TAMAK JABATAN DI SEKOLAH: KETIKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LEBIH PANJANG DARIPADA DAFTAR PRESTASI
TAMAK JABATAN DI SEKOLAH: KETIKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LEBIH PANJANG DARIPADA DAFTAR PRESTASI
Sebuah refleksi jujur tentang budaya mengoleksi jabatan di lingkungan sekolah dan akibat-akibat yang sering terlambat disadari
Di setiap sekolah, ada fenomena yang tidak pernah benar-benar hilang meski berganti tahun ajaran: sosok guru atau tenaga kependidikan yang namanya selalu muncul di hampir setiap jabatan atau kepanitiaan. Ketua panitia sekaligus wakil kepala sekolah dan panitia-panitia kegiatan yang lain. Deretan jabatan dan kepanitiaan tersebut terpampang rapi di kartu nama, di spanduk sekolah, bahkan di tanda tangan, seolah banyaknya jabatan dan kepanitiaan adalah bukti kehebatan seseorang.
Namun benarkah demikian? Atau justru sebaliknya, semakin banyak deretan jabatan dan kepanitiaan yang dipikul, semakin besar kemungkinan semuanya dikerjakan setengah-setengah?
"Kalau kemampuan hanya sanggup membawa satu ember, jangan memaksa mengangkat tiga bak mandi. Yang tumpah bukan airnya saja, tapi juga harga dirinya."
— Sebuah pepatah yang relevan untuk dunia jabatan di sekolah
Amanah, Bukan Aksesori
Dalam konteks sekolah, jabatan bukan sekadar label administratif. Jabatan adalah amanah. Seorang wali kelas bukan hanya bertugas menandatangani buku rapor, ia adalah orang tua kedua bagi muridnya selama satu tahun penuh. Seorang koordinator kurikulum bukan sekadar membuat jadwal, ia adalah penjaga kualitas pembelajaran di seluruh ruang kelas. Seorang pembina Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) bukan hanya hadir saat upacara, ia adalah pembentuk karakter generasi muda.
Ketika satu orang menggenggam tiga atau empat amanah sekaligus, logika sederhana pun mulai berbicara: dalam satu hari hanya ada 24 jam. Jika enam jam dihabiskan untuk mengajar, empat jam untuk urusan keluarga, dua jam untuk perjalanan, lalu berapa jam yang tersisa untuk benar-benar menjalankan seluruh jabatan tersebut dengan sepenuh hati?
Fakta yang sering dilupakan: Jabatan ganda di sekolah bukan tanda kehebatan. Jabatan ganda sering kali adalah tanda belum tersedianya sistem regenerasi yang sehat di institusi tersebut atau lebih buruk, tanda adanya monopoli kekuasaan yang tidak disadari.
Empat Wajah Tamak Jabatan di Sekolah
Tamak jabatan di sekolah tidak selalu tampil terang-terangan. Tamak jabatan hadir dalam berbagai wajah yang perlu kita kenali satu per satu:
| Wajah | Ciri Khas | Dampak Nyata |
|---|---|---|
| Si Pengumpul Jabatan | Selalu menyanggupi tugas baru meskipun tugas lama belum tuntas | Pekerjaan terbengkalai, murid dan rekan kerja dirugikan |
| Si Penguasa Informasi | Memegang semua jabatan strategis agar selalu menjadi "gerbang utama" | Organisasi sekolah tidak berkembang, regenerasi terhambat |
| Si Pengumpul Tanda Tangan | Aktif di jabatan hanya saat ada acara resmi atau dokumentasi foto | Program kerja tidak berjalan, jabatan hanya formalitas |
| Si Pencari Rasa Aman | Takut kehilangan pengaruh jika melepas jabatan | Regenerasi kepemimpinan sekolah macet, potensi guru lain tidak berkembang |
Kisah Nyata yang Tidak Asing di Telinga Kita
Bayangkan seorang guru senior di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Sebut saja Pak Rafi. Ia adalah Wakil kepala Sekolah, sekaligus Ketua Tim Pengembang Kurikulum Merdeka, sekaligus anggota tetap hampir setiap panitia yang dibentuk sekolah.
Awalnya, Pak Rafi tampak luar biasa. Energik, hadir di mana-mana, namanya disebut di setiap rapat. Murid-murid di kelas VIII bangga punya gurus yang "berpengaruh". Rekan-rekan guru menaruh respek.
Namun tiga bulan berjalan, mulai terlihat retakan kecil. Kelas sering kosong. Dokumen kurikulum yang harusnya selesai bulan lalu masih "dalam proses". Rapat koordinasi Kurikulum Merdeka kerap dimulai terlambat karena Pak Rafi masih menyelesaikan urusan yang lain.
