💔 MELARIKAN DIRI DARI 'TOXIC CIRCLE' GURU: MENJAGA JIWA PENDIDIK DI TENGAH INTRIK SEKOLAH
Menjadi seorang guru adalah panggilan jiwa. Kita berdiri di
depan kelas, bukan hanya untuk mengajar rumus atau menghafal sejarah, tetapi
untuk membentuk masa depan. Namun, di balik dinding-dinding sekolah—tempat
seharusnya semangat dan kolaborasi bersemi—seringkali tersembunyi sebuah
‘lingkaran setan’ yang diam-diam menggerogoti idealisme kita: Circle Guru
yang Tidak Sehat atau yang lebih kita kenal sebagai Toxic Circle.
Artikel ini bukan hanya tentang mengenali masalah, tetapi
tentang sebuah manifesto keberanian untuk keluar dari lingkaran
destruktif, menegaskan prinsip, dan mengembalikan fokus kita pada esensi sejati
pendidikan: Mencerdaskan, bukan Bersaing.
I. Menggali Akar Racun: Ciri Utama Lingkungan Guru yang
Merusak
Untuk membuat artikel ini mendalam, mari kita bedah beberapa
ciri utama dari toxic circle guru. Ciri tersebut dilihat dari perspektif
psikologi kerja dan etika profesi.
1. Circle yang Suka Menjatuhkan, Bukan Menguatkan: Ego
di Atas Inspirasi
Sebuah circle yang sehat menjadikan prestasi rekan
sebagai inspirasi kolektif. Sebaliknya, circle yang tidak sehat
melihatnya sebagai ancaman personal.
“Setiap prestasi satu guru bukan dijadikan inspirasi,
melainkan ancaman.”
Hal tersebut merupakan manifestasi dari Scarcity Mindset
(Pola Pikir Kelangkaan) di mana mereka percaya bahwa keberhasilan orang lain
akan mengurangi jatah keberhasilan mereka sendiri. Alih-alih berkolaborasi
untuk meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan—tujuan hakiki seorang
guru—mereka justru sibuk berlomba mencari perhatian atasan demi posisi
dan citra. Kompetisi yang terjadi adalah kompetisi destruktif, bukan kompetisi
sehat untuk berinovasi.
Pesan Kunci: Jika keberhasilan rekan kerjamu membuatmu gelisah,
masalahnya mungkin bukan pada mereka, tapi pada egomu sendiri yang belum
mampu memprioritaskan kemajuan bersama di atas kemenangan pribadi.
2. Pura-pura Ramah, Tapi Penuh Kepentingan: Aktor Sosial
Berwajah Dua
Ciri tersebut menggambarkan kemanusiaan yang bermuka dua.
Di depan, mereka adalah pendukung setiamu, tersenyum, memuji, dan tampak
kolaboratif. Namun, di ruang guru, reputasi dan prestasimu bisa menjadi
santapan gosip untuk menaikkan citra mereka sendiri.
“Mereka pandai menjaga citra di hadapan pimpinan, tapi tidak
punya empati terhadap sesama.”
Hal tersebut merupakan permainan peran yang
melelahkan. Lingkungan tersebut dipenuhi oleh 'aktor sosial' yang lihai
memainkan topeng: wajah profesional untuk atasan, dan wajah sinis untuk sesama
rekan. Kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal di lingkungan seperti
ini, dan sayangnya, di sana mata uang itu hampir tidak berlaku. Kamu tidak
dikelilingi teman sejati, melainkan kompetitor berkedok kolega.
3. Lingkungan yang Anti Kritik dan Anti Inovasi: Kenyamanan
di Atas Kemajuan
Guru adalah agen perubahan. Kurikulum berubah, teknologi
berkembang, dan kita wajib menyesuaikan diri. Namun, dalam toxic circle,
semangat tersebut dimatikan.
“Mereka menertawakan ide baru, meremehkan kreativitas, dan
lebih senang mempertahankan pola lama yang stagnan.”
Kalimat sakti mereka adalah: "Buat apa repot-repot?
Yang penting absensi dan nilai aman."
Lingkungan tersebut menciptakan kultur anti-intelektual
di mana rasa ingin tahu dan semangat pembaruan dianggap sebagai gangguan.
