PERINGKAT 2 NASIONAL! 17 TIM PENELITI MTs JAWA TENGAH GUNCANG OMI 2026, SURAKARTA JADI KEKUATAN UTAMA

PERINGKAT 2 NASIONAL!
17 TIM PENELITI MTs JAWA TENGAH GUNCANG OMI 2026, SURAKARTA JADI KEKUATAN UTAMA

Menelusuri jejak juang para peneliti cilik madrasah se-Jawa Tengah, dari poros utama Kota Bengawan Solo hingga posisi runner-up nasional dalam Olimpiade Madrasah Indonesia Bidang Riset 2026

 

Ada kabar yang patut membuat dada setiap guru dan orang tua di madrasah se-Jawa Tengah berdegup lebih kencang. Dalam Daftar Peserta Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Bidang Riset Tahun 2026 jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs), nama-nama madrasah dari provinsi Jawa Tengah muncul begitu masif. Tidak tanggung-tanggung, tercatat 17 tim peneliti dari Jawa Tengah yang lolos mengikuti ajang bergengsi tersebut, tersebar di tiga bidang kajian sekaligus: Ekoteologi (Integrasi Keislaman dan Keilmuan), Sustainable Development Goals (SDGs), dan Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional.

Namun dari 17 tim tersebut, satu nama kota tampil paling menonjol dan pantas disebut sebagai poros utama kekuatan riset Jawa Tengah tahun 2026: Kota Surakarta. Sendirian, kota ini menyumbang empat dari 17 tim, hampir seperempat total wakil Jawa Tengah, sebuah pencapaian yang tidak bisa ditandingi kabupaten atau kota mana pun lainnya di provinsi ini. Yang lebih membanggakan lagi, ketika dibandingkan dengan seluruh provinsi se-Indonesia, capaian 17 tim tersebut mengantarkan Jawa Tengah menduduki peringkat kedua nasional, hanya kalah dari Jawa Timur. Mari kita bedah satu per satu, kabupaten dan kota mana saja yang berhasil mengukir prestasi tersebut, mengapa Surakarta layak didapuk sebagai kekuatan utama riset madrasah Jawa Tengah, serta bagaimana sebenarnya posisi Jawa Tengah dibandingkan provinsi-provinsi lain di seluruh Indonesia.

Peta Sebaran: Siapa Saja yang Mewakili Jawa Tengah?

Berikut adalah daftar lengkap tim asal Jawa Tengah yang berhak melaju ke tahap presentasi proposal OMI Bidang Riset Tahun 2026.

A. Bidang Ekoteologi: Integrasi Keislaman dan Keilmuan (9 Tim)

Madrasah Kab/Kota Nama Peneliti
MTsS MuhammadiyahKab. BatangMuhammad Dzaka Aditya, Ray Al Bani Daru Quthni
MTsS MuhammadiyahKab. BatangM. Bintang Rizky Tian Priyatna, Sulthon Sidqia Hajid
MTsS Banat Tajul UlumKab. GroboganFera, Nuriyyatul Falchiy, Syifa Nur Anggraeny
MTsS Tahfidh Putri Yanbu'ul Qur'an 2 MuriaKab. KudusAlayya Parameswari S., Nazifa Khairunnisa, Atmim Lana Nurona
MTsN 2 SukoharjoKab. SukoharjoYuanida Nadia Putri Ilmani, Athallah Buwana Arrsyta
MTsN Surakarta IKota SurakartaAufa Mumtaz Ahmadi, Naurah Adara Nur Annnisa, Annora Muktikaraja
MTsN Surakarta IKota SurakartaNazila Zhilali Rikza, Aline Neila Putri, Suraya Banurasmi
MTsN Surakarta IIKota SurakartaAlvaro Sakti Aviantoro, Syifa Marta Sahari
MTsN Surakarta IIKota SurakartaKhansa Aulia Zivana Alrasyid, Talitha Azka Luthfiyah, Zivanna Reviera Cinta Aqilla

