ALASAN NUMERASI BUKAN TANGGUNG JAWAB GURU MATEMATIKA SAJA
|
ALASAN NUMERASI BUKAN TANGGUNG JAWAB GURU MATEMATIKA SAJA
|
|
Pertanyaan "Apakah numerasi tanggung jawab guru matematika saja?", jawabannya adalah tidak. Artikel berikut menguraikan beberapa alasannya: (1) numerasi didefinisikan sebagai penggunaan matematika, bukan sekadar materi matematika; (2) yang dikerahkan adalah pengetahuan sekaligus kemampuan menggunakannya; (3) numerasi bukan sekadar berhitung; (4) numerasi perlu dipelajari di semua mata pelajaran; dan (5) persoalan numerasi nyata hadir di mata pelajaran lain. Kesimpulannya, numerasi adalah tanggung jawab bersama dengan peran berbeda: guru matematika membangun fondasinya, guru mata pelajaran lain memberi ruang untuk menggunakannya.
|
Artikel ini mengajak kita menelaah alasan di balik sebuah jawaban yang singkat, yaitu tidak. Jawaban singkat dan perlu alasan yang dapat diuji. Dalam percakapan sehari-hari, istilah "numerasi" hampir selalu dialamatkan kepada satu pihak, yakni guru matematika. Ketika hasil asesmen kemampuan numerasi murid dinilai rendah, telunjuk sering mengarah ke pembelajaran matematika. Anggapan tersebut terdengar logis, tetapi sebuah pertanyaan "Apakah Numerasi Tanggung Jawab Guru Matematika Saja?" menawarkan jawaban yang tegas dan layak dikaji secara saksama. Artikel berikut menguraikan beberapa alasan di balik jawaban dari pertanyaan tersebut secara berurutan, menguji kekuatannya, dan menyoroti hal-hal yang masih perlu dijernihkan agar gagasan ini tidak berhenti sebagai slogan.
Alasan Pertama: Definisi Numerasi Menuntut Penggunaan, Bukan Sekadar Materi
Perdebatan tentang siapa yang bertanggung jawab hanya dapat diselesaikan setelah definisinya jelas. Rumusan numerasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan matematika untuk menjelaskan kejadian, menyelesaikan masalah, atau mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Perhatikan bahwa rumusan tersebut memuat tiga fungsi sekaligus, dan ketiganya berorientasi pada penggunaan, bukan pada penguasaan prosedur semata.
1 Menjelaskan Kejadian Memakai konsep matematis untuk memahami mengapa sesuatu terjadi. |
2 Menyelesaikan Masalah Menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan nyata. |
3 Mengambil Keputusan Menimbang data dan angka sebelum menentukan pilihan. |
Alasan Kedua: Yang Dikerahkan Dua Hal, Bukan Satu
Bagian paling penting terletak pada penegasan bahwa yang dikerahkan dalam numerasi bukan hanya pengetahuan matematikanya, tetapi juga kemampuan untuk menggunakannya ketika menghadapi suatu persoalan. Perbedaan kecil ini membawa konsekuensi besar. Seorang murid dapat hafal rumus dan terampil menghitung, namun tidak tahu kapan dan bagaimana rumus tersebut relevan ketika bertemu persoalan yang tidak berbentuk soal latihan.
| Aspek | Pengetahuan Matematika | Kemampuan Menggunakannya |
|---|---|---|
| Pertanyaan kunci | Apa konsep dan prosedurnya? | Kapan dan untuk apa konsep itu dipakai? |
| Wujud | Konsep, rumus, keterampilan menghitung | Kesiapan menghadapi persoalan nyata |
| Tempat berkembang | Terutama pembelajaran matematika | Berbagai bidang pembelajaran |
Alasan Ketiga: Numerasi Bukan Sekadar Berhitung
Guru perlu memahami pengertian numerasi agar tidak terjadi miskonsepsi, yaitu anggapan bahwa numerasi sama dengan kemampuan berhitung dan angka saja. Numerasi berkaitan dengan penggunaan matematika pada konten bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta data dan ketidakpastian, dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, cakupan numerasi lebih luas daripada operasi hitung.
