuk menyelamatkan muka sendiri daripada menyelamatkan masa depan murid.
Dan tanpa disadari, institusi yang seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter generasi bangsa, justru menjadi contoh nyata bagaimana budaya tidak bertanggung jawab dipraktikkan setiap hari, di depan mata para murid.
Bagian 05Kematian Motivasi Guru Terbaik
Ada paradoks menyakitkan dalam Budaya Maklum: Budaya tersebut tidak menghukum yang malas. Budaya tersebut justru menghukum yang rajin.
Bayangkan Anda adalah seorang guru yang bekerja keras. Anda datang pagi, pulang sore, selalu menyiapkan materi dengan sepenuh hati. Tapi di sebelah Anda, ada rekan yang kerjanya asal-asalan, laporan selalu telat, persiapan mengajar minim, namun tetap mendapatkan gaji dan perlakuan yang sama.
"Buat apa saya lelah, kalau yang malas saja tetap aman?"
Dan ketika pertanyaan tersebut sudah muncul, sesuatu yang lebih besar telah mati: motivasi intrinsik sebagai pendidik. Visi besar sekolah, yang tergantung di spanduk, tercetak di brosur, dan dibacakan setiap upacara, berubah menjadi hiasan dinding tanpa nyawa.
Guru-guru terbaik mulai berhemat energi. Mereka tidak lagi berinovasi. Mereka hadir secara fisik, tapi tidak lagi hadir secara jiwa.
Bagian 06Mengorbankan Murid demi Kenyamanan Orang Dewasa
Sekolah didirikan untuk murid. Bukan untuk membuat guru merasa "nyaman" dalam kemalasan, bukan untuk membuat kepala sekolah terhindar dari konflik, bukan untuk menjaga perasaan semua orang agar tidak ada yang tersinggung.
Saat pemimpin sekolah memaklumi kinerja yang buruk, yang sesungguhnya sedang terjadi adalah: Anda sedang mengorbankan masa depan murid demi kenyamanan sesaat para orang dewasa di sekolah.
Setiap kali seorang murid duduk di kelas dengan guru yang tidak mempersiapkan diri, ada harga yang dibayar. Bukan oleh guru tersebut. Bukan oleh kepala sekolah. Harga itu dibayar oleh murid, dengan waktu yang terbuang, dengan potensi yang tidak berkembang, dengan masa depan yang sedikit lebih sempit dari yang seharusnya.
Sekolah yang hebat bukan sekolah yang tidak punya konflik. Sekolah yang hebat adalah sekolah di mana setiap orang berani berkata jujur demi kebaikan bersama.
Bagian 07Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?
Mengubah sekolah yang terjangkit Budaya Maklum tidak bisa dilakukan hanya dengan mengganti kurikulum atau membeli komputer baru. Perangkat baru di atas sistem yang sakit hanya akan menghasilkan kegagalan yang lebih mahal. Yang harus diganti adalah mentalitas.
Jangan hanya menjadi pengawas yang duduk di balik meja menunggu laporan. Jadilah pemimpin yang ikut belajar, yang tahu persis apa yang terjadi di kelas, di ruang guru, dan di benak para muridnya.
Jika laporan sering terlambat karena sistem pengumpulannya memang rumit, itulah kendala teknis, carikan solusi. Tapi jika keterlambatan itu karena malas, itulah kendala karakter, berikan teguran yang tegas namun membangun.
Ciptakan ruang untuk mengakui kesalahan tanpa rasa takut, ada ruang untuk memberikan umpan balik tanpa drama, dan ada ruang untuk menetapkan standar tanpa dianggap kejam.
Ketika "nggak enakan" mulai menguasai keputusan Anda, tanyakan: Siapa yang sesungguhnya saya lindungi dengan sikap ini? Apakah saya melindungi murid, atau kenyamanan saya sendiri?
Jadilah Pemimpin yang Berani
Budaya Maklum tidak lahir dari kejahatan. Budaya maklum lahir dari kelemahan, kelemahan untuk menghadapi ketidaknyamanan, kelemahan untuk menegur dengan tegas.
Dan justru karena lahir dari kelemahan, budaya tersebut bisa diubah dengan keberanian. Keberanian untuk berkata: "Sekali ini saya memaklumi. Tapi ini tidak bisa terus terjadi."
Kemajuan sekolah tidak diukur dari berapa banyak konflik yang berhasil dihindari. Kemajuan sekolah diukur dari berapa banyak murid yang keluar dari pintu gerbang sekolah itu dengan bekal yang cukup untuk menghadapi dunia.

Posting Komentar untuk "KETIKA "MAKLUM" MENJADI RACUN: WAJAH TERSEMBUNYI KEMUNDURAN SEKOLAH"
Posting Komentar