Buah kecil berwarna merah yang tumbuh liar di tepi jalan, halaman sekolah, dan pekarangan rumah itu selama ini kerap dipandang sebelah mata. Anak-anak memungutnya sambil bermain, sementara orang dewasa membiarkannya jatuh dan terbuang. Namun, di tangan dua murid kelas VIII C Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Salatiga, buah kersen (Muntingia calabura L.) bertransformasi menjadi KERSGUM, yaitu permen gummy kersen yang menggebrak Kompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI) 2026 dan menyabet medali perak bagi MTs Negeri Salatiga.

Menggebrak KREASI 2026: Prestasi yang Layak Dicatat
Berdasarkan rilis hasil kompetisi, tim yang beranggotakan Qaisara Mazaya Nashita dan Salsa Aulia Ananta meraih medali perak pada subbidang Biomedis, Farmasi, Gizi, dan Kesehatan. Keduanya berasal dari Kelas VIII C MTs Negeri Salatiga dan dibimbing oleh Lilis Erfianti, M.Pd. serta Cindy Nisaul Aulia, S.Pd. KREASI 2026 sendiri tampil dengan identitas “Think It. Make It.”, diselenggarakan bersama ABAK Academy serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Capaian ini bermakna karena inovasi yang dibawa bukan sekadar produk camilan, melainkan sebuah penelitian utuh dengan rumusan masalah, metode, uji laboratorium, analisis data, hingga rekomendasi pengembangan. Murid madrasah tingkat tsanawiyah yang berani menembus uji laboratorium merupakan sinyal kuat bahwa budaya riset di madrasah sedang bertumbuh.
Mengapa Kersen? Latar Belakang Gagasan
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai hiperglikemia, dan bila tidak dikelola dengan baik, dapat berujung pada komplikasi pada jantung, ginjal, saraf, dan penglihatan. Pengelolaannya tidak hanya bertumpu pada terapi obat, tetapi juga pola makan. Dari sinilah gagasan pangan fungsional, yakni pangan yang selain bergizi juga memberi manfaat kesehatan tambahan, mendapat perhatian.
Buah kersen mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan saponin. Sejumlah studi yang dirujuk, antara lain Sowmya dan Jayaprakash (2021) serta Solikhah dan Solikhah (2021, 2023), mengaitkan ekstrak kersen dengan aktivitas antioksidan dan antidiabetik pada model percobaan. Namun, penting dicatat bahwa rujukan tersebut menjadi landasan potensi, bukan bukti bahwa KERSGUM menurunkan gula darah.
Enam Langkah Melahirkan KERSGUM
Pembuatan KERSGUM mengikuti pola permen gummy buah, yakni campuran bahan buah dengan pembentuk gel.

Membedah Hasil Uji Flavonoid Total
Kadar flavonoid total ditetapkan dengan metode kolorimetri AlCl₃ menggunakan kuersetin sebagai standar dan dibaca pada panjang gelombang serapan maksimum 435,3 nm. Hasil pengujian tersaji pada tabel berikut.
| Ulangan | Absorbansi | Konsentrasi (mg/L) | Berat ekstrak (g) | Kadar (mg QE/100 g) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 0,350 | 17,679 | 1,2254 | 4,328 |
| 2 | 0,349 | 17,617 | 1,2254 | 4,313 |
| 3 | 0,351 | 17,741 | 1,2254 | 4,343 |
| Rerata | 4,328 | |||
Rentang antarulangan hanya 0,030 mg QE/100 g (4,313 hingga 4,343). Dari data tabel, simpangan baku sekitar 0,015 atau koefisien variasi sekitar 0,35%, yang menunjukkan presisi pengukuran yang baik. Linearitas kurva standar kuersetin sebesar R² = 0,9882. Perlu dipahami bahwa data tersebut membuktikan keberadaan flavonoid pada ekstrak, bukan khasiat produk akhir.