| Bilangan | Aljabar | Geometri dan Pengukuran | Data dan Ketidakpastian |
| Semuanya berkonteks dalam kehidupan sehari-hari | |||
Implikasinya tegas: jika numerasi hanya dipahami sebagai berhitung, wajar bila numerasi dianggap urusan guru matematika. Namun, jika numerasi dipahami sebagai penggunaan bilangan, pengukuran, dan data untuk memahami dunia, maka numerasi hadir hampir di setiap pelajaran dan ruang kelas.
Alasan Keempat: Numerasi Perlu Dipelajari di Semua Mata Pelajaran (Steen, 2001)
Merujuk pada Steen (2001), yang menurut artikelnya menjelaskan bahwa agar numerasi bermanfaat bagi murid, numerasi harus dipelajari dalam berbagai konteks dan di semua mata pelajaran sekolah, bukan hanya matematika. Artikel itu juga menekankan bahwa numerasi tidak hanya menitikberatkan pada proses penyelesaian, tetapi juga pada kemampuan menginterpretasi dan mengevaluasi hasil penyelesaian soal atau permasalahan yang diselesaikan.
Dua poin dari rujukan tersebut patut digarisbawahi. Pertama, alasan numerasi harus lintas mata pelajaran bersifat fungsional: manfaatnya hanya terwujud jika murid berlatih di banyak konteks. Kedua, numerasi menuntut tahap yang sering terlewat di kelas, yaitu menafsirkan dan menilai hasil. Angka yang benar tetapi tidak dipahami maknanya belum menjadi numerasi.
Alasan Kelima: Persoalan Numerasi Nyata Hadir di Bidang Lain
Contohnya adalah pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), ketika murid menganalisis pertumbuhan ekonomi negara Indonesia dari tahun ke tahun. Persoalan tersebut jelas melibatkan bilangan, pengukuran, atau data, tetapi pelajarannya tetap IPS. Pertanyaan yang menyusul kemudian adalah: haruskah guru IPS mengajarkan matematika? Jawabannya adalah tidak. Pembelajaran tetap berfokus pada pemahaman pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika murid memakai data atau grafik, pengetahuan matematis tersebut membantu mereka memahami fenomena yang sedang dipelajari. Prinsipnya: numerasi diterapkan dengan tetap memperhatikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Alur berpikirnya dapat digambarkan sebagai berikut.
Fondasi dari matematika Membaca data, memahami grafik, membandingkan nilai |
➜ | Ruang penggunaan di IPS Data pertumbuhan ekonomi dipakai sebagai bahan analisis |
➜ | Tujuan tetap tercapai Murid memahami fenomena ekonomi yang dipelajari |
Ilustrasi: Seperti Apa Wujudnya di Kelas?
Misalkan seorang guru IPS menampilkan grafik pertumbuhan ekonomi sebuah negara, contoh selama lima tahun.
| Pertumbuhan Ekonomi Negara (%) | ||
|---|---|---|
| Tahun 1 | 4,8 | |
| Tahun 2 | 5,1 | |
| Tahun 3 | 2,3 | |
| Tahun 4 | 4,0 | |
| Tahun 5 | 5,4 | |
Pertanyaan yang diajukan guru IPS tetap bernuansa IPS: "Mengapa pertumbuhan menurun tajam pada Tahun 3 dan faktor apa yang mendorong pemulihannya?" Untuk menjawabnya, murid perlu membaca grafik, menyadari bahwa penurunan dari Tahun 2 ke Tahun 3 adalah 2,8 poin persentase (5,1 dikurangi 2,3), dan bahwa dari Tahun 3 ke Tahun 5 terjadi kenaikan 3,1 poin persentase (5,4 dikurangi 2,3). Perhitungannya sederhana, tetapi tanpa kemampuan tersebut, analisis ekonominya tidak berpijak pada data. Inilah yang dimaksud sebagai pengetahuan matematis yang membantu murid memahami fenomena.
