MENGAPA GURU HEBAT BISA MEMILIKI KINERJA BURUK?

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa seorang guru yang penuh semangat dan ide-ide kreatif pada awal karirnya, justru terlihat lesu dan kehilangan gairah seiring berjalannya waktu? Atau mengapa guru yang pernah mendapatkan pelatihan berkualitas tinggi, tetapi kembali ke sekolah dengan semangat yang sama seperti sebelumnya, tidak ada perubahan berarti?

Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di satu atau dua sekolah, tetapi merupakan pola yang tersebar luas di dunia pendidikan kita. Dan jawabannya bukan terletak pada kompetensi individual guru, melainkan pada sesuatu yang lebih fundamental: sistem.

Dua Tangan yang Saling Bertentangan

Bayangkan sebuah pelatihan guru. Di ruang pelatihan itu, tangan kanan Anda, sebut saja bagian pelatihan, berteriak penuh semangat: "GASSS! Ayo berinovasi! Ayo lebih kreatif! Jangan takut mencoba hal baru!"

Sementara itu, tangan kiri Anda, bagian disiplin dan administrasi, membisikkan sesuatu yang berbeda: "STOPP! Awas kalau telat! Awas kalau salah lagi administrasi! Awas saja kalau tidak nurut SOP!"

Inilah realitas yang dihadapi banyak guru. Mereka seperti mobil yang didorong untuk ngebut dengan gas penuh, tapi di saat yang sama direm dengan keras. Hasilnya? Mobilnya tidak maju. Bahkan lebih buruk lagi, mesinnya bisa jebol karena dipaksa bekerja dalam kondisi yang saling bertentangan.

Analogi Akuarium: Sistem adalah Air, Guru adalah Ikan

Mari kita ganti cara pandang. Bayangkan sekolah adalah sebuah akuarium besar, dan guru-guru adalah ikan-ikan di dalamnya.

Jika ada satu ikan yang sakit, mungkin memang ikannya yang bermasalah. Kita bisa mengobatinya, memberinya perhatian khusus, atau bahkan menggantinya dengan ikan yang lebih sehat.

Tapi bagaimana jika banyak ikan yang sakit? Ikan yang awalnya lincah dan bersemangat, perlahan-lahan menjadi lesu, tidak lincah berenang, bahkan kehilangan warna cerahnya?

Pertanyaan yang harus kita ajukan bukan lagi: "Ada apa dengan ikan-ikan tersebut?" Melainkan: "Ada apa dengan airnya?"

Inilah yang sering kita lupakan dalam dunia pendidikan. Kita terlalu fokus memperbaiki "ikan" (guru secara individual), tanpa menyadari bahwa masalah sebenarnya ada pada "air" (sistem tempat mereka bekerja).

"Air Keruh" dalam Dunia Pendidikan

Dalam konteks sekolah, "air" adalah sistem yang mencakup:

1. Budaya Organisasi yang Menyalahkan

Budaya yang selalu mencari siapa yang salah ketimbang apa yang salah. Guru takut berinovasi karena khawatir jika gagal akan disalahkan. Mereka lebih memilih bermain aman dengan metode lama yang "aman" meskipun tidak efektif.

2. Aturan yang Kaku dan Menakutkan

Peraturan yang dibuat lebih untuk mengontrol daripada memfasilitasi. Standar Operasional Prosedur (SOP) yang begitu ketat sehingga tidak memberikan ruang untuk kreativitas dan penyesuaian dengan kondisi unik setiap kelas.

3. Beban Administratif yang Tidak Masuk Akal

Guru menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengisi formulir, membuat laporan, dan urusan administrasi lainnya, ketimbang mempersiapkan pembelajaran yang berkualitas atau berinteraksi dengan murid.

4. Kurangnya Apresiasi dan Penghargaan

Sistem yang hanya menyoroti kesalahan tapi jarang mengapresiasi upaya dan pencapaian. Guru yang berinovasi tidak mendapat dukungan, bahkan kadang dianggap "merepotkan".

5. Komunikasi Satu Arah

Keputusan dibuat dari atas tanpa melibatkan guru yang berada di garis depan. Guru hanya diminta melaksanakan tanpa diberi ruang untuk memberikan masukan atau feedback.

Air yang keruh inilah yang membuat ikan-ikan yang tadinya sehat menjadi sakit. Bukan karena ikannya bermasalah, tapi karena lingkungannya tidak mendukung mereka untuk berkembang.

Dilema "Gas dan Rem"

Mari kita kembali ke analogi mobil yang disebutkan di awal. Apa yang terjadi jika mobil di-gas dan di-rem secara bersamaan?

Dalam dunia pendidikan, inilah yang sering terjadi:

Di Pelatihan:

  • "Guru harus kreatif!"
  • "Guru harus inovatif!"
  • "Guru harus berani mencoba metode baru!"
  • "Guru harus student-centered!"

Di Sekolah:

  • "Kenapa RPP-nya beda dari format standar?"
  • "Kenapa tidak mengikuti buku teks?"
  • "Kenapa kelasnya berisik? Murid harus duduk rapi!"
  • "Administrasi Anda kurang lengkap!"

Guru yang pulang dari pelatihan dengan semangat membara, disambut dengan sistem yang sama. Mereka memilih: tetap "gas" (berinovasi) dan berhadapan dengan masalah administratif dan teguran, atau ikut "rem" (kembali ke zona nyaman) dan menjadi pasif.

Yang memilih "Cari Aman" biasanya adalah mereka yang bijak membaca situasi. Mereka tahu bahwa dalam sistem yang ada, berinovasi justru berisiko. Lebih baik diam, pasif, dan menunggu perintah. Kinerja pun menjadi macet.

Sebelum Menyalahkan Guru, Tanyakan pada Diri Sendiri

Sebagai kepala sekolah, pengawas, atau pembuat kebijakan pendidikan, sebelum marah-marah atau memecat guru karena kinerja yang buruk, ajukan pertanyaan ini pada diri sendiri:

"Apakah saya sedang memelihara ikan di air yang keruh?"

"Apakah saya menyuruh mereka berkarya, tapi kaki saya terus menginjak rem?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena membawa kita pada kesadaran bahwa masalah kinerja guru sering kali adalah gejala dari masalah sistem, bukan semata-mata masalah individu.

Tanda-Tanda Air Sudah Keruh

Bagaimana kita tahu bahwa sistem di sekolah kita sudah bermasalah? Berikut beberapa indikatornya:

1. Tingkat Turnover Guru yang Tinggi

Jika guru-guru terbaik sering mengundurkan diri atau pindah ke sekolah lain, itu pertanda bahwa sistem tidak mendukung mereka berkembang.

2. Guru Hanya Melakukan yang Minimal

Ketika guru-guru hanya mengajar sesuai kewajiban minimum tanpa inisiatif lebih, itu tanda mereka tidak termotivasi oleh sistem yang ada.

3. Resistensi terhadap Perubahan

Jika setiap kali ada inovasi atau perubahan, guru-guru menunjukkan resistensi yang kuat, bisa jadi karena sistem sebelumnya tidak mendukung upaya perubahan mereka.

4. Rendahnya Kolaborasi

Guru-guru bekerja sendiri-sendiri dalam "pulau" mereka masing-masing. Tidak ada kultur berbagi dan kolaborasi.

5. Suasana yang Tegang dan Penuh Tekanan

Ruang guru yang sepi, guru-guru yang terlihat stres, atau komunikasi yang kaku dan formal