JABATAN TIDAK PERNAH MENGUBAH SIAPA PUN, JABATAN HANYA MEMBONGKAR TOPENG YANG SELAMA INI DIPAKAI

JABATAN TIDAK PERNAH MENGUBAH SIAPA PUN, JABATAN HANYA MEMBONGKAR TOPENG YANG SELAMA INI DIPAKAI

"Kepemimpinan tidak menciptakan karakter. Kepemimpinan hanya memperlihatkannya." Kalimat ini sederhana, tetapi bagi siapa pun yang pernah bekerja di lingkungan sekolah, kalimat tersebut terasa seperti cermin yang tiba-tiba dipasang di sekolah.

Setiap tahun ajaran baru, di semua sekolah, selalu ada momen yang sama: pembagian tugas tambahan. Ada yang ditunjuk menjadi wali kelas, ada yang menjadi pembina ekstrakurikuler, ada yang dipercaya menjadi wakil kepala madrasah, ada pula yang mungkin malah naik menjadi kepala sekolah. Pada hari pengumuman tersebut, semua orang tersenyum, saling menyalami, saling mengucap selamat. Namun yang jarang disadari adalah bahwa hari itu bukan hari lahirnya karakter baru. Hari itu hanyalah hari panggung mulai menyala dan siapa pun yang berdiri di atasnya akan terlihat persis seperti dirinya yang sebenarnya, hanya dengan sorotan lampu yang lebih terang.

Mitos yang Selama Ini Dipercaya

Banyak guru muda percaya bahwa ketika kelak dipercaya menjadi kepala sekolah, mereka akan otomatis menjadi lebih bijaksana. Banyak pegawai/staf tata usaha percaya bahwa ketika dipercaya menjadi kepala urusan, mereka akan otomatis menjadi lebih tegas dan berwibawa. Keyakinan tersebut keliru dan keliru secara mendasar. Jabatan tidak memasukkan sifat baru ke dalam diri seseorang, sebagaimana seragam baru tidak mengubah bentuk tubuh yang memakainya. Jabatan hanya membuka ruang gerak. Ketika seseorang memegang wewenang, ia tidak lagi banyak dibatasi oleh struktur yang sebelumnya menahannya. Yang tadinya tersembunyi karena posisi yang rendah, kini punya ruang untuk keluar, baik itu kerendahan hati, maupun keangkuhan yang selama ini tertutup rapi oleh keadaan.

Di lingkungan sekolah, gejala tersebut bisa diamati dengan cukup jelas dalam beberapa bulan pertama seseorang menjabat. Guru yang dulunya ramah kepada rekan sejawat, ketika menjadi wakil kepala, tiba-tiba mulai bicara dengan nada memerintah kepada guru yang dulu setara dengannya. Sebaliknya, ada pula guru yang dulu pendiam dan jarang bersuara di rapat, tetapi begitu dipercaya menjadi koordinator kurikulum, justru menunjukkan kepekaan luar biasa terhadap kesulitan rekan-rekannya, mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, dan tidak menjadikan wewenangnya sebagai alat untuk mendikte. Dua orang, dua jabatan, dua hasil yang bertolak belakang. Bukan karena jabatannya berbeda sifat, jabatannya sama-sama memberi ruang kekuasaan, tetapi karena karakter yang sudah ada sejak sebelum menjabat itulah yang menentukan bagaimana ruang tersebut digunakan.

Cinta di Awal, Menentukan Wajah di Akhir

Ada satu prinsip yang jarang diajarkan secara eksplisit di pelatihan kepemimpinan sekolah, tetapi terbukti berulang kali dalam pengamatan sehari-hari: semua kembali pada apa yang dicintai seseorang sejak awal, jauh sebelum ia menjabat. Jika sejak menjadi guru biasa seseorang mencintai pelayanan — senang membantu murid yang tertinggal pelajaran, senang menggantikan piket rekan yang berhalangan, senang menyelesaikan administrasi tanpa menunggu diminta — maka ketika ia diberi kekuasaan, kekuasaan itu secara alami menjadi alat untuk membantu lebih banyak orang. Skalanya membesar, tetapi arah hatinya tidak berubah.