Jawaban Akhir: Tanggung Jawab Bersama dengan Peran Berbeda
Semua alasan tersebut bermuara pada rumusan yang ringkas: numerasi merupakan tanggung jawab bersama dengan peran yang berbeda. Guru matematika membangun fondasinya, sedangkan guru pelajaran lain memberi ruang untuk menggunakannya.
| Pihak | Peran dalam Numerasi | Yang Tidak Perlu Dilakukan |
|---|---|---|
| Guru Matematika | Membangun fondasi pengetahuan dan kemampuan menggunakannya | Memikul sendirian seluruh capaian numerasi sekolah |
| Guru Mata Pelajaran Lain | Memberi ruang bagi murid untuk menggunakan numerasi dalam konteks pelajaran | Mengajarkan matematika menggantikan tujuan pembelajaran mapelnya |
Catatan Kritis: Agar "Tanggung Jawab Bersama" Tidak Menjadi Slogan
Argumen ini kuat pada tataran konseptual, tetapi ada beberapa celah yang perlu diakui secara jujur.
| Celah | Penjelasan |
|---|---|
| Tanggung jawab bersama bisa berarti tanggung jawab siapa pun | Tanpa pembagian yang konkret, "bersama" mudah berubah menjadi "bukan urusan saya". |
| Urutan "fondasi dahulu, penggunaan kemudian" perlu diuji | Di kelas, penggunaan di mapel lain dapat pula memperkuat pemahaman, sehingga hubungannya mungkin dua arah. |
| Risiko terlalu longgar | Pesan "numerasi ada di mana-mana" dapat mendorong guru menempelkan angka secara dangkal agar tampak bernumerasi, padahal tujuan pembelajaran mapelnya tidak membutuhkannya. |
Celah-celah tersebut tidak membatalkan pesan pokok, tetapi mengingatkan bahwa gagasan yang benar tetap membutuhkan rancangan pelaksanaan.
Apa yang Dapat Dilakukan Sekolah?
| 1 | Samakan pemahaman. Pastikan seluruh guru memahami bahwa numerasi bukan sekadar berhitung. |
| 2 | Cari titik temu. Tinjau materi mapel nonmatematika yang secara alami memuat bilangan, pengukuran, atau data. |
| 3 | Jaga tujuan pembelajaran. Gunakan numerasi sebagai alat untuk mencapai tujuan mapel masing-masing, bukan menggantikannya. |
| 4 | Latih penafsiran. Ajak murid menafsirkan dan menilai hasil, bukan hanya menemukan angka. |
| 5 | Berkoordinasi. Guru matematika dan guru mapel lain berbagi informasi tentang materi dan kebutuhan murid. |
Penutup
Numerasi bukan hanya urusan guru matematika karena numerasi adalah kemampuan menggunakan pengetahuan matematika untuk menjelaskan kejadian, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan, dan persoalan semacam itu hadir di berbagai bidang pembelajaran. Guru mapel lain tidak dituntut menjadi guru matematika; mereka dituntut menyediakan ruang agar pengetahuan yang telah dibangun dapat dipakai dengan bermakna. Dan guru matematika tidak boleh merasa selesai ketika murid mampu menghitung, sebab tugasnya adalah memastikan murid siap menggunakan apa yang telah dipelajari.
|
Guru Matematika membangun fondasinya.
Guru pelajaran lain memberi ruang untuk menggunakannya. |
Referensi: Steen, L. A. "Mathematics and Numeracy: Two Literacies, One Language." The Mathematics Educator (Journal of the Singapore Association of Mathematics Educators), 6:1 (2001) 10-16

Posting Komentar untuk "ALASAN NUMERASI BUKAN TANGGUNG JAWAB GURU MATEMATIKA SAJA"
Posting Komentar