B. Bidang Sustainable Development Goals/SDGs (5 Tim)

Madrasah Kab/Kota Nama Peneliti
MTsN 3 CilacapKab. CilacapNahrul Khudzaifah, Achmad Jabidy, Afika Salsabila
MTsN 3 DemakKab. DemakAulia Salwa Nabila, Nabila Putri Dewantara
MTsN 2 JeparaKab. JeparaKhinara Amelya Zhenatha, Zahwa Azria Khusniati
MTs Qudsiyyah PutriKab. KudusNovia Nizarul Zulmi, Rona Zuhroh
MTsN 2 Kota MagelangKota MagelangSyifa Aulia Ni'ma, Earlyta Azka Salsabila

C. Bidang Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional (3 Tim)

Madrasah Kab/Kota Nama Peneliti
MTsN 5 DemakKab. DemakRosyadiana Muhsinawadud, Muhammad Zidny Ilma
MTsN 1 PurbalinggaKab. PurbalinggaEka Rizki Almadina, Afifa Ramadhan Sanjaya
MTsN 2 WonosoboKab. WonosoboTahfidz Faeyza Asshiddiq

Surakarta, Kekuatan Utama yang Tak Tertandingi

Fakta yang paling mencolok dari data tersebut adalah dominasi telak Kota Surakarta. Kota yang akrab disebut Solo tersebut menyumbang empat tim sekaligus, semuanya berasal dari bidang Ekoteologi, terbagi rata antara MTsN Surakarta I dan MTsN Surakarta II yang masing-masing meloloskan dua tim. Tidak ada satu kabupaten atau kota lain di Jawa Tengah yang mampu menandingi capaian tersebut; kabupaten dengan jumlah tim terbanyak setelah Surakarta pun "hanya" mengirimkan dua tim. Artinya, satu dari empat tim Jawa Tengah yang lolos ke OMI Bidang Riset Tahun 2026 berasal dari Surakarta saja, sebuah rasio yang menegaskan posisinya sebagai kekuatan utama riset madrasah di provinsi Jawa Tengah tahun ini.

Dominasi tersebut bukan kebetulan. Surakarta selama ini dikenal sebagai kota dengan tradisi keilmuan Islam yang kuat, bertemu dengan wajah kota modern yang terbuka terhadap sains dan riset. Perpaduan dua unsur tersebut tampaknya menjadi bekal ideal murid-murid madrasahnya untuk mengangkat tema ekoteologi, sebuah bidang yang secara khusus menuntut kemampuan menjalin dialog antara nilai-nilai keislaman dengan keilmuan modern semacam ekologi dan lingkungan hidup. Yang juga menarik, kedua madrasah negeri di kota tersebut, MTsN Surakarta I dan MTsN Surakarta II, sama-sama berhasil meloloskan dua tim sekaligus di bidang yang sama, menunjukkan bahwa keunggulan riset di Surakarta bukan hanya milik satu madrasah unggulan, melainkan sudah menjadi budaya yang merata di antara madrasah-madrasah negeri kota tersebut.

Kudus, Batang, dan Demak: Kekuatan Kedua di Belakang Surakarta

Di luar Surakarta, kekuatan riset Jawa Tengah tetap tersebar cukup merata. Kabupaten Kudus misalnya, yang dikenal luas sebagai "Kota Santri" karena kepadatan pesantren dan madrasah salafnya, berhasil meloloskan dua tim dari dua madrasah berbasis pesantren yang berbeda, yakni MTsS Tahfidh Putri Yanbu'ul Qur'an 2 Muria dan MTs Qudsiyyah Putri, masing-masing di bidang Ekoteologi dan SDGs. Pencapaian tersebut tetap layak diapresiasi sebagai bukti bahwa madrasah berbasis pesantren mampu bersaing di ranah riset ilmiah modern, meski secara jumlah tim tetap berada di bawah dominasi Surakarta.

Kabupaten Batang juga patut disorot dengan cara yang berbeda. Kabupaten ini berhasil meloloskan dua tim sekaligus, namun uniknya keduanya berasal dari satu madrasah yang sama, yaitu MTsS Muhammadiyah, dan sama-sama berlaga di bidang Ekoteologi. Pola tersebut menunjukkan bahwa satu madrasah swasta di kabupaten yang jarang disebut sebagai pusat pendidikan unggulan pun bisa membina dua tim riset sekaligus dalam satu bidang yang sama, sebuah bukti bahwa kekuatan riset bisa lahir dari konsistensi pembinaan internal satu madrasah, bukan semata dari banyaknya jumlah madrasah di suatu daerah.