Uji Kesukaan: Tekstur Juara, Bentuk Perlu Dibenahi
Sebanyak 20 panelis menilai KERSGUM pada lima parameter dengan skala hedonik 1 sampai 5. Rerata keseluruhan mencapai 4,00 dengan kriteria “suka”. Diagram berikut meringkas capaian tiap parameter.
Tekstur memperoleh skor tertinggi, yakni 5,00 (sangat suka), sedangkan bentuk menjadi yang terendah dengan 3,00 (cukup suka) karena dinilai kurang menarik. Rincian data panelis memperlihatkan pola yang menarik: seluruh 20 panelis memberi nilai 5 pada tekstur, sementara pada bentuk, lima panelis memberi nilai 2, sepuluh panelis memberi nilai 3, dan lima panelis memberi nilai 4.
Nilai Tambah Ekonomi bagi Masyarakat
Salah satu gagasan yang tidak kalah penting adalah dimensi ekonomi. Kersen tergolong hasil hayati non-budidaya yang nyaris tidak bernilai jual dan sering terbuang. Pengolahan menjadi KERSGUM berpotensi menjadikannya komoditas bernilai tambah serta membuka peluang usaha rumah tangga atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Gagasan tersebut masih berupa proyeksi, tetapi arahnya relevan dengan semangat pemanfaatan pangan lokal.
Apresiasi yang Jujur Harus Disertai Ketelitian
1. Klaim glikemik belum teruji. Aktivitas pengendalian glukosa KERSGUM tidak dievaluasi langsung. Frasa “pendukung kontrol glikemik” bersifat potensial dan bertumpu pada literatur.
2. Konversi satuan belum transparan. Konsentrasi terukur 17,679 mg/L dan hasil akhir 4,328 mg QE/100 g, tetapi volume pelarutan dan faktor pengenceran tidak tersedia. Tahap konversi ini perlu verifikasi dengan data mentah.
3. Ulangan bersifat teknis. Berat ekstrak sama pada ketiga ulangan (1,2254 g), sehingga presisi yang baik mencerminkan keterulangan pengukuran, bukan variasi antarbatch produksi.
4. Desain uji belum terlaporkan penuh. Metode menyebutkan kontrol dan tiga formula (F1–F3), tetapi hasil hanya menyajikan satu rerata untuk KERSGUM tanpa perbandingan dengan kontrol. Belum ada pula uji statistik dan tekstur dengan skor seragam 5 oleh seluruh panelis layak ditelaah ulang dari sisi instrumen dan efek langit-langit (ceiling effect).
5. Kandungan gula dan kalori belum diukur. Untuk produk yang diposisikan bagi penderita diabetes, data ini krusial. Jumlah ekstrak per butir gummy juga belum dinyatakan, sehingga asupan flavonoid per sajian belum dapat diperkirakan.
Catatan tersebut tidak dimaksudkan mengurangi penghargaan. Untuk penelitian murid tingkat menengah pertama, kejujuran ilmiah dalam membatasi klaim justru merupakan nilai plus yang patut diteladani.
Jalan Pengembangan
| Tahap | Fokus | Tujuan |
|---|---|---|
| 1 | Optimasi formula (konsentrasi ekstrak dan pembentuk gel) | Rasa, tekstur, warna, dan bentuk lebih optimal |
| 2 | Uji antidiabetes in vitro (α-glukosidase dan α-amilase) | Memperkuat bukti potensi pengendalian glukosa |
| 3 | Uji stabilitas penyimpanan, kadar gula, dan kalori | Data karakteristik dan nilai gizi yang lengkap |
Penutup
KERSGUM membuktikan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari bahan yang mahal atau langka. Terkadang inovasi bermula dari buah yang jatuh di bawah pohon. Medali perak yang disabet pada KREASI 2026 adalah pengakuan atas keberanian bertanya, ketekunan bereksperimen, dan kesediaan menguji gagasan di laboratorium. Langkah berikutnya, yaitu pembuktian efek glikemik secara langsung, akan menentukan apakah KERSGUM layak disebut pangan fungsional dalam arti yang sesungguhnya. Selamat kepada Qaisara, Salsa, para pembimbing, dan keluarga besar MTs Negeri Salatiga.
