MENGAPA GURU "TERLALU KOMPETEN" SERING KALI MENJADI "ANCAMAN" DI SEKOLAH? SEBUAH REFLEKSI UNTUK REKAN PENDIDIK

Dunia kerja adalah rimba yang penuh teka-teki, tak terkecuali di lingkungan institusi pendidikan seperti sekolah atau madrasah. Kita sering mendengar petuah, "Bekerjalah sebaik mungkin, maka karirmu akan cemerlang." Namun, dalam realitasnya, ada sebuah fenomena yang jarang dibicarakan secara terbuka namun sangat terasa: Orang kompeten justru sering tidak disukai.

Kompetensi di kantor terkadang tidak dilihat sebagai aset, melainkan sebagai ancaman.

Bagaimana jika hal ini terjadi di lingkungan sekolah?

Apakah menjadi guru yang paling rajin, paling melek teknologi, dan paling disukai murid justru bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri?

Mari kita bedah fenomena tersebut secara mendalam dalam konteks dunia pendidikan.

1. Kompetensi adalah Cermin: Saat Prestasi Menelanjangi Ketidakmampuan Orang Lain

Di sekolah, kompetensi seorang guru biasanya diukur dari banyak hal: kemampuan administrasi yang rapi, penguasaan teknologi informasi yang mumpuni, kreativitas dalam metode pembelajaran (seperti penerapan Deep Learning atau Kurikulum Berbasis Cinta), hingga kedekatan emosional dengan murid.

Masalah muncul saat seorang guru tampil "terlalu menonjol", karena kompetensi itu membandingkan.

Ketika Anda adalah guru yang paling cepat menyelesaikan perangkat pembelajaran, paling aktif berinovasi, dan paling sering memenangkan lomba atau mengantarkan murid ke ajang nasional (seperti olimpiade), secara tidak langsung Anda sedang membuat standar baru. Bagi rekan sejawat yang sudah berada di "zona nyaman" selama bertahun-tahun, standar baru yang Anda ciptakan tersebut terasa sangat melelahkan.

Mereka mungkin merasa:

  • "Kalau dia bisa, kenapa kami tidak?"
  • "Dia membuat kita semua kelihatan malas di mata Kepala Sekolah."

Hal inilah yang memicu adanya "jarak". Bukan karena Anda salah, tapi karena kehadiran Anda menelanjangi ketidakmampuan atau keengganan orang lain untuk berkembang.

2. Senioritas vs Inovasi: Ketika "Ancaman" Itu Nyata

Dunia sekolah di Indonesia masih sangat kental dengan budaya senioritas. Guru senior sering kali memiliki "wilayah kekuasaan" atau cara kerja tradisional yang sudah mapan. Saat guru muda atau guru yang sangat kompeten datang dengan ide-ide segar, misalnya mengganti papan tulis dengan aplikasi interaktif atau mengusulkan sistem penilaian yang lebih transparan, hal tersebut bisa dianggap sebagai serangan terhadap otoritas.

Mereka yang paling takut dibandingkan biasanya adalah yang memiliki jabatan atau senioritas. Di sekolah, hal ini bisa mewujud dalam bentuk:

  • Pengucilan secara halus dalam rapat.
  • Pemberian beban kerja yang tidak proporsional dengan dalih "kamu kan lebih jago".
  • Sinis terhadap inovasi yang kita lakukan.

3. Dilema Guru Berprestasi: Aset atau Beban?

Idealnya, guru yang kompeten adalah aset bagi madrasah. Namun, di lingkungan yang toksik, guru kompeten dianggap sebagai beban.

Mengapa?

Karena guru kompeten biasanya kritis. Mereka tidak sekadar menjalankan perintah, tapi menanyakan "mengapa" dan "bagaimana" agar proses pendidikan menjadi lebih baik.

Di sekolah, "keterlalu-kompetenan" sering kali dibayar mahal dengan:

1. Workload yang Berlebihan: Karena Anda bisa segalanya, semua tugas  ditumpukan pada Anda.

2. Social Isolation: Anda mungkin tidak diajak mengobrol di ruang guru karena rekan lain merasa "inferior" atau justru merasa Anda "cari muka".

3. Mental Burnout: Tekanan untuk terus menjadi yang terbaik sekaligus menghadapi resistensi dari lingkungan sekitar bisa sangat menguras energi.

4. Bagaimana Bertahan sebagai Guru Kompeten?

Lantas, apa solusinya?

Sebagai pendidik, tanggung jawab moral kita adalah memberikan yang terbaik bagi murid. Namun, kita perlu memiliki strategi agar kompetensi kita tidak membakar diri kita sendiri.

Berikut adalah beberapa tips "survival" bagi guru kompeten di sekolah:

a. Tetaplah Rendah Hati (Humility is Key)

Gunakan kompetensi Anda untuk membantu, bukan untuk menggurui. Jika Anda mahir teknologi informasi, tawarkan bantuan untuk mengajari rekan lain secara personal tanpa membuat mereka merasa bodoh. Ubah citra "ancaman" menjadi "sumber bantuan".

b. Bangun Komunitas (Networking)

Jangan sendirian. Cari rekan-rekan yang memiliki visi yang sama. Jika di sekolah Anda hanya ada sedikit yang sefrekuensi, bergabunglah dengan komunitas di luar (seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran/MGMP atau komunitas blog pendidikan). Hal ini akan menjaga kewarasan Anda.

c. Fokus pada Murid, Bukan Pengakuan

Ingatlah alasan utama kita menjadi guru: Murid. Jika rekan kerja atau atasan tidak menyukai progresivitas Anda, lihatlah binar mata murid yang antusias dengan pembelajaran Anda. Itulah validasi yang sesungguhnya.

d. Komunikasi Politik yang Baik

Di dunia profesional, kepintaran saja tidak cukup; kita butuh "kecerdasan politik". Pelajari cara menyampaikan ide tanpa menyinggung ego senior.

5. Pesan untuk Kepala Sekolah dan Pembuat Kebijakan

Jika Anda adalah seorang pemimpin di sekolah, jangan pernah biarkan guru kompeten Anda merasa terancam atau diasingkan. Guru-guru inilah yang menjadi motor penggerak kualitas pendidikan di lembaga Anda.

Ketika seorang guru berprestasi mulai "pasang jarak", itu bukan kehilangan satu orang pegawai, melainkan kehilangan masa depan inovasi di sekolah tersebut. Ciptakan iklim kerja yang menghargai kompetensi, bukan sekadar durasi masa kerja.

Menjadi Terang di Tengah Kegelapan

Menjadi guru yang kompeten memang berat. Ada beban ekspektasi, ada rasa iri yang mengintai, dan ada sistem yang terkadang lebih menghargai kepatuhan daripada kreativitas. Namun, jangan sampai kita kehilangan jati diri hanya agar "disukai" di kantor.

Dunia pendidikan kita butuh lebih banyak guru yang "mengancam" kemalasan, "mengancam" kebodohan, dan "mengancam" zona nyaman. Tetaplah berkarya melalui tulisan di blog, inovasi di kelas, dan dedikasi untuk para murid. Karena pada akhirnya, sejarah pendidikan tidak akan mencatat siapa yang paling disukai di ruang guru, melainkan siapa yang paling banyak memberi dampak bagi perubahan bangsa.

"Kompetensi memang bisa membuat orang lain tidak nyaman, tapi karakterlah yang membuat Anda bertahan."

Posting Komentar untuk "MENGAPA GURU "TERLALU KOMPETEN" SERING KALI MENJADI "ANCAMAN" DI SEKOLAH? SEBUAH REFLEKSI UNTUK REKAN PENDIDIK"