KETIKA RUANG GURU BERUBAH MENJADI ARENA KOMPETISI: REFLEKSI PERSAINGAN TIDAK SEHAT DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Bayangkan sebuah orkestra yang indah. Setiap pemain musik
memiliki instrumen berbeda, namun ketika dimainkan bersama, mereka menghasilkan
harmoni yang memukau. Bukan karena saling bersaing untuk menjadi yang paling
keras atau paling cepat, melainkan karena mereka memahami bahwa keindahan
tercipta dari kolaborasi. Begitu pula seharusnya dunia pendidikan bekerja.
Namun kenyataannya, tidak jarang kita menemukan fenomena yang
justru bertolak belakang. Ruang guru yang seharusnya menjadi tempat berbagi
ide, saling mendukung, dan tumbuh bersama, malah berubah menjadi medan
pertempuran tak kasat mata. Persaingan tidak sehat antar pendidik telah menjadi
penyakit tersembunyi yang menggerogoti esensi pendidikan itu sendiri.
Anatomi Persaingan Tidak Sehat: Lebih dari Sekadar Kompetisi
Biasa
Persaingan sehat memang diperlukan untuk mendorong
peningkatan kualitas. Namun, garis tipis antara kompetisi konstruktif dan
destruktif sering kali terlanggar tanpa disadari. Apa yang membedakan keduanya?
Persaingan sehat mendorong seseorang untuk menjadi versi
terbaik dari dirinya sendiri, dengan tetap menghormati dan mengapresiasi
pencapaian orang lain. Sementara persaingan tidak sehat justru fokus pada
menjatuhkan orang lain agar diri sendiri tampak lebih baik.
Di berbagai sekolah, praktik-praktik persaingan tidak sehat tersebut
mengambil bentuk yang beragam. Ada yang terlihat kasat mata, ada pula yang
tersembunyi di balik kedok profesionalisme. Mari kita telusuri beberapa
manifestasinya.
Menutupi Informasi: Pengetahuan Sebagai Senjata Kekuasaan
Salah satu bentuk paling umum adalah ketika seorang guru
sengaja menyembunyikan informasi penting dari rekan sejawatnya. Mungkin tentang
strategi pembelajaran yang efektif, sumber belajar berkualitas, atau bahkan
informasi administratif yang sebenarnya perlu diketahui semua orang.
Logika di baliknya sederhana namun keliru: "Jika saya
yang tahu dan yang lain tidak, maka saya akan terlihat lebih kompeten."
Padahal, dalam ekosistem pendidikan, pengetahuan yang dibagikan justru akan
berkembang dan menghasilkan inovasi yang lebih besar.
Ketika seorang guru menemukan metode mengajar matematika yang
membuat murid lebih mudah memahami konsep rumit, bukankah lebih baik jika
metode tersebut dibagikan? Dengan begitu, lebih banyak murid dari kelas lain
yang akan mendapat manfaat. Namun realitanya, tidak sedikit yang memilih
menyimpan sendiri "resep rahasia" mereka.
Menjegal Rekan: Politik Kantor yang Meracuni Atmosfer Kerja
Praktik menjegal rekan kerja mungkin terdengar dramatis,
namun nyata adanya. Praktik tersebut bisa berupa menyebarkan gosip negatif,
membicarakan keburukan rekan di depan pimpinan, atau bahkan sabotase halus
terhadap program yang dijalankan guru lain.
Seorang guru yang sedang mencoba metode pembelajaran inovatif
bisa saja mendapat perlawanan bukan dari murid, melainkan dari sesama guru yang
merasa terancam. "Ah, cuma gaya-gayaan itu. Toh hasilnya juga belum tentu
bagus," atau "Dia cuma mau cari muka ke kepala sekolah."
Komentar-komentar tersebut, yang dilempar enteng di ruang
guru atau grup WhatsApp, sebenarnya mencerminkan insekuritas. Ketika seseorang
merasa pencapaian orang lain mengancam posisinya, respons instingtifnya adalah
mendiskreditkan, bukan belajar atau berkolaborasi.
Klaim Kepemilikan: Egoisme dalam Kemasan Profesional
Mengklaim hasil kerja orang lain atau bahkan sekadar
membanding-bandingkan kelas secara berlebihan juga merupakan tanda persaingan
tidak sehat. "Kelas saya jauh lebih disiplin," atau "Murid saya
lebih pintar karena cara mengajar saya," adalah contoh pernyataan yang
seolah-olah profesional, padahal hanya menutupi arogansi.
Pendidikan bukanlah tentang siapa yang menghasilkan murid
paling pintar, melainkan tentang bagaimana setiap murid dapat berkembang
optimal sesuai potensinya.
Mempengaruhi Murid untuk Membenci Guru Lain: Pelanggaran
Etika Terparah
Ini mungkin bentuk paling berbahaya dari persaingan tidak
sehat. Ketika seorang guru, secara langsung atau terselubung, menanamkan
pandangan negatif tentang guru lain kepada murid, dampaknya sangat merusak.
