LETDA (P) MUHAMMAD NAUFAL ARDAFI, S.Tr.Han.: ALUMNI MTs NEGERI SALATIGA, WAKIL PERWIRA DIVISI SENJATA KAPAL PERANG KRI SSA-378
LETDA (P) MUHAMMAD NAUFAL ARDAFI, S.Tr.Han.: ALUMNI MTs NEGERI SALATIGA, WAKIL PERWIRA DIVISI SENJATA KAPAL PERANG KRI SSA-378Mengenal sosok di balik kendali sistem persenjataan salah satu kapal perang Republik Indonesia, alumni Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Salatiga. |
|
|
|
Di antara ribuan murid yang pernah duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Salatiga, ada satu nama yang hari ini menjabat posisi strategis di jajaran TNI Angkatan Laut: LETDA (P) MUHAMMAD NAUFAL ARDAFI, S.Tr.Han., yang sejak tahun 2026 dipercaya sebagai Wakil Perwira Divisi Senjata Kapal Perang Republik Indonesia KRI SSA-378. Lahir di Kota Salatiga, Dafa — begitu ia biasa disapa — kini berdiri di garis depan pertahanan maritim Indonesia, mengawal kesiapan sistem persenjataan salah satu kapal perang Republik Indonesia. Namun jauh sebelum menyandang jabatan tersebut, ia adalah murid yang menempuh pendidikan menengahnya di lingkungan madrasah negeri Kota Salatiga.
Jabatan Wakil Perwira Divisi Senjata bukanlah posisi yang bisa diraih siapa saja. Posisi tersebut menempatkan Naufal pada baris kedua komando teknis di divisi senjata kapal, dengan tanggung jawab memastikan seluruh perangkat tempur kapal perang berada dalam kondisi siap operasi setiap saat, mulai dari sistem kendali tembak, perawatan berkala persenjataan, hingga koordinasi personel teknis saat kapal berada dalam misi maupun latihan tempur. Jabatan strategis inilah yang menjadi alasan utama mengapa perjalanan hidup Dafa layak diangkat sebagai profil alumni, sekaligus bahan renungan bagi murid-murid MTs Negeri Salatiga saat ini tentang seberapa jauh madrasah bisa mengantarkan seseorang.
Kisahnya dimulai jauh dari geladak kapal perang. Pendidikan dasarnya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dan ia menuntaskannya pada tahun 2016. Dari ibu kota, langkah pendidikannya kemudian berlabuh di Kota Salatiga, tempat kelahirannya sendiri. Di kota kecil yang dikenal sejuk dan religius tersebut, Dafa melanjutkan jenjang pendidikan menengah pertamanya di MTs Negeri Salatiga, dan lulus pada tahun 2019. Tahun-tahun di madrasah inilah yang kelak menjadi salah satu fondasi karakter, kedisiplinan, dan nilai-nilai keislaman yang ia bawa hingga ke jenjang pendidikan militer di Indonesia.
|
"Madrasah bukan hanya tempat belajar berhitung dan menghafal, melainkan tempat pertama menanamkan adab, kesabaran, dan keteguhan — tiga bekal yang justru paling dibutuhkan saat berdiri di geladak kapal perang di tengah laut lepas." |
Selepas MTs Negeri Salatiga, jenjang pendidikan menengah atasnya dilanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Salatiga, ia lulus pada tahun 2022. Di sinilah titik balik penting dalam perjalanan hidupnya terjadi. Alih-alih memilih jalur pendidikan tinggi sipil yang lazim ditempuh alumni madrasah, Dafa justru mengambil keputusan besar: mendaftar dan menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL) Surabaya, salah satu sekolah kedinasan militer kompetitif dan seleksinya sangat ketat di Indonesia. Perjalanan tersebut bukan perkara mudah, dari ruang kelas madrasah yang tenang, ia harus beradaptasi dengan disiplin fisik, mental, dan intelektual ala taruna angkatan laut.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Pada tahun 2025, Dafa lulus dari Akademi Angkatan Laut dengan gelar S.Tr.Han. (Sarjana Terapan Pertahanan). Tidak berhenti di situ, ia melanjutkan pendidikan spesialisasi militer melalui Pendidikan Perwira Siswa (Dikpasis) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) di Surabaya dan lulus pada tahun 2026. Rangkaian pendidikan militer yang ia tempuh tersebut merupakan jenjang formal yang membentuk seorang perwira TNI Angkatan Laut yang kompeten secara teknis, taktis, maupun kepemimpinan.
🧠Jejak Perjalanan Pendidikan LETDA (P) MUHAMMAD NAUFAL ARDAFI, S.Tr.Han.
|
2016
MIN 4 Pondok Pinang
Jakarta Selatan
|
2019
MTs Negeri Salatiga
Kota Salatiga
|
2022
MA Negeri Salatiga
Kota Salatiga
|
2025
Lulus AAL Surabaya
S.Tr.Han.
|
2026
Lulus Dikpasis TNI AL
Surabaya
|
⚓
Wapadiv Sen KRI SSA-378
2026–sekarang
|
Kini setelah menuntaskan seluruh rangkaian pendidikan tersebut, LETDA (P) MUHAMMAD NAUFAL ARDAFI, S.Tr.Han. resmi mengemban amanah sebagai Wakil Perwira Divisi Senjata Kapal Perang Republik Indonesia KRI SSA-378, terhitung sejak tahun 2026 hingga sekarang. Jabatan tersebut bukan jabatan administratif biasa. Seorang perwira divisi senjata bertanggung jawab langsung atas kesiapan, pengoperasian, dan pengawasan sistem persenjataan kapal perang, sebuah tanggung jawab yang menuntut ketelitian tinggi, kedisiplinan tanpa kompromi, dan mental baja dalam menghadapi tekanan. Bahwa seorang alumni MTs Negeri Salatiga kini memegang tanggung jawab sebesar ini di jajaran TNI Angkatan Laut adalah bukti nyata bahwa madrasah bukan sekadar lembaga pendidikan kelas dua, melainkan tempat lahirnya calon-calon pemimpin bangsa di berbagai lini, termasuk lini pertahanan negara.