Yang menanggung kerugian bukan Pak Rafi, melainkan murid-murid yang gurunya tidak pernah benar-benar hadir untuk mereka. Dan guru-guru muda yang sebenarnya mampu memimpin, tapi tidak pernah diberi kesempatan karena semua posisi sudah "penuh".
Ketika akhir tahun tiba dan terjadi rotasi jabatan, Pak Rafi kehilangan sebagian besar posisinya sekaligus. Ia yang tadinya "ada di mana-mana" kini hampir tidak terlihat. Yang tersisa hanyalah pekerjaan-pekerjaan setengah jadi yang harus diselesaikan oleh orang lain dan bisikan-bisikan di ruang guru yang sudah lama beredar diam-diam: "Kan sudah kami bilang dari dulu..."
Dampak Sistemik: Ketika Tamak Jabatan Merusak Ekosistem Sekolah
Masalah tamak jabatan bukan sekadar urusan personal. Dalam ekosistem sekolah, perilaku tersebut menciptakan kerusakan yang bersifat sistemik dan berlapis:
Apa yang Seharusnya Dilakukan?
Solusi dari tamak jabatan bukan sekadar slogan "jangan rakus". Solusi tersebut membutuhkan kesadaran struktural dan tindakan nyata, baik dari individu maupun dari kepala sekolah sebagai pemimpin institusi.
| Pelaku | Langkah Nyata |
|---|---|
| Individu Guru | Evaluasi diri: apakah semua jabatan yang dipegang benar-benar dijalankan dengan maksimal? Jika tidak, lepaskan satu dengan bermartabat. |
| Kepala Sekolah | Terapkan batas maksimal jabatan yang boleh dipegang satu orang. Dorong rotasi dan kaderisasi secara aktif dan terencana. |
| Wakil Kepala Sekolah | Pastikan distribusi tugas merata dan tidak menumpuk di satu nama. Fungsi wakil kepala sekolah adalah koordinasi, bukan akumulasi wewenang. |
| Komunitas Guru | Bangun budaya saling mengingatkan dengan santun, bukan budaya sungkan yang membiarkan masalah berlarut-larut. |
Guru terbaik bukan yang namanya ada di paling banyak jabatan. Guru terbaik adalah yang jabatan ia pegang — satu pun cukup — benar-benar terasa dampaknya bagi murid dan sekolahnya.
Satu Ember Penuh Lebih Berharga dari Tiga Bak yang Tumpah
Ada kebijaksanaan dalam mengenal batas kemampuan diri sendiri. Bukan berarti kita tidak boleh berkembang atau mengambil tantangan baru. Namun ada perbedaan besar antara tumbuh dan mengumpulkan.
Tumbuh artinya kita menjalankan satu jabatan dengan sangat baik, lalu ketika jabatan itu sudah berjalan mandiri dan ada penerus yang siap, kita melangkah ke peran berikutnya. Mengumpulkan artinya kita menambah jabatan demi jabatan tanpa pernah benar-benar menyelesaikan satu pun dengan tuntas.
Seorang wali kelas yang benar-benar hadir untuk murid-muridnya — yang tahu siapa yang sedang bermasalah di rumah, siapa yang kesulitan matematika, siapa yang butuh dorongan semangat — lebih berharga dari sepuluh jabatan di kertas yang tidak menghasilkan apa-apa selain tanda tangan di dokumen.
Di tengah arus Kurikulum Merdeka yang mendorong kolaborasi dan kepemimpinan terdistribusi, sudah saatnya kita bersama-sama membangun budaya jabatan yang sehat di sekolah kita masing-masing. Bukan budaya siapa yang paling banyak memegang jabatan, melainkan budaya siapa yang paling bertanggung jawab atas jabatan yang dipercayakan kepadanya.
Ingat selalu: jabatan adalah amanah, bukan koleksi. Dan amanah yang dijalankan dengan setengah hati — sebanyak apa pun jabatannya — tidak akan pernah lebih mulia dari satu amanah kecil yang ditunaikan dengan sepenuh jiwa.
🏫 Jadilah guru yang jabatannya sedikit, tapi dampaknya tak terhingga.
Bukan guru yang jabatannya banyak, tapi jejaknya tidak terasa oleh seorang murid pun.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya."
(Q.S. An-Nisa ayat 58)

Posting Komentar untuk "TAMAK JABATAN DI SEKOLAH: KETIKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LEBIH PANJANG DARIPADA DAFTAR PRESTASI"
Posting Komentar