Murid yang seharusnya belajar menghormati semua pendidik
mereka malah diajarkan untuk memilih-milih, bahkan meremehkan guru tertentu. Hal
ini tidak hanya merusak wibawa guru yang bersangkutan, tapi juga mengajarkan murid
nilai yang salah: bahwa merendahkan orang lain adalah hal yang wajar.
Akar Masalah: Mengapa Persaingan Tidak Sehat Terjadi?
Untuk mengatasi masalah, kita perlu memahami akarnya.
Persaingan tidak sehat di dunia pendidikan tidak muncul dalam ruang hampa. Ada
beberapa faktor yang berkontribusi:
Sistem Evaluasi yang Keliru
Banyak sekolah menerapkan sistem evaluasi yang justru
mendorong kompetisi individual. Guru dinilai berdasarkan prestasi muridnya,
tanpa mempertimbangkan konteks dan tantangan unik yang dihadapi masing-masing
kelas. Hal ini menciptakan mentalitas "aku menang, kamu kalah."
Ketika promosi, bonus, atau pengakuan hanya diberikan kepada
"guru terbaik" dengan kriteria yang sangat sempit (misalnya hanya
berdasarkan nilai ujian murid), maka guru lain secara tidak langsung dipaksa
untuk bersaing secara tidak sehat.
Kurangnya Budaya Kolaborasi
Di beberapa institusi pendidikan, tidak ada mekanisme atau
budaya yang mendorong kolaborasi. Tidak ada forum berbagi praktik baik, tidak
ada program mentoring antara guru senior dan junior, tidak ada proyek
kolaboratif lintas mata pelajaran.
Ketika guru bekerja dalam silo-silo terpisah, mereka tidak
memiliki kesempatan untuk membangun rasa kebersamaan dan saling memahami
tantangan yang dihadapi rekan-rekan mereka. Isolasi tersebut menjadi lahan
subur bagi persaingan tidak sehat.
Kepemimpinan Sekolah yang Tidak Suportif
Peran kepala sekolah sangat krusial dalam membentuk kultur
sekolah. Kepala sekolah yang membiarkan atau bahkan secara tidak sadar
mendorong persaingan tidak sehat, akan menciptakan atmosfer kerja yang toksik.
Misalnya, kepala sekolah yang terlalu sering memuji satu guru
di depan guru lain, atau yang membuat perbandingan eksplisit antara guru, tanpa
menyadari dampak psikologisnya.
Insekuritas Personal dan Kehilangan Kepercayaan Diri
Tidak bisa dipungkiri, banyak guru yang mengalami krisis
kepercayaan diri. Mereka merasa tidak cukup baik, tidak cukup inovatif, atau
tidak cukup dihargai. Ketimbang bekerja untuk meningkatkan diri, lebih mudah
bagi mereka untuk menarik orang lain ke bawah.
Insekuritas tersebut bisa berasal dari berbagai sumber:
kurangnya pelatihan, tuntutan kerja yang berlebihan, atau bahkan masalah
personal yang terbawa ke tempat kerja.
Dampak Destruktif: Korban Sejati dari Persaingan Tidak Sehat
Yang paling memprihatinkan dari fenomena ini adalah dampaknya
yang meluas dan mendalam, melampaui hubungan antar guru.
Iklim Sekolah yang Tidak Kondusif
Ketika ruang guru dipenuhi dengan ketegangan, kecurigaan, dan
persaingan tidak sehat, iklim sekolah secara keseluruhan menjadi tidak
kondusif. Guru datang ke sekolah dengan beban mental, bukan dengan semangat
mengajar.
Energi yang seharusnya digunakan untuk merancang pembelajaran
yang menarik, malah terkuras untuk urusan politik kantor yang sebenarnya tidak
produktif.
Guru Bekerja dalam Tekanan dan Kecurigaan
Bayangkan harus bekerja dalam lingkungan di mana Anda tidak
bisa sepenuhnya percaya kepada rekan kerja. Setiap berbagi ide, Anda khawatir
akan diambil alih tanpa pengakuan. Setiap kesalahan kecil, Anda curiga akan
dijadikan amunisi untuk menjatuhkan Anda.
Kondisi kerja tersebut tidak hanya tidak menyenangkan, tapi
juga sangat tidak produktif. Guru yang stres dan tertekan tidak mungkin
mengajar dengan optimal.
Kepala Sekolah Kehilangan Kepercayaan
Ketika persaingan tidak sehat menjadi kultur, kepala sekolah
akan kesulitan membangun tim yang solid. Setiap keputusan akan dipertanyakan
motifnya, setiap kebijakan akan dicurigai menguntungkan pihak tertentu.
Hal ini membuat kepemimpinan menjadi sangat menantang dan
menguras energi. Kepala sekolah harus menghabiskan waktu untuk mengelola
konflik internal, ketimbang fokus pada peningkatan kualitas pendidikan.
Murid Sebagai Korban Utama
Di ujung rantai dampak ini, muridlah yang paling dirugikan.
Mereka belajar di sekolah yang atmosfernya tidak sehat. Mereka melihat contoh
buruk dari orang dewasa yang seharusnya menjadi role model.
Lebih buruk lagi, kualitas pembelajaran mereka terganggu.
