Dr. MUHAMMAD ZAKI MUBARAK, S.IP., M.Si.: ALUMNI MTs NEGERI SALATIGA, PENERIMA BEASISWA 5000 DOKTOR KEMENAG YANG KINI MENJADI WAKIL DEKAN DI KAMPUS ISLAM TERBESAR INDONESIA

Dr. MUHAMMAD ZAKI MUBARAK, S.IP., M.Si.: ALUMNI MTs NEGERI SALATIGA, PENERIMA BEASISWA 5000 DOKTOR KEMENAG YANG KINI MENJADI WAKIL DEKAN DI KAMPUS ISLAM TERBESAR INDONESIA

Kisah perjalanan panjang alumni MTs Negeri Salatiga yang membuktikan bahwa ilmu umum dan ilmu agama bukan dua jalan yang terpisah, melainkan satu jalan yang saling menguatkan.

Ada satu pertanyaan yang sering muncul di benak murid madrasah: apakah belajar di MTs, dengan segala muatan ilmu agamanya, akan menghambat langkah menuju cita-cita yang besar? Jawabannya, dari kisah alumnus ini sangat tegas: tidak. Justru sebaliknya.
Dr. Muhammad Zaki Mubarak, S.IP., M.Si.
Dr. Muhammad Zaki Mubarak, S.IP., M.Si.
Alumni MTs Negeri Salatiga Lulusan Tahun 1989

Nama yang tercatat dalam salah satu lembar inspiratif alumni Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Salatiga: Dr. Muhammad Zaki Mubarak, S.IP., M.Si., alumnus lulusan tahun 1989. Hari ini, posisi beliau adalah Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, perguruan tinggi Islam terbesar dan terkemuka di Indonesia. Di balik jabatan dan gelar akademik tersebut, ada jejak panjang yang dimulai dari bangku madrasah di Salatiga.

Fondasi di Madrasah: Ketika Ilmu Umum Bertemu Ilmu Agama

Muhammad Zaki Mubarak menempuh pendidikan di MTs Negeri Salatiga pada rentang tahun 1986–1989. Keunggulan madrasah terletak pada keseimbangan yang ditawarkan: murid tidak hanya dibekali ilmu-ilmu umum, tetapi juga ilmu-ilmu keagamaan yang membentuk iman dan ketakwaan (imtak). Bagi seorang muslim, keseimbangan inilah yang disebut sebagai integrasi antara Islam dan pengetahuan, sebuah fondasi cara berpikir yang kelak akan terus terbawa hingga ke jenjang pendidikan tertinggi.

Poin tersebut sangat penting untuk digarisbawahi bagi murid-murid yang saat ini sedang belajar di MTs Negeri Salatiga: pelajaran fikih, akidah akhlak, dan Al-Qur'an Hadis yang dipelajari saat ini bukan beban tambahan di luar "pelajaran yang sesungguhnya". Bagi Muhammad Zaki Mubarak, justru wawasan keagamaan tersebut yang menjadi modal ketika ia melangkah ke jenjang pendidikan umum berikutnya.

Riwayat Pendidikan Dr. Muhammad Zaki Mubarak, S.IP., M.Si.

Tahun Lulus Jenjang/Institusi Catatan
1989 MTs Negeri Salatiga Fondasi integrasi ilmu umum & agama
1992 SMA Negeri Ambarawa Ketua OSIS (1990–1991), aktif di Rismana & Pramuka
1997 Strata 1 (S1) Ilmu Politik, FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya Aktif organisasi intra & ekstra kampus
2003 Strata 2 (S2) Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia (UI) Penerima beasiswa Sylff Sasakawa Foundation Japan (2001–2003)
2024 Strata 3 (S3) Ilmu Sosial, Universiti Sains Malaysia (USM) Beasiswa Program MoRA 5000 Doktor, Kementerian Agama RI
Dr. Muhammad Zaki Mubarak berdiri di area kampus

Dari Rismana Ambarawa ke Kursi Ketua OSIS

Bekal keagamaan dari MTs Negeri Salatiga terbukti tidak berhenti di gerbang madrasah. Saat melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Ambarawa (tahun 1989–1992), Zaki Mubarak justru menjadi mentor keagamaan bagi teman-teman seangkatan maupun adik kelasnya. Ia aktif di Remaja Islam SMA Negeri Ambarawa (Rismana) dan juga di kegiatan Pramuka. Kombinasi kepemimpinan dan kedekatan dengan nilai-nilai keislaman inilah yang mengantarkannya dipercaya sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) periode 1990–1991.