Mereka takut keluar dari zona nyaman. Jika kamu seorang guru muda dengan
ide-ide segar (misalnya, menerapkan Blended Learning atau menggunakan
teknologi baru), mereka akan mematikan semangatmu secara perlahan. Hal ini
bukan hanya merugikan dirimu, tapi yang paling parah, merugikan murid
yang seharusnya mendapatkan pengalaman belajar terbaik.
4. Kecemburuan yang Dibungkus Solidaritas: Racun Berkedok
Kepedulian
Ciri tersebut adalah yang paling licik: solidaritas palsu.
Mereka kompak dalam hal yang negatif—mengeluh, menyalahkan murid, atau
menyindir kebijakan sekolah. Hal ini menciptakan ikatan semu berdasarkan
kebencian bersama.
Tapi, begitu kamu berprestasi atau mendekati atasan karena
pekerjaanmu, suasana berubah dingin. Mereka tidak menyerang secara frontal,
melainkan melontarkan sindiran halus yang terasa seperti racun: "Hebat
ya, sekarang dekat sama atasan." Padahal, kamu hanya bekerja dengan
sungguh-sungguh.
Solidaritas yang sehat berlandaskan dukungan murni,
sementara solidaritas palsu berlandaskan kebersamaan dalam kelemahan.
Begitu salah satu anggota menunjukkan kekuatan, ikatan palsu tersebut langsung
putus.
5. Saling Berlomba Menjilat, Bukan Berprestasi: Jalur Cepat
dengan Kualitas Rendah
Di lingkungan tersebut, kualitas kerjamu kalah penting dari kedekatanmu
dengan atasan. Keterampilan berprestasi tergeser oleh keterampilan basa-basi.
“Yang pandai basa-basi lebih cepat naik posisi daripada yang
rajin bekerja di kelas.”
Hal tersebut menciptakan ketidakadilan sistemik di mana nilai
kejujuran tergeser oleh politik sekolah. Dampak terburuknya, banyak guru
baik yang lelah berjuang di tengah kemunafikan tersebut akhirnya memilih
diam—atau bahkan, terpaksa ikut dalam permainan menjilat demi bertahan. Intrik tersebut
adalah musuh utama dari meritokrasi (sistem yang menghargai prestasi).
II. Ancaman Nyata: Dampak Jangka Panjang Circle Guru
yang Tidak Sehat
Dampak dari toxic circle bukan hanya sekadar
ketidaknyamanan, tetapi ancaman serius terhadap karier, kesehatan mental, dan
idealisme kita.
1. Kematian Semangat dan Idealisme (Burnout)
Circle yang tidak sehat membunuh semangat dan idealisme. Kamu
akan melupakan tujuan awalmu: mencerdaskan. Semangatmu yang berapi-api untuk
mengajar akan digantikan oleh rasa lelah, sinisme, dan burnout
(kelelahan mental dan fisik akibat pekerjaan). Kamu akan merasa kehilangan
ketulusan, bukan karena kamu berubah, tapi karena kamu terlalu lama berada di
lingkungan yang salah.
2. Distorsi Profesionalisme
Fokus kerjamu bergeser dari mutu pendidikan menjadi mutu
citra. Alih-alih memikirkan inovasi pembelajaran, kamu sibuk memikirkan
cara agar tidak dijadikan bahan gosip atau cara menjaga jarak dari drama.
Energimu habis untuk bertahan hidup secara sosial, bukan untuk berkembang
secara profesional.
3. Kesehatan Mental yang Terganggu
Lingkungan yang penuh drama, intrik, dan kepalsuan adalah
pemicu stres kronis. Kecemasan, sulit tidur, dan bahkan depresi bisa mengintai.
Guru yang stres tidak akan bisa menjadi pendidik yang efektif. Seorang guru
yang penuh luka tidak bisa menyembuhkan atau menginspirasi muridnya.
III. Jalan Keluar: Langkah Berani Menjaga Nilai Guru Sejati
Keluar dari toxic circle bukan berarti menyerah,
tapi bentuk keberanian menjaga nilai guru sejati. Hal itu merupakan
tanda kamu punya prinsip. Lantas, apa yang bisa kamu lakukan?
1. Menjaga Jarak dari Drama (Boundary Setting)
Terapkan boundary setting (penetapan batasan) yang
jelas.
