KETIKA SISTEM MENDIDIK GURU UNTUK MENYERAH: KRISIS MENTAL YANG TAK PERNAH DIBICARAKAN DI RUANG RAPAT

Ketika Sistem Mendidik Guru untuk Menyerah | miftahmath.com
miftahmath.com  ·  Pendidikan & Refleksi
Pendidikan & Isu Sosial

Ketika Sistem Mendidik Guru untuk Menyerah: Krisis Mental yang Tak Pernah Dibicarakan di Ruang Rapat

Oleh miftahmath.com  ·  22 Maret 2026  ·  ☕ 7 menit baca

Ada sebuah paradoks pahit yang terus berputar di dunia pendidikan kita: kita meminta guru untuk menjadi fondasi peradaban, sementara diam-diam kita meretakkan fondasi itu sendiri.

Bukan dengan cara kasar. Bukan dengan serangan terang-terangan. Tapi pelan-pelan, lewat kebijakan yang terus berubah, tuntutan administrasi yang menggunung, tekanan citra, dan romantisasi palsu tentang makna "pengabdian." Hasilnya? Sebuah krisis kesehatan mental guru yang dibiarkan membusuk di balik senyuman hari guru dan karangan bunga saat upacara.

Artikel ini bukan tentang menyalahkan siapapun. Ini tentang jujur melihat apa yang sedang terjadi, dan mengapa kita harus berhenti berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.


Guru Disuruh Kuat, Tapi Sistemnya Senang Menyerang

Salah satu ironi terbesar dunia pendidikan Indonesia adalah: guru selalu diminta untuk punya mental baja, tapi sistem yang menaungi mereka justru hobi "menembak dari segala arah tanpa rem."

Coba kita lihat satu hari biasa seorang guru di sekolah negeri. Pagi, ia harus hadir tepat waktu (atau kena catatan). Kemudian mengajar kelas dengan banyak murid yang melebihi kapasitas ideal. Di sela-sela mengajar, ia mendapat notifikasi dari grup WhatsApp sekolah, ada format laporan baru yang harus diisi sebelum akhir minggu. Sore, ada rapat yang sebetulnya bisa selesai dengan satu email. Malam, ia membuka laptop untuk mengerjakan administrasi yang tak ada habisnya: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), jurnal mengajar, input nilai di aplikasi yang sering error, plus laporan yang nanti ujung-ujungnya tidak dibaca siapapun.

Lalu keesokan harinya, ia diminta "ikhlas" dan "totalitas."

Masalahnya bukan pada guru yang kurang kuat mental. Masalahnya adalah sistem yang secara struktural merancang kelelahan lalu menyebutnya sebagai "dedikasi."


Eksploitasi yang Dibungkus Kata Manis

Di sinilah inti dari krisis ini: ada perangkap semantik yang sangat berbahaya di dunia pendidikan kita. Kata-kata seperti "ikhlas," "panggilan jiwa," "pahlawan tanpa tanda jasa," dan "pengabdian", semua itu indah di telinga, tapi sering kali digunakan untuk membenarkan kondisi kerja yang tidak manusiawi.

Ketika seorang guru mengeluh kelebihan beban kerja, respons yang umum ia terima adalah: "Kan sudah tahu risiko jadi guru. Harus ikhlas." Ketika ia mempertanyakan kebijakan yang tidak masuk akal, jawabannya adalah: "Ini sudah aturan dari atas, tugas kita tinggal menjalankan."

Ikhlas telah dikonversi menjadi senjata untuk membungkam. Pengabdian telah dijadikan alasan untuk tidak memberikan kompensasi yang layak, baik secara material maupun emosional. Ini bukan lagi dedikasi. Ini adalah eksploitasi yang dibalut narasi mulia.

Dalam psikologi kerja, kondisi ini disebut emotional labor yang tidak diakui. Guru tidak hanya mengajar, mereka juga menjadi konselor, mediator konflik, motivator, bahkan terkadang pengganti orang tua bagi murid. Semua peran tersebut menyedot energi emosional yang luar biasa. Tapi karena tidak terlihat, tidak terukur, dan tidak tercantum dalam job description resmi, beban tersebut tidak pernah benar-benar dihitung.


Kebijakan yang Berubah-Ubah

Salah satu sumber stres terbesar bagi guru, yang jarang dibicarakan adalah ketidakpastian kebijakan yang terus-menerus.

Kurikulum berganti, metode penilaian berubah, aplikasi pelaporan diganti dengan platform baru yang lagi-lagi harus dipelajari dari nol. Belum lagi kebijakan-kebijakan administratif di level sekolah yang terkadang berubah tanpa pemberitahuan memadai, tanpa alasan yang jelas, dan tanpa melibatkan guru dalam proses pengambilan keputusan.

Dalam ilmu psikologi, kondisi yang disebut chronic unpredictability, ketidakpastian kronis, adalah salah satu pemicu burnout yang paling kuat. Otak manusia mengonsumsi energi yang sangat besar untuk terus-menerus beradaptasi dengan perubahan yang datang tanpa pola. Tidak ada ruang untuk "mengendap" dan menjadi ahli di satu pendekatan, karena pendekatan tersebut sudah diganti sebelum sempat dikuasai sepenuhnya.

Akibatnya, banyak guru yang masuk ke dalam spiral kelelahan bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena mereka dipaksa terus berlari di treadmill yang kecepatannya dikendalikan orang lain.


Pendidikan Dijadikan Panggung, Guru Dijadikan Figuran

Ada sesuatu yang sangat menyakitkan ketika seorang guru menyadari bahwa ia bukan pemain utama dalam sistem yang katanya "berpusat pada guru." Rapat-rapat besar tentang pendidikan diisi oleh pejabat, konsultan, dan akademisi. Kebijakan diturunkan dari atas ke bawah. Guru diminta untuk mengimplementasikan, bukan berdiskusi, bukan memberi masukan yang benar-benar didengar, apalagi menentang.

Pendidikan telah menjadi panggung pertunjukan. Ada target-target yang perlu dipenuhi agar laporan terlihat bagus. Ada citra sekolah yang perlu dijaga agar akreditasi tetap tinggi. Ada foto-foto kegiatan yang perlu diunggah di media sosial sekolah. Di tengah semua itu, guru berdiri di pojok panggung, bekerja keras tapi tidak terlihat, kelelahan tapi diminta tersenyum, punya pendapat tapi tidak punya suara.

Penelitian tentang occupational identity menunjukkan bahwa salah satu kebutuhan psikologis paling mendasar manusia dalam bekerja adalah merasa bahwa kontribusinya bermakna dan diakui. Ketika guru secara konsisten diperlakukan sebagai pelaksana teknis, bukan sebagai profesional yang memiliki keahlian dan perspektif berharga, rasa bermakna itu perlahan erosi.

Dan ketika rasa bermakna menghilang, motivasi ikut hilang. Ketika motivasi hilang, kualitas pengajaran ikut turun. Akhirnya, yang menjadi korban adalah murid, generasi yang kita semua khawatirkan masa depannya.


Mental Guru Bukan Bonus, Tapi Fondasi

Kita perlu berbicara lebih keras tentang satu hal: kesehatan mental guru bukan urusan pribadi masing-masing guru. Ini adalah urusan publik, urusan sistemik, dan urusan masa depan pendidikan.

Bayangkan sebuah bangunan sekolah yang fondasinya retak. Kita bisa mengecat dindingnya, mengganti mebel, memasang proyektor terbaru di setiap kelas, tapi selama fondasinya retak, bangunan itu akan terus terancam roboh.

Guru adalah fondasi itu.

Riset demi riset menunjukkan bahwa kualitas hubungan antara guru dan murid adalah salah satu, kalau bukan yang paling, prediktor kuat dari hasil belajar murid. Guru yang sehat secara mental, yang merasa dihargai dan didukung, mengajar dengan cara yang secara kualitatif berbeda dari guru yang kelelahan dan tertekan. Mereka lebih kreatif, lebih sabar, lebih hadir secara emosional, lebih mampu merespons kebutuhan individual murid.

Sebaliknya, guru yang burnout, meski tetap datang ke sekolah setiap hari, meski tetap mengisi daftar hadir dan menyerahkan laporan tepat waktu, sedang mengajar dalam mode bertahan hidup. Mereka ada tapi tidak hadir. Dan murid merasakannya, bahkan jika tidak bisa mengungkapkannya.


Romantisasi Penderitaan Harus Dihentikan

Ada satu narasi yang perlu kita hancurkan hari ini: bahwa menderita adalah bagian dari menjadi guru yang baik.

Narasi ini berbahaya karena menciptakan dua efek yang saling memperkuat. Pertama, narasi tersebut membuat guru yang mengalami kesulitan merasa malu untuk mencari bantuan, karena "guru yang baik itu kuat, tidak mengeluh." Kedua, narasi tersebut memberi pembenaran bagi sistem untuk tidak berbenah, karena "memang sudah kodratnya guru itu berkorban."

Guru yang baik bukan guru yang tidak pernah lelah. Guru yang baik adalah guru yang mendapat cukup dukungan, cukup penghargaan, cukup ruang untuk berkembang, dan cukup istirahat, sehingga ia bisa hadir sepenuhnya untuk muridnya hari demi hari.

Penderitaan bukanlah bukti dedikasi. Penderitaan adalah sinyal bahwa ada yang salah dalam sistem. Dan sinyal tersebut seharusnya ditindaklanjuti dengan perubahan struktural, bukan dengan meminta guru untuk lebih ikhlas menanggungnya.


Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Guru?

Jika kita serius ingin memperbaiki kualitas pendidikan, maka agenda kesejahteraan guru, termasuk kesehatan mental mereka, harus masuk dalam prioritas kebijakan, bukan sekadar menjadi ornamen dalam pidato Hari Guru.

Beberapa hal konkret yang bisa dilakukan:

1
Kurangi beban administratif yang tidak perlu. Banyak laporan dan dokumentasi yang dibuat bukan karena ada manfaatnya, tapi karena ada kebiasaan birokrasi yang belum dievaluasi. Teknologi seharusnya membantu menyederhanakan ini, bukan menambah layer baru.
2
Libatkan guru dalam pengambilan keputusan. Perubahan kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari guru di kelas seharusnya dirancang bersama guru, bukan untuk guru. Ini bukan sekadar soal sopan santun, ini soal kualitas kebijakan itu sendiri.
3
Normalisasi dukungan kesehatan mental. Konseling psikologis untuk guru seharusnya tersedia dan dapat diakses tanpa stigma. Komunitas guru yang suportif, baik di tingkat sekolah maupun antar-sekolah, perlu difasilitasi.
4
Hentikan penggunaan narasi "pengabdian" sebagai alasan untuk tidak memberikan kompensasi yang layak. Guru yang sejahtera, yang tidak perlu cemas soal kebutuhan dasar hidupnya, adalah guru yang lebih efektif.

Penutup: Jangan Tunggu Sampai Fondasi Itu Roboh

Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama bukan sekadar "apakah sistem pendidikan kita sudah baik?" Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: "Apakah orang-orang yang menopang sistem itu baik-baik saja?"

Kalau jawabannya tidak, kalau mental guru terus dihancurkan pelan-pelan oleh tekanan yang bertubi-tubi, oleh kebijakan yang tidak manusiawi, oleh romantisasi penderitaan yang membungkam keluhan, maka jangan heran kalau kualitas pendidikan ikut retak.

Masa depan pendidikan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa canggih kurikulumnya, seberapa megah gedung sekolahnya, atau seberapa tinggi anggaran pendidikannya. Masa depan pendidikan ditentukan oleh kondisi orang-orang yang berdiri di depan kelas setiap pagi, dengan atau tanpa energi, dengan atau tanpa harapan, dengan atau tanpa dukungan yang mereka layak dapatkan.

Sudah saatnya kita berhenti meminta guru untuk "kuat" dalam sistem yang lemah. Sudah saatnya kita memperkuat sistemnya.

Posting Komentar untuk "KETIKA SISTEM MENDIDIK GURU UNTUK MENYERAH: KRISIS MENTAL YANG TAK PERNAH DIBICARAKAN DI RUANG RAPAT"