Kisah tersebut menjadi bukti nyata: murid lulusan madrasah tidak hanya mampu bersaing di sekolah umum, tetapi juga mampu tampil sebagai pemimpin di lingkungan barunya.

Menembus Kampus Negeri, Meniti Ilmu Politik dari Surabaya hingga Kuala Lumpur

Setelah lulus SMA, Zaki Mubarak melanjutkan studi Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Di sana ia tidak hanya fokus pada perkuliahan, tetapi juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, baik di dalam maupun di luar kampus. Pilihan menekuni ilmu politik diniatkan sebagai bentuk sumbangsih bagi Indonesia, agar pemerintahan berjalan lebih demokratis dan mampu mensejahterakan rakyatnya.

Cita-cita tersebut berlanjut ke jenjang magister. Pada tahun 2000–2003, ia menempuh S2 Ilmu Politik di FISIP Universitas Indonesia (UI) sembari bekerja di sebuah lembaga riset di Jakarta. Prestasi akademiknya membuahkan hasil yang membanggakan: ia mendapatkan beasiswa dari Sylff Sasakawa Foundation Japan selama dua tahun masa studinya (2001–2003).

Puncak perjalanan akademiknya diraih pada tahun 2024, ketika ia menyelesaikan program doktor Ilmu Sosial di Universiti Sains Malaysia (USM), dengan dukungan beasiswa dari Ministry of Religious Affairs (MoRA) Program Kementerian Agama Republik Indonesia (RI) bertajuk "Beasiswa 5000 Doktor". Dari kelas madrasah di Salatiga hingga meja ujian doktoral di Malaysia, sebuah lintasan yang membuktikan bahwa ilmu tidak mengenal batas geografis, selama kesungguhan terus dijaga.

Dr. Muhammad Zaki Mubarak saat menempuh studi doktoral di Malaysia

Mengabdi sebagai Dosen, Kini Wakil Dekan Kemahasiswaan

Sejak tahun 2005, Zaki Mubarak mengabdikan diri sebagai dosen di FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta hingga saat ini, sebuah pengabdian yang telah berjalan lebih dari dua dekade. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sendiri dikenal sebagai perguruan tinggi Islam terbesar dan terkemuka di Indonesia. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan di fakultas tempatnya mengabdi, posisi strategis yang berarti ia turut bertanggung jawab membina ribuan mahasiswa agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu sekaligus berakhlak.

"Kesungguhan dalam belajar serta kekuatan doa dan ikhtiar merupakan kunci dari semua keberhasilan." — Dr. Muhammad Zaki Mubarak, S.IP., M.Si.

Pesan untuk Murid-Murid MTs Negeri Salatiga Saat Ini

Di penghujung kisahnya, Dr. Muhammad Zaki Mubarak, S.IP., M.Si. menitipkan doa dan pesan khusus bagi murid-murid yang kini sedang menempuh pendidikan di MTs Negeri Salatiga: agar terus semangat, percaya diri, dan mampu meraih prestasi terbaik. Beliau mengingatkan agar setiap murid membangun cita-cita yang tinggi, sembari tidak lupa bahwa kesungguhan dalam belajar, diiringi kekuatan doa dan ikhtiar, adalah kunci dari segala keberhasilan.

Perjalanan dari ruang kelas MTs Negeri Salatiga menuju kursi Wakil Dekan di kampus Islam terbesar di Indonesia bukanlah kisah yang instan, tapi dibangun bertahap: dari kepemimpinan di OSIS, keteguhan menekuni ilmu politik, hingga keberanian mengejar beasiswa hingga ke Jepang dan Malaysia. Namun semuanya berakar dari satu tempat yang sama, madrasah tempat murid-murid belajar saat ini.

Jika seorang alumnus MTs Negeri Salatiga bisa sampai sejauh ini, mengapa langkahmu harus berhenti di sini?

Posting Komentar untuk "Dr. MUHAMMAD ZAKI MUBARAK, S.IP., M.Si.: ALUMNI MTs NEGERI SALATIGA, PENERIMA BEASISWA 5000 DOKTOR KEMENAG YANG KINI MENJADI WAKIL DEKAN DI KAMPUS ISLAM TERBESAR INDONESIA"