MENYINGKAP TABIR FENOMENA ABS DI SEKOLAH: MENGAPA "ASAL BAPAK SENANG" ADALAH RACUN BAGI MASA DEPAN PENDIDIKAN?

Dunia pendidikan seringkali dicitrakan sebagai institusi yang paling jujur, idealis, dan penuh integritas. Namun, di balik dinding-dinding kelas dan ruang guru yang tampak tenang, seringkali bersemi sebuah budaya organisasi yang destruktif: Fenomena ABS (Asal Bapak Senang).

Istilah ABS mungkin lebih akrab di telinga kita dalam konteks birokrasi pemerintahan atau korporasi besar. Namun, realitanya, virus tersebut telah lama menjangkiti ekosistem sekolah. Guru, yang seharusnya menjadi garda terdepan kejujuran, terkadang terjebak dalam pusaran perilaku yang hanya bertujuan untuk memuaskan atasan (Kepala Sekolah atau Pengawas), meskipun harus mengorbankan realitas objektif di lapangan.

Apa Itu Fenomena ABS dalam Konteks Guru?

Dalam dunia sekolah, fenomena ABS bermanifestasi dalam berbagai bentuk yang halus namun mematikan. Hal ini bukan sekadar tentang bersikap sopan kepada pimpinan, melainkan tentang distorsi informasi dan manipulasi kinerja.

Beberapa contoh nyata perilaku ABS di sekolah antara lain:

  • Manipulasi Laporan Administrasi: Menyusun perangkat pembelajaran (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/Modul Ajar) yang tampak sempurna secara administratif namun tidak pernah benar-benar diterapkan di kelas.
  • Pemolesan Nilai Murid: Memberikan nilai yang "bagus" agar sekolah terlihat berprestasi di mata dinas atau kementerian, tanpa memedulikan apakah murid benar-benar menguasai materi.
  • Budaya "Yes-Man": Guru enggan memberikan kritik atau masukan yang jujur terhadap kebijakan sekolah yang salah, hanya karena takut dianggap membangkang atau demi menjaga "kenyamanan" posisi.
  • Sandiwara Saat Supervisi: Mengajar dengan luar biasa hebat hanya saat dipantau oleh Kepala Sekolah atau Pengawas, namun kembali ke pola lama yang monoton segera setelah pintu kelas ditutup.

Mengapa Guru Melakukan ABS?

Akar masalah dari fenomena ABS biasanya bukan karena guru tersebut secara alami adalah pembohong, melainkan karena sistem yang menuntut kesempurnaan di atas kertas.

1. Kepemimpinan yang Otoriter: Kepala sekolah yang tidak siap menerima kritik cenderung menciptakan lingkungan di mana bawahan merasa lebih aman untuk berbohong daripada berkata jujur.

2.  Beban Administrasi yang Berlebihan: Ketika tuntutan administratif lebih dihargai daripada interaksi nyata dengan murid, guru akan mencari jalan pintas untuk menyelesaikan "kertas" demi menyenangkan pimpinan.

3. Rasa Takut Akan Konsekuensi: Ketakutan akan mutasi, penilaian kinerja yang buruk, atau sulitnya kenaikan pangkat membuat guru memilih jalur aman: menjadi pengikut yang patuh tanpa opini.

Dampak Fatal: Kerusakan Sistemik Pendidikan

Jika dibiarkan terus-menerus, budaya ABS akan menjadi racun yang melumpuhkan sendi-sendi pendidikan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh guru itu sendiri, tetapi merambat hingga ke jantung masa depan bangsa: para murid.

1. Matinya Inovasi dan Kreativitas

Guru yang sibuk mencari cara untuk menyenangkan atasan tidak akan memiliki ruang mental untuk berinovasi. Mereka akan terjebak pada format-format baku dan enggan mencoba metode baru yang berisiko, karena inovasi seringkali membutuhkan eksperimen yang mungkin saja "gagal" di mata pimpinan.

2. Ketidakjujuran Akademik yang Terstruktur

Ketika manipulasi nilai atau data menjadi hal yang lazim demi nama baik sekolah, secara tidak langsung kita sedang mengajarkan ketidakjujuran kepada murid. Sekolah kehilangan moralitasnya sebagai lembaga pembentuk karakter.