⚙️ Memahami Peran "Wakil Perwira Divisi Senjata Kapal Perang Republik Indonesia KRI SSA-378"
| Aspek Tanggung Jawab | Gambaran Umum Tugas |
| Kesiapan Sistem Senjata | Mengawal agar seluruh perangkat persenjataan KRI dalam kondisi siap operasi setiap saat |
| Koordinasi Divisi | Membantu perwira divisi dalam mengarahkan personel dan prosedur teknis di kapal |
| Kesiagaan Tempur | Menjaga kesiapsiagaan kapal dalam menjalankan misi menjaga kedaulatan laut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) |
Perjalanan dari ruang kelas MTs Negeri Salatiga menuju geladak Kapal Perang Republik Indonesia KRI SSA-378 tersebut menyimpan pelajaran berharga bagi murid-murid madrasah saat ini.
Pertama, jalur pendidikan madrasah tidak pernah membatasi cita-cita seseorang. Ilmu agama, adab, dan akhlak yang ditanamkan di madrasah justru menjadi fondasi karakter yang dibutuhkan di profesi apa pun, termasuk profesi militer yang menuntut kedisiplinan tinggi.
Kedua, keberanian mengambil jalur yang tidak umum — seperti mendaftar ke Akademi Angkatan Laut — adalah bentuk qana'ah yang aktif: menerima takdir dengan penuh syukur sambil tetap berikhtiar sekuat tenaga meraih peran terbaik yang bisa diberikan untuk bangsa.
Ketiga, nilai ta'awun atau semangat tolong-menolong yang diajarkan di madrasah menemukan bentuk nyatanya di atas kapal perang, tempat setiap awak harus saling bergantung dan saling menjaga demi keselamatan bersama dan keberhasilan misi.
Keempat, sikap tawadhu — kerendahan hati — yang menjadi ciri khas pendidikan madrasah, justru menjadi modal penting bagi seorang perwira muda yang harus terus belajar dari senior, dari pengalaman, dan dari setiap kesalahan kecil di medan tugas yang sesungguhnya.
|
Untuk murid-murid MTs Negeri Salatiga saat ini: kisah LETDA (P) MUHAMMAD NAUFAL ARDAFI, S.Tr.Han. adalah pengingat bahwa ruang kelas madrasah tempat kalian duduk sekarang bisa menjadi titik awal menuju geladak kapal perang, ruang sidang, ruang operasi rumah sakit, atau podium juara dunia, selama kalian mau menempuhnya dengan kesungguhan, kesabaran, dan doa yang tak pernah putus. |
Semoga kisah perjalanan LETDA (P) MUHAMMAD NAUFAL ARDAFI, S.Tr.Han. ini menjadi motivasi bagi seluruh murid, guru, dan orang tua yang berada dalam lingkungan besar MTs Negeri Salatiga, bahwa madrasah adalah sekolah tanpa batas cita-cita.
Ada satu hal menarik yang patut digarisbawahi dari jalur pendidikan LETDA (P) MUHAMMAD NAUFAL ARDAFI, S.Tr.Han.: seluruh jenjang pendidikan menengahnya — baik MTs Negeri Salatiga maupun MAN Salatiga — ditempuh di lingkungan madrasah negeri yang sama, satu ekosistem pendidikan Islam yang konsisten membina murid-muridnya dari usia remaja hingga dewasa. Konsistensi lingkungan belajar semacam ini bukan sekadar kebetulan administratif, melainkan cerminan bagaimana nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini terus dipupuk dan diperkuat, sebelum akhirnya diuji langsung di salah satu institusi pendidikan yang sangat mengutamakan disiplin di republik ini: Akademi Angkatan Laut.
Gelar akademik S.Tr.Han. yang disandangnya juga layak mendapat perhatian khusus. Gelar Sarjana Terapan Pertahanan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan yang ditempuh di AAL bukan sekadar pelatihan fisik dan baris-berbaris semata, melainkan pendidikan tinggi vokasi setara sarjana yang memadukan ilmu pertahanan, kepemimpinan, teknologi militer, dan strategi maritim secara akademis. Artinya, seorang alumni madrasah dari Salatiga kini menyandang dua identitas sekaligus: sebagai perwira TNI Angkatan Laut yang menjaga kedaulatan laut Nusantara dan sebagai sarjana yang menguasai keilmuan pertahanan modern secara formal.

Posting Komentar untuk "LETDA (P) MUHAMMAD NAUFAL ARDAFI, S.Tr.Han.: ALUMNI MTs NEGERI SALATIGA, WAKIL PERWIRA DIVISI SENJATA KAPAL PERANG KRI SSA-378"
Posting Komentar