MENAMBAL EMBER BOCOR: CARA SEKOLAH MEMBANGUN KEMBALI KEPERCAYAAN YANG RETAK
MENAMBAL EMBER BOCOR: CARA SEKOLAH MEMBANGUN KEMBALI KEPERCAYAAN YANG RETAKSetiap ember yang bocor sebenarnya masih bisa ditambal, asal lubangnya ditemukan sebelum airnya benar-benar habis. Begitu pula kepercayaan di sekolah: kepercayaan tidak runtuh dalam semalam, dan karena itu kepercayaan juga bisa dibangun kembali, asal sekolah berani mengakui di mana kebocorannya berada.
Bayangkan sebuah ruangan berisi sepuluh kursi disusun melingkar. Sembilan berwarna hitam, satu berwarna merah. Tidak ada plang bertuliskan "kursi favorit". Tidak ada pengumuman resmi siapa yang boleh duduk di sana. Tapi semua orang di ruangan tersebut tahu persis kursi mana yang "aman" dan siapa yang berhak mendudukinya kapan pun ia mau. Itulah favoritism: tidak pernah butuh surat keputusan untuk berlaku, hanya butuh pembiaran yang berulang. Di sekolah, ruangan itu punya banyak nama: ruang guru, rapat pembagian jam mengajar, forum penentuan wali kelas favorit, pemilihan pembina ekstrakurikuler, sampai daftar guru yang "kebetulan selalu" ditunjuk mendampingi lomba ke luar kota. Tidak ada kepala sekolah yang pernah berdiri di depan forum lalu berkata dengan lantang, "Mulai hari ini, kami akan pilih kasih." Tidak akan pernah ada pengumuman seperti itu, sebab favoritism tidak pernah butuh diumumkan, tapi cukup dipraktikkan diam-diam, dan lambat laun semua orang akan tahu sendiri siapa yang kebal aturan. Korek Api yang Menyala SendirianAda gambaran yang sangat menohok dari fenomena tersebut: sebaris korek api berwarna hitam dan hanya satu yang kepalanya merah menyala di tengah barisan. Ilustrasi tersebut menggambarkan dengan tajam bagaimana keterlambatan diperlakukan berbeda di banyak institusi, termasuk sekolah. Ketika guru senior yang dekat dengan kepala sekolah datang terlambat lima belas menit, responsnya sering kali hanya senyum dan basa-basi "macet ya, Bu/Pak?" Namun ketika guru honorer baru atau guru muda yang belum "dekat" datang terlambat dengan jumlah menit yang sama, ia bisa langsung dipanggil menghadap, dicatat dalam buku kedisiplinan, bahkan dijadikan bahan pembicaraan di grup WhatsApp guru. Yang paling berbahaya dari pola tersebut bukan hukumannya, melainkan siapa yang menyaksikannya. Murid melihat. Guru lain melihat. Pegawai tata usaha melihat. Dan begitu satu peristiwa disaksikan secara kolektif dengan perlakuan yang timpang, peristiwa tersebut tidak lagi menjadi insiden pribadi, tapi berubah menjadi bukti sosial tentang bagaimana aturan sesungguhnya bekerja di sekolah tersebut: aturan tertulis di kertas Standar Operasional Prosedur (SOP) hanyalah formalitas, sedangkan aturan yang sesungguhnya berlaku ditentukan oleh kedekatan personal dengan pemegang kekuasaan. Domino yang Roboh Bukan Karena Aturan DihapusAda satu kesalahpahaman besar tentang favoritism yang perlu diluruskan sejak awal: favoritism tidak pernah menghancurkan aturan secara terang-terangan, tapi tidak pernah mencabut satu pasal pun dari peraturan sekolah. Yang dilakukan jauh lebih halus dan justru lebih merusak, yaitu membuat orang berhenti percaya bahwa aturan tersebut benar-benar berlaku untuk semua orang tanpa kecuali. Bayangkan barisan kartu domino. Satu kartu berwarna merah roboh lebih dulu karena diberi perlakuan khusus, tidak seperti kartu-kartu hitam di sekitarnya yang harus jatuh sesuai giliran dan sebab-akibat yang wajar. Begitu satu domino jatuh di luar urutan, seluruh barisan di belakangnya ikut goyah, bukan karena kartunya rapuh, melainkan karena polanya sudah rusak sejak awal. Persis seperti itu pula yang terjadi ketika satu guru dibiarkan tidak mengajar, tidak membuat perangkat pembelajaran tepat waktu, atau tidak mengikuti supervisi kelas, sementara guru lain diwajibkan disiplin penuh pada hal yang sama. Bukan aturan administrasinya yang runtuh, melainkan keyakinan kolektif bahwa aturan itu punya makna.