3. Burnout dan Penurunan Integritas Guru

Secara psikologis, melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani (seperti memalsukan laporan) akan menciptakan disonansi kognitif. Guru akan merasa lelah secara mental, kehilangan gairah mengajar, dan pada akhirnya hanya memandang profesi guru sebagai pekerjaan administratif belaka, bukan panggilan jiwa.

4. Murid Menjadi Korban Terbesar

Data yang dimanipulasi melalui budaya ABS memberikan rasa aman palsu. Kepala sekolah merasa programnya sukses, guru merasa kinerjanya bagus, padahal secara faktual, murid tidak mendapatkan kompetensi yang seharusnya. Hal ini adalah bom waktu bagi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan.

Solusi Strategis: Menghancurkan Rantai ABS

Mengatasi fenomena ABS memerlukan keberanian untuk merombak budaya organisasi sekolah. Berikut adalah langkah-langkah solutif yang bisa diambil:

1. Kepemimpinan yang Inklusif dan Terbuka (Open Leadership)

Perubahan harus dimulai dari atas. Kepala sekolah harus mampu menciptakan atmosfer di mana perbedaan pendapat dianggap sebagai kekayaan, bukan ancaman.

  • Evaluasi 360 Derajat: Pimpinan harus siap dievaluasi oleh guru secara anonim untuk mengetahui kondisi nyata di sekolah.
  • Ruang Diskusi Sehat: Sediakan waktu khusus bagi guru untuk menyampaikan kendala lapangan tanpa rasa takut akan dihakimi.

2. Orientasi pada Proses, Bukan Sekadar Hasil Administratif

Sistem pengawasan pendidikan atau supervisi harus berubah paradigma. Alih-alih hanya memeriksa kelengkapan dokumen, fokuslah pada observasi berkelanjutan dan pendampingan.

  • Supervisi Klinis: Pengawas atau kepala sekolah hadir di kelas bukan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai mitra diskusi untuk meningkatkan kualitas pengajaran.

3. Menguatkan Integritas melalui Komunitas Praktisi

Guru perlu bergabung dalam komunitas seperti MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) atau komunitas belajar yang sehat. Di sini, guru dapat saling berbagi kesulitan yang jujur dan mencari solusi bersama, sehingga mereka merasa tidak sendirian dalam menghadapi tekanan birokrasi.

4. Pemanfaatan Teknologi untuk Transparansi

Implementasi sistem digital yang terintegrasi dapat meminimalisir manipulasi data. Jika data kehadiran dan nilai murid terdokumentasi secara real-time dan transparan, maka celah untuk melakukan ABS demi "memoles" citra sekolah akan tertutup dengan sendirinya.

5. Kembali ke Filosofi "Ing Ngarsa Sung Tuladha"

Guru harus kembali mengingat marwahnya. Integritas adalah harga mati. Mengatakan kejujuran tentang kondisi murid yang sulit jauh lebih mulia daripada melaporkan keberhasilan semu. Pendidik harus berani menjadi teladan (uswah) bagi rekan sejawat dan muridnya.

Jujur Itu Menyelamatkan

Fenomena ABS adalah penyakit kronis yang jika dibiarkan akan meruntuhkan martabat dunia pendidikan kita. Kita tidak bisa mengharapkan lahirnya generasi emas dari sistem yang dibangun di atas fondasi kepalsuan dan sekadar formalitas demi menyenangkan atasan.

Sebagai guru, tugas utama kita bukan membuat kepala sekolah senang, melainkan memastikan setiap murid mendapatkan hak belajarnya dengan jujur dan maksimal. Mari kita berani berkata "tidak" pada ABS dan mulai membangun budaya sekolah yang berbasis pada transparansi, kolaborasi, dan integritas.

Pendidikan yang berkualitas tidak diukur dari seberapa tebal laporan administrasi yang rapi, melainkan dari seberapa besar perubahan positif yang terjadi pada perilaku dan pemikiran murid di dalam kelas.

Posting Komentar untuk "MENYINGKAP TABIR FENOMENA ABS DI SEKOLAH: MENGAPA "ASAL BAPAK SENANG" ADALAH RACUN BAGI MASA DEPAN PENDIDIKAN?"