Tak kalah menarik, Kabupaten Demak, tanah bersejarah tempat Kesultanan Demak pernah berjaya sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, turut meloloskan dua tim dengan pola yang berbeda dari Batang maupun Kudus. Kedua tim Demak berasal dari dua madrasah negeri yang berlainan, yaitu MTsN 3 Demak di bidang SDGs dan MTsN 5 Demak di bidang Transformasi Digital. Sebaran lintas madrasah dan lintas bidang tersebut menegaskan bahwa kekuatan riset di Demak tidak bertumpu pada satu madrasah saja, melainkan sudah mengakar di lebih dari satu lembaga sekaligus merambah dua tema riset yang berbeda dalam waktu bersamaan.

Mengapa Ekoteologi Jadi Primadona di Jawa Tengah?

Dari tiga bidang yang dilombakan, Ekoteologi menjadi bidang dengan jumlah peserta terbanyak dari Jawa Tengah, yaitu sembilan tim, jauh melampaui SDGs dengan lima tim dan Transformasi Digital dengan tiga tim. Pola tersebut masuk akal jika kita memahami karakter madrasah sebagai lembaga pendidikan yang lahir dari rahim tradisi keislaman. Tema ekoteologi, yang menuntut peserta mengintegrasikan wawasan keislaman dengan isu-isu keilmuan kontemporer adalah medan yang paling akrab bagi murid madrasah dibandingkan sekolah umum lainnya. Guru-guru pembimbing riset di madrasah pun kemungkinan besar merasa lebih percaya diri mendampingi murid mengangkat tema yang bersinggungan langsung dengan kurikulum diniyah yang mereka ajarkan sehari-hari, seperti fikih lingkungan, konsep khalifah fil ardh, atau etika Islam dalam menjaga alam semesta.

Menariknya, dua bidang lain yakni SDGs dan Transformasi Digital justru diwakili oleh madrasah-madrasah yang tersebar di kabupaten-kabupaten dengan karakter geografis dan sosial yang beragam: dari Cilacap di pesisir selatan, Jepara di pesisir utara, hingga Wonosobo yang berada di dataran tinggi. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa minat riset terhadap isu pembangunan berkelanjutan dan transformasi digital tidak terpusat di kota-kota besar saja, melainkan sudah merambah ke pelosok Jawa Tengah. Hal ini merupakan kabar baik bagi pemerataan kualitas pendidikan riset di madrasah, sekaligus bukti bahwa jarak dari pusat kota bukan lagi penghalang bagi murid madrasah untuk berpikir global melalui isu-isu seperti keberlanjutan lingkungan dan digitalisasi.

Kabupaten dan Kota Mana yang Belum Terwakili?

Dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah, hanya sebelas yang namanya muncul dalam daftar peserta OMI Bidang Riset 2026 jenjang MTs ini, yaitu Batang, Grobogan, Kudus, Sukoharjo, Surakarta, Cilacap, Demak, Jepara, Magelang, Purbalingga, dan Wonosobo. Artinya, masih ada puluhan kabupaten dan kota lain di Jawa Tengah yang belum mengirimkan wakilnya pada gelaran tahun ini. Fakta tersebut semestinya menjadi cambuk motivasi sekaligus peluang emas bagi madrasah-madrasah di wilayah yang belum terwakili untuk mulai serius membina tim riset sejak dini, sehingga tahun-tahun mendatang nama mereka juga bisa menghiasi daftar kebanggaan seperti ini.

Bagaimana Posisi Jawa Tengah di Kancah Nasional?

Setelah membedah kekuatan riset Jawa Tengah dari dalam, saatnya kita menengok ke luar: bagaimana sebenarnya posisi provinsi ini jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain se-Indonesia dalam ajang OMI Bidang Riset 2026 jenjang MTs? Berdasarkan penghitungan menyeluruh terhadap seluruh 90 tim peserta dari tiga bidang riset (Ekoteologi, SDGs, dan Transformasi Digital), hanya ada satu provinsi yang mampu mengungguli Jawa Tengah, yaitu Jawa Timur dengan 22 tim. Jawa Tengah sendiri, dengan 17 tim, berhasil menduduki peringkat kedua nasional, unggul jauh di atas Daerah Istimewa Yogyakarta dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta yang sama-sama mengumpulkan 9 tim di peringkat ketiga.