Ember Bocor: Kepercayaan yang Habis Sebelum Kepala Sekolah SadarSebuah ember logam dengan lubang-lubang kecil di dindingnya perlahan kehabisan air, jauh sebelum siapa pun sempat melihat air itu benar-benar habis. Ilustrasi tersebut adalah metafora paling jujur tentang bagaimana kepercayaan bekerja di lingkungan kerja mana pun, termasuk sekolah. Kepala sekolah biasanya baru menyadari ada masalah ketika performa sudah menurun secara nyata: rapat mulai sepi partisipasi, guru enggan mengajukan ide baru, program sekolah berjalan setengah hati, atau bahkan angka ketidakhadiran diam-diam naik. Padahal kebocoran kepercayaan tersebut sudah terjadi berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelumnya, sejak momen pertama seorang guru menyaksikan rekan sejawatnya diperlakukan istimewa tanpa alasan yang bisa dijelaskan secara objektif. Masalahnya, performa yang menurun tersebut mudah dilihat karena berwujud angka: nilai supervisi, jumlah keterlambatan pengumpulan Modul Ajar/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), atau hasil ujian murid. Sementara kebocoran kepercayaan tersebut tidak berwujud angka apa pun, tapi hanya berwujud diamnya guru dalam rapat, hilangnya inisiatif, dan menurunnya semangat kolegial yang dulu terasa hangat. Inilah sebabnya banyak kepala sekolah kaget ketika suasana kerja tiba-tiba terasa dingin, padahal sesungguhnya proses pendinginan tersebut sudah berlangsung lama, hanya tidak terlihat karena tidak pernah diukur. Kursi Merah yang Ditinggal SendirianAda satu paradoks yang jarang disadari oleh pimpinan mana pun, termasuk kepala sekolah: favoritism sesungguhnya tidak pernah membuat satu orang menjadi iri, melainkan membuat orang-orang terbaik berhenti berusaha. Guru yang paling berdedikasi, yang paling rajin membuat media pembelajaran inovatif, yang paling sabar mendampingi murid remedial, adalah justru mereka yang paling cepat menyadari ketimpangan perlakuan. Mereka bukan tipe orang yang akan protes secara terbuka. Mereka biasanya memilih diam, menurunkan standar usaha mereka sendiri, lalu perlahan menjadi guru yang "sekadar menjalankan tugas" karena dedikasi tambahan yang mereka berikan selama ini ternyata tidak pernah dihargai setara dengan kedekatan personal. Inilah kerugian sesungguhnya dari favoritism di dunia pendidikan: bukan hanya soal keadilan personal antar-guru, tetapi hilangnya energi terbaik yang seharusnya sampai ke murid. Ketika guru terbaik berhenti berusaha maksimal, yang paling dirugikan pada akhirnya adalah murid di depan kelas, yang sama sekali tidak tahu bahwa gurunya sedang menahan diri karena kelelahan batin menyaksikan ketidakadilan yang berulang. Ketika Aturan Berubah Tergantung Siapa PelakunyaTitik paling kritis dari seluruh persoalan tersebut terjadi ketika penerapan aturan mulai bergantung pada siapa yang melanggarnya, bukan pada apa yang dilanggar. Begitu situasi tersebut terjadi, sekolah tidak lagi sedang membangun budaya kerja yang sehat, melainkan sedang membangun budaya ketidakpercayaan yang jauh lebih sulit diperbaiki dibandingkan sekadar merevisi tata tertib. Retakan tanah tempat sebuah kursi berdiri di ambang jurang adalah gambaran yang tepat untuk kondisi tersebut: dari luar, sekolah masih tampak berdiri kokoh, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, rapat tetap digelar sesuai jadwal. Namun di bawah permukaan, fondasi kepercayaan antar-guru dan antara guru dengan pimpinan sudah retak sejak lama, dan retakan tersebut bisa melebar kapan saja tanpa peringatan. Bagaimana Sekolah Bisa Menambal Ember yang Bocor?Menyadari masalah tanpa menawarkan jalan keluar hanya akan menambah keresahan tanpa arah. Berikut beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah, maupun para pejabat di sekolah untuk mencegah dan menambal kebocoran kepercayaan akibat favoritism.
Nilai Tawadhu dan Ta'awun sebagai Penawar FavoritismDalam konteks madrasah, persoalan favoritism sesungguhnya bisa didekati bukan hanya dari sisi manajerial, tetapi juga dari sisi nilai. Sikap tawadhu yang seharusnya dimiliki pimpinan sekolah berarti kesediaan untuk tidak menempatkan diri lebih tinggi dari sistem yang ia bangun sendiri, termasuk kesediaan untuk tunduk pada aturan yang sama dengan bawahannya. Sementara sikap ta'awun, tolong-menolong yang tulus tanpa pamrih relasi personal, seharusnya menjadi dasar mengapa seorang guru dibantu atau diberi kepercayaan lebih, bukan karena kedekatan, melainkan karena kebutuhan bersama untuk memajukan madrasah. Prinsip qana'ah, rasa cukup dan tidak tamak, juga relevan di sini, bukan sebagai anjuran bagi guru untuk pasrah menerima ketidakadilan, melainkan sebagai pengingat bagi pimpinan agar tidak menggunakan posisinya untuk mengistimewakan pihak tertentu demi kepentingan pribadi atau kenyamanan sesaat. Ketika nilai-nilai tersebut benar-benar dihidupkan, bukan sekadar ditempel sebagai slogan di dinding madrasah, barulah kepercayaan bisa tumbuh kembali secara alami.
|

Posting Komentar untuk "MENAMBAL EMBER BOCOR: CARA SEKOLAH MEMBANGUN KEMBALI KEPERCAYAAN YANG RETAK"
Posting Komentar