Namun jika yang dicintai sejak awal adalah pengakuan — ingin dilihat, ingin dipuji, ingin namanya disebut dalam setiap acara — maka begitu ia menjabat, jabatan itu akan berubah menjadi panggung. Rapat menjadi ajang menunjukkan diri, bukan ajang menyelesaikan masalah. Program kerja dirancang bukan berdasarkan kebutuhan murid, melainkan berdasarkan apa yang akan terlihat mengesankan di laporan tahunan atau di media sosial sekolah. Dan jika yang dicari sejak awal adalah kekuasaan itu sendiri — bukan pelayanan, bukan pembelajaran, melainkan kendali atas orang lain — maka jabatan akan berubah menjadi alat untuk mengatur, menekan, dan mengendalikan rekan kerja yang dulu setara dengannya.

Catatan reflektif: Bagi seorang guru matematika, prinsip tersebut sebenarnya sangat mirip dengan konsep fungsi dalam pelajaran yang kita ajarkan sehari-hari. Jabatan adalah input yang sama untuk setiap orang — wewenang, ruang gerak, sumber daya. Tetapi output-nya berbeda-beda, karena setiap orang memiliki "fungsi karakter" yang berbeda pula. Fungsi tersebut sudah terbentuk jauh sebelum input diberikan. Kesalahan terbesar dalam memilih pimpinan di sekolah adalah menilai kandidat hanya dari kemampuan administratifnya, tanpa pernah menelusuri fungsi karakter yang sudah lama berjalan di dalam dirinya.

Kekuasaan Sebagai Alat Pembesar, Bukan Pencetak

Kesempatan memimpin tidak menciptakan karakter, tapi hanya memperbesar karakter yang sudah ada, seperti lensa pembesar yang tidak menciptakan objek baru, melainkan hanya membuat objek yang sudah ada menjadi lebih terlihat jelas. Orang yang rendah hati sejak menjadi guru biasa, ketika diberi jabatan, akan semakin rendah hati — karena wewenang yang ia miliki membuatnya semakin sadar betapa besar tanggung jawab yang dipikulnya dan betapa banyak hal yang belum ia kuasai. Sebaliknya, orang yang arogan sejak sebelum menjabat, ketika diberi jabatan, akan semakin sulit menerima kritik — karena sekarang ia punya wewenang untuk menyingkirkan siapa pun yang mengkritiknya dan tidak ada lagi struktur formal yang memaksanya untuk mendengar.

Di sekolah mana pun, fenomena ini bukan hal asing. Ada kepala sekolah yang menggunakan masa jabatannya untuk membangun sistem — menata alur administrasi, merapikan mekanisme evaluasi murid, menciptakan prosedur yang tetap berjalan baik meskipun kelak ia sudah tidak menjabat lagi. Ada pula yang menggunakan masa jabatannya untuk membangun manusia — mendampingi guru-guru muda, memberi kesempatan mengajar tambahan bagi yang ingin berkembang, mendorong siapa pun yang punya potensi meskipun bukan orang dekatnya. Ada yang membangun budaya kerja — menanamkan kebiasaan disiplin, kejujuran, dan gotong royong dalam keseharian di sekolah. Namun sayangnya, ada juga yang hanya sibuk membangun dirinya sendiri: mengumpulkan sertifikat, mengejar jabatan yang lebih tinggi lagi, dan menjadikan sekolah sebagai batu loncatan pribadi tanpa meninggalkan apa pun yang bertahan lama bagi murid maupun rekan kerjanya.

Jejak yang Ditinggalkan Ketika Masa Jabatan Berakhir

Setiap masa jabatan, cepat atau lambat, pasti berakhir. Kepala sekolah akan digantikan. Wali kelas akan berganti setiap tahun ajaran. Wakil kepala akan lengser bersama pergantian struktur. Ketika masa jabatan tersebut selesai, semua gelar yang melekat pada seseorang — Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, Ketua Panitia — akan ditinggalkan begitu saja, seperti seragam yang dilepas setelah acara usai. Yang tetap tinggal, yang tetap hidup dalam ingatan murid dan rekan kerja, hanyalah jejaknya.