- Selektif
Mendengar: Tidak
semua obrolan di ruang guru perlu kamu dengarkan atau tanggapi, terutama
jika itu sudah mengarah ke gosip dan adu domba. Jika percakapan mulai
bernada negatif, maka ubah topik atau dengan sopan pamit untuk kembali
bekerja.
- Lindungi
Waktu: Gunakan
waktu luang di sekolah untuk hal yang produktif (menyiapkan materi,
membaca, atau berkreasi) alih-alih ikut duduk di circle gosip.
Waktumu adalah aset termahal.
2. Fokus pada Integritas dan Karya (Deep Work)
Arahkan kembali fokusmu ke hal yang benar-benar bisa kamu
kontrol: kualitas karyamu dan integritas pribadimu.
Nilai seorang guru tidak diukur dari siapa yang ia dekati,
tapi dari seberapa tulus ia mendidik.
Tingkatkan kualifikasi diri, buat inovasi di kelas, dan
dedikasikan diri pada murid. Biarkan prestasimu yang berbicara, bukan
bisikan-bisikan di belakang. Kerjamu adalah perisai terbaikmu. Guru yang fokus
pada Deep Work (kerja mendalam) akan sulit digoyahkan oleh intrik.
3. Membangun Circle Baru yang Sehat (Positive
Networking)
Kamu tidak harus sendirian. Carilah 'sekutu' baru.
- Identifikasi: Cari rekan guru yang punya semangat
positif, yang senang berbagi ilmu, bukan gosip. Mungkin mereka
adalah guru mata pelajaran lain, atau guru dari generasi lain.
- Kolaborasi
Sehat: Bangun
kolaborasi berdasarkan professional development (pengembangan
profesional). Ajak mereka untuk membuat proyek bersama, membahas
metodologi mengajar terbaru, atau mengikuti pelatihan. Ubah obrolan di
ruang guru dari Who’s Doing What Wrong? menjadi How Can We Do
Better?.
4. Berani Berkata Tidak: Menegaskan Prinsip
Menolak ikut arus negatif bukan berarti sombong, tapi
tanda kamu punya prinsip. Jangan takut dicap "tidak solider" karena
kamu menolak ikut-ikutan menyalahkan murid atau membenarkan kecurangan.
- Tolak
dengan Anggun:
Kamu tidak perlu konfrontasi. Cukup tolak dengan anggun. Misalnya, ketika
diajak bergosip, katakan: "Maaf, saya harus menyelesaikan
penilaian ini dulu," atau "Menarik, tapi saya sedang
fokus merancang modul baru."
5. Memahami Pendidikan Sebagai Panggilan Suci (Re-Centering)
Langkah terakhir adalah kembali ke pusat. Ingatlah
mengapa kamu menjadi guru. Lupakan sejenak politik sekolah, dan fokuslah pada
senyum di wajah murid saat mereka mengerti sebuah konsep.
Filosofi pendidikan (terutama dalam konteks Indonesia)
berakar pada pengabdian dan pembentukan karakter. Ketika kamu
kembali menyadari bahwa pekerjaanmu adalah sebuah panggilan suci—bukan sekadar
kompetisi jabatan—energi negatif di sekitarmu akan kehilangan daya tariknya.
💡 Keluar Bukan Berarti Gagal, Tapi Tanda Kemenangan Jiwa
Circle guru yang tidak sehat adalah ujian terbesar bagi profesionalisme dan
idealisme kita. Mereka bisa membuat kita lupa tujuan awal kita: mencerdaskan,
bukan bersaing.
Jika kamu mulai merasa kehilangan ketulusan, hal itu adalah
alarm. Keluar dari toxic circle adalah tindakan profesional yang
paling berani. Hal ini merupakan upaya untuk menyelamatkan dirimu sendiri
agar kamu bisa menyelamatkan idealisme pendidikan.
Keluar dari circle yang tidak sehat bukan berarti
sombong, tapi tanda kamu punya prinsip.
Jadilah guru yang idealis dan berprinsip, karena di tangan
guru-guru yang berintegritaslah, masa depan bangsa ini diletakkan.
Mari kita jaga integritas, fokus pada karya, dan kembali
menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.
Sumber:
https://vt.tiktok.com/ZSfXVS19D/

Posting Komentar untuk "💔 MELARIKAN DIRI DARI 'TOXIC CIRCLE' GURU: MENJAGA JIWA PENDIDIK DI TENGAH INTRIK SEKOLAH"
Posting Komentar