Berikut adalah tabel 8 besar provinsi dengan jumlah peserta OMI Bidang Riset 2026 jenjang MTs terbanyak se-Indonesia, diurutkan dari peringkat pertama hingga peringkat kedelapan.

Peringkat Provinsi Jumlah Tim
1Jawa Timur22
2Jawa Tengah17
3Daerah Istimewa Yogyakarta9
3DKI Jakarta9
5Aceh5
5Jawa Barat5
5Sumatera Barat5
8Bali3

Data tersebut semakin menegaskan bahwa julukan "kekuatan utama" yang disematkan pada Surakarta di tingkat provinsi Jawa Tengah ternyata memiliki gaung hingga ke tingkat nasional. Bayangkan saja, satu kota ini sendirian menyumbang empat tim, yang berarti hampir seperempat dari total 17 tim milik Jawa Tengah, provinsi yang berhasil menembus posisi runner-up nasional di bawah Jawa Timur. Perbandingan tersebut juga menunjukkan betapa ketatnya persaingan antarprovinsi di Pulau Jawa, sebab dari lima besar klasemen, tiga di antaranya, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta, berasal dari pulau yang sama, ditambah Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga masih berada di jantung Pulau Jawa bagian selatan. Sementara itu, provinsi-provinsi di luar Jawa seperti Aceh dan Sumatera Barat tetap mampu menembus posisi lima besar dengan masing-masing 5 tim, sebuah bukti bahwa semangat riset madrasah bukan monopoli Pulau Jawa semata.

Pelajaran Berharga bagi Madrasah di Seluruh Jawa Tengah

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari sebaran data tersebut. Pertama, kekuatan Surakarta sebagai poros utama Jawa Tengah membuktikan bahwa konsistensi antarmadrasah dalam satu kota, bukan hanya kejayaan satu madrasah unggulan adalah kunci untuk mendominasi sebuah ajang riset tingkat nasional. Kedua, keberhasilan sebuah madrasah dalam ajang riset juga bukan semata soal status negeri atau swasta, sebab dalam daftar ini madrasah swasta seperti MTsS Muhammadiyah Batang, MTsS Banat Tajul Ulum Grobogan, hingga dua madrasah dari Kudus, tetap berhasil menembus persaingan meski jumlahnya belum sebanyak Surakarta. Ketiga, kerja sama tim tampak menjadi pola dominan, sebab mayoritas tim terdiri atas dua hingga tiga peneliti, kecuali satu tim tunggal dari MTsN 2 Wonosobo yang berani tampil hanya dengan satu peneliti, sebuah keberanian yang juga layak diapresiasi. Keempat, sebaran bidang riset menunjukkan bahwa madrasah tidak perlu memaksakan diri hanya pada satu tema tertentu, melainkan bisa mengeksplorasi ranah SDGs maupun transformasi digital sesuai dengan kekuatan dan konteks lokal masing-masing.

Bagi para guru pembimbing riset, murid, dan orang tua di madrasah se-Jawa Tengah, semoga data tersebut menjadi pengingat bahwa jalan menuju panggung riset nasional terbuka lebar, tidak peduli seberapa jauh letak madrasah dari ibu kota provinsi. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai, ketekunan membimbing, dan keyakinan bahwa murid madrasah pun mampu berbicara di level nasional dengan gagasan-gagasan ilmiah yang matang. Selamat kepada seluruh 17 tim yang telah mengharumkan nama Jawa Tengah. Semoga langkah kalian di tahap presentasi proposal berjalan lancar dan membawa hasil terbaik.

 

Catatan: Seluruh data nama peneliti, nama madrasah, sebaran kabupaten/kota, serta perbandingan jumlah tim antarprovinsi dalam artikel ini disusun langsung berdasarkan penghitungan menyeluruh terhadap Daftar Peserta Presentasi Proposal OMI Bidang Riset Tahun 2026 jenjang MTs. Apabila terdapat pembaruan resmi dari panitia terkait daftar peserta, pembaca disarankan merujuk pada sumber resmi Kementerian Agama.


Posting Komentar untuk "PERINGKAT 2 NASIONAL! 17 TIM PENELITI MTs JAWA TENGAH GUNCANG OMI 2026, SURAKARTA JADI KEKUATAN UTAMA"