Pertanyaan yang layak direnungkan oleh setiap guru yang kelak diberi amanah tambahan bukanlah "seberapa tinggi jabatan yang akan saya capai", melainkan "apakah orang-orang akan mengingat perubahan baik yang saya bawa ataukah mereka justru akan mengingat luka yang saya tinggalkan." Murid tidak akan mengingat gelar seorang wali kelas. Mereka akan mengingat apakah wali kelas tersebut dulu mendengarkan keluh kesah mereka atau justru membentak mereka di depan teman-temannya. Guru tidak akan mengingat berapa lama seorang kepala sekolah menjabat. Mereka akan mengingat apakah kepala sekolah tersebut memperlakukan mereka dengan adil atau justru pilih kasih terhadap orang-orang tertentu.

Dalam pandangan hidup yang menempatkan nilai tawadhu' (kerendahan hati) dan ta'awun (tolong-menolong) sebagai fondasi, kesempatan memimpin sesungguhnya adalah bentuk ujian, bukan hadiah. Wewenang yang diberikan bukanlah kepemilikan pribadi, melainkan titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban — baik di hadapan atasan di dunia, maupun di hadapan Yang Maha Mengetahui. Prinsip qana'ah (merasa cukup) menjadi penawar alami bagi godaan untuk menjadikan jabatan sebagai panggung pengakuan diri.

Relevansi Nyata di Sekolah

Bagi seorang guru yang juga menjalankan tugas administratif di sekolah, prinsip ini punya konsekuensi praktis yang sangat konkret. Ketika seorang guru diberi tugas tambahan sebagai wali kelas, pembina ekstrakurikuler, atau bahkan sekadar penanggung jawab satu kegiatan kecil seperti Matamuda bagi murid baru, saat itulah karakter aslinya mulai terlihat. Apakah ia menggunakan kesempatan tersebut untuk benar-benar mengenal murid barunya satu per satu atau hanya menjalankan seremoni tanpa kepedulian yang tulus? Apakah ia menggunakan wewenang kecil tersebut untuk membangun kepercayaan murid terhadap sekolah, atau justru menjadikannya beban yang dikerjakan asal selesai?

Hal yang sama berlaku ketika seorang guru dipercaya menyusun ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) atau KKTP (Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran) untuk satu jenjang penuh. Wewenang menentukan arah pembelajaran bagi ratusan murid sesungguhnya adalah kekuasaan kecil yang mudah disalahgunakan, misalnya dengan menyusun kriteria yang memudahkan administrasi guru tanpa benar-benar mempertimbangkan kebutuhan belajar murid. Namun bagi guru yang sejak awal mencintai proses pembelajaran itu sendiri, kesempatan yang sama akan digunakan untuk merancang alur yang benar-benar berpihak pada pemahaman murid, bukan sekadar berpihak pada kemudahan pelaporan.

Ujian yang Tidak Terlihat, tapi Selalu Ada

Kesempatan memimpin, sekecil apa pun bentuknya, adalah ujian karakter yang tidak pernah diumumkan secara resmi, tetapi selalu berlangsung setiap hari. Jabatan tidak menunjukkan seberapa besar kekuasaan yang dimiliki seseorang. Jabatan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya, ketika ia memiliki kekuasaan itu. Bagi setiap guru, wali kelas, wakil kepala, hingga kepala sekolah, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan "jabatan apa lagi yang akan saya capai", melainkan "karakter macam apa yang selama ini sudah saya pupuk, sehingga ketika kesempatan tersebut datang, ia tidak akan mengejutkan siapa pun."

Karena pada akhirnya, panggung akan selalu ada. Yang menentukan adalah siapa yang berdiri di atasnya, jauh sebelum lampu sorot dinyalakan.

Posting Komentar untuk "JABATAN TIDAK PERNAH MENGUBAH SIAPA PUN, JABATAN HANYA MEMBONGKAR TOPENG YANG SELAMA INI DIPAKAI"