FENOMENA DRAMA "CARI MUKA" DI SEKOLAH: STRATEGI BERTAHAN HIDUP ATAU RACUN BUDAYA KERJA?

Dunia pendidikan seringkali dipandang sebagai oase moral. Sebagai guru, kita tidak hanya mengajarkan rumus Pythagoras atau hukum Newton, tetapi juga nilai-nilai integritas dan kejujuran. Namun, mari kita jujur sejenak di balik pintu sekolah: apakah lingkungan kerja kita benar-benar steril dari drama "cari muka" atau yang secara ekstrem sering disebut sebagai fenomena "penjilat"?

Sebuah video memperlihatkan dua orang yang sedang "latihan menjadi penjilat" di depan atasan dengan kalimat-kalimat hiperbolis seperti: "Bapak kalau pindah, saya ikut pindah!" atau "Tim ini kacau banget sebelum Bapak pimpin!". Meskipun video tersebut bersifat komedi satire, video tersebut memotret realitas yang sangat dekat dengan kehidupan profesional, termasuk di sekolah.

Sebagai pendidik yang mengusung nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan mengedepankan Deep Learning, bagaimana kita seharusnya menyikapi fenomena tersebut? Apakah "menjilat" itu perlu, ataukah itu justru menghambat kualitas pendidikan kita?

1. Anatomi "Si Cari Muka" di Sekolah

Dalam konteks sekolah, perilaku "penjilat" biasanya muncul dalam bentuk upaya berlebihan untuk mendapatkan afeksi atau perlakuan khusus dari Kepala Sekolah atau pemegang kebijakan.

Ada beberapa tipikal yang sering kita jumpai:

  • Si Tukang Lapor: Selalu memberikan "update" tentang rekan kerja lain kepada pimpinan, seringkali dengan bumbu-bumbu yang menyudutkan.
  • Si Paling Setuju: Tidak pernah memberikan kritik konstruktif dalam rapat. Apapun instruksi pimpinan, ia akan menjadi yang pertama bertepuk tangan, meskipun instruksi tersebut sulit diterapkan.
  • Si Martir Palsu: Menunjukkan kesan bekerja paling keras hanya saat pimpinan sedang memantau, namun mendadak pasif saat pimpinan tidak ada.

2. Mengapa Fenomena Tersebut Berbahaya Bagi Ekosistem Sekolah?

Kita sering membahas bahwa kualitas pembelajaran matematika dan pelajaran lainnya sangat bergantung pada well-being guru. Jika budaya "cari muka" merajalela, ada beberapa dampak sistemik yang akan terjadi:

Merusak Komunikasi Horizontal

Dalam Deep Learning, kolaborasi antar guru sangat penting. Namun, keberadaan "penjilat" menciptakan rasa saling tidak percaya. Guru menjadi takut berbagi ide atau mengeluhkan kendala karena khawatir informasi tersebut akan dipelintir dan dilaporkan ke atasan.

Mematikan Inovasi

Jika kenaikan pangkat atau penugasan strategis diberikan bukan karena kompetensi melainkan karena kedekatan "subjektif", maka guru-guru yang benar-benar kreatif akan merasa lesu. "Buat apa saya bikin inovasi media pembelajaran kalau yang selalu dipuji adalah dia yang cuma jago memuji Bapak Kepala Sekolah?"

Kontradiksi dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)

KBC mengajarkan kita untuk membangun hubungan yang tulus, baik dengan murid maupun sesama rekan. Menjilat adalah bentuk hubungan yang manipulatif. Menjilat adalah antitesis dari cinta yang murni dalam pendidikan.

3. Menjilat vs Membangun Komunikasi Profesional

Kita harus berhati-hati dalam memberi label. Tidak semua guru yang dekat dengan Kepala Sekolah adalah penjilat. Ada perbedaan tipis namun tegas antara Komunikasi Profesional dan Manipulasi.

Aspek

Komunikasi Profesional

Penjilat (Manipulasi)

Tujuan

Meningkatkan efektivitas sekolah.

Mendapatkan keuntungan pribadi/posisi.

Isi Pembicaraan

Data, solusi, dan masukan objektif.

Pujian kosong dan informasi rekan lain.

Sikap saat Kritik

Berani menyampaikan perbedaan pendapat secara sopan.

Selalu setuju demi cari aman.

Fokus Kerja

Performa di kelas dan pelayanan murid.

Performa di depan mata pimpinan saja.

 4. Perspektif Deep Learning dalam Manajemen Sekolah

Sebagai guru, kita tahu bahwa variabel yang salah akan menghasilkan hasil yang salah. Begitu juga dengan manajemen sekolah. Jika variabel "loyalitas buta" lebih tinggi bobotnya daripada "profesionalisme", maka hasil pendidikan kita akan terdistorsi.

Pimpinan sekolah yang memahami konsep Deep Learning seharusnya mampu melihat melampaui kata-kata manis. Pimpinan harus menjadi "filter" yang kuat. Mereka perlu menciptakan sistem penilaian kinerja yang berbasis data dan bukti nyata (evidence-based), bukan berdasarkan siapa yang paling sering menemani minum kopi.

5. Tips Bertahan di Tengah Lingkungan yang "Toxic"

Jika Anda merasa berada di lingkungan di mana fenomena penjilat sedang merajalela, apa yang harus dilakukan?

1. Tetap Fokus pada Murid: Ingat, gaji dan keberkahan kita datang dari pengabdian kepada murid, bukan dari pujian atasan. Biarkan prestasi murid Anda di kelas yang berbicara.

2.  Jadilah Profesional yang Tegas: Anda tidak perlu ikut-ikutan menjilat untuk selamat. Tetaplah sopan, jalankan tugas sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), dan dokumentasikan hasil kerja Anda dengan baik.

3. Bangun Support System: Temukan rekan guru yang memiliki visi yang sama. Saling mendukung secara positif tanpa harus bergosip akan menjaga kesehatan mental Anda.

4. Praktikkan KBC secara Konsisten: Balaslah perilaku manipulatif dengan ketulusan. Kadang-kadang, orang melakukan "cari muka" karena merasa tidak aman dengan kompetensinya sendiri.

Integritas Adalah Kurikulum Tersembunyi

Murid kita adalah pengamat yang ulung. Mereka melihat bagaimana guru-gurunya berinteraksi. Jika mereka melihat gurunya saling sikut atau mencari perhatian pimpinan dengan cara yang tidak sehat, mereka sedang belajar tentang "politik praktis yang kotor", bukan tentang karakter.

Mari kita kembalikan sekolah sebagai tempat yang penuh dengan diskusi intelektual dan empati, bukan arena latihan "penjilat". Pendidikan yang berkualitas hanya bisa lahir dari hati yang jujur dan tangan yang bekerja nyata.

Ingatlah, kita percaya bahwa mendidik itu soal rasa. Jangan biarkan "rasa" itu tercemar oleh budaya yang tidak sehat.

Posting Komentar untuk "FENOMENA DRAMA "CARI MUKA" DI SEKOLAH: STRATEGI BERTAHAN HIDUP ATAU RACUN BUDAYA KERJA?"