Guru yang sibuk dengan konflik internal tidak akan maksimal dalam mengajar.
Kolaborasi antar guru yang seharusnya menghasilkan pembelajaran lintas disiplin
yang kaya, tidak akan terjadi.
Murid juga bisa menjadi korban langsung ketika dijadikan alat
dalam persaingan guru. Mereka diajarkan untuk tidak menghormati guru tertentu,
atau dijadikan objek pembuktian superioritas satu guru atas guru lain.
Jalan Keluar: Membangun Ekosistem Pendidikan yang Kolaboratif
Kabar baiknya, persaingan tidak sehat bukanlah takdir yang
harus diterima. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengubah kultur tersebut.
Reorientasi Sistem Evaluasi
Sekolah perlu merancang ulang sistem evaluasi guru yang tidak
hanya fokus pada hasil akhir, tapi juga pada proses, usaha, dan kontribusi
terhadap ekosistem sekolah secara keseluruhan.
Misalnya, dalam penilaian kinerja guru, aspek kolaborasi dan
berbagi pengetahuan bisa dijadikan salah satu kriteria. Guru yang aktif berbagi
praktik baik, membimbing rekan junior, atau berkontribusi dalam proyek
kolaboratif, mendapat pengakuan setara dengan guru yang muridnya meraih
prestasi akademik.
Membangun Forum Kolaborasi Terstruktur
Sekolah perlu menciptakan ruang dan waktu khusus untuk
kolaborasi. Hal ini bisa berupa:
Komunitas Belajar Profesional (Professional Learning
Community):
Forum reguler di mana guru dari berbagai mata pelajaran berkumpul untuk berbagi
pengalaman, mendiskusikan tantangan dan belajar bersama.
Program Mentoring: Memfasilitasi guru senior untuk membimbing guru junior,
bukan dalam konteks hierarkis, tapi dalam semangat berbagi dan tumbuh bersama.
Proyek Kolaboratif Lintas Mata Pelajaran: Mendorong guru untuk merancang
pembelajaran integratif yang melibatkan beberapa mata pelajaran, sehingga
mereka harus bekerja sama.
Lesson Study: Praktik di mana sekelompok guru bersama-sama merancang,
mengobservasi, dan mengevaluasi pembelajaran, dengan tujuan perbaikan bersama.
Kepemimpinan yang Inklusif dan Suportif
Kepala sekolah perlu secara aktif membangun kultur
kolaborasi. Hal ini bisa dilakukan melalui:
- Komunikasi
yang jelas dan transparan tentang visi sekolah yang menekankan kerja sama
- Apresiasi
yang merata,
tidak hanya kepada guru dengan prestasi mencolok, tapi juga kepada mereka
yang berkontribusi dalam cara lain
- Mediasi
aktif ketika
muncul konflik, tidak membiarkannya membesar
- Modeling
perilaku kolaboratif dari kepemimpinan itu sendiri
Pengembangan Personal dan Profesional
Sekolah perlu berinvestasi dalam pengembangan guru, tidak
hanya dalam aspek pedagogis, tapi juga dalam kesejahteraan emosional dan
mental.
Workshop tentang manajemen stres, komunikasi efektif, kerja
sama tim, dan pengembangan diri dapat membantu guru mengatasi insekuritas dan
membangun kepercayaan diri yang sehat.
Menciptakan Ruang Aman untuk Berbagi
Penting untuk membangun kultur di mana guru merasa aman untuk
berbagi, bahkan tentang kegagalan mereka. Ketika kesalahan dilihat sebagai
peluang belajar, bukan sebagai kelemahan yang bisa dieksploitasi, guru akan
lebih terbuka untuk berbagi dan berkolaborasi.
Kembali kepada Esensi Pendidikan
Pendidikan pada dasarnya adalah tentang mengembangkan potensi
manusia. Bukan hanya potensi murid, tapi juga potensi guru sebagai pendidik.
Dan pengembangan terbaik terjadi dalam komunitas yang saling mendukung, bukan
dalam arena pertarungan.
Ketika guru bersatu, sekolah tumbuh sehat, secara akademik
maupun psikologis. Murid mendapat manfaat dari keberagaman perspektif dan
metode. Mereka belajar bukan hanya dari satu guru yang "paling
hebat," tapi dari ekosistem pembelajaran yang kaya dan beragam.
Saatnya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita ingin
ruang guru kita menjadi orkestra yang harmonis, atau menjadi arena gladiator?
Pilihan ada di tangan kita, guru, kepala sekolah, dan semua pemangku
kepentingan pendidikan.
Mari kita bangun sekolah sebagai rumah belajar yang menentramkan, bukan sebagai medan perang yang melelahkan. Karena pada akhirnya, kemenangan sejati dalam pendidikan bukanlah ketika satu guru mengalahkan guru lain, melainkan ketika setiap murid mencapai potensi terbaiknya berkat kolaborasi semua pendidik yang ada.

Posting Komentar untuk "KETIKA RUANG GURU BERUBAH MENJADI ARENA KOMPETISI: REFLEKSI PERSAINGAN TIDAK SEHAT DALAM DUNIA PENDIDIKAN"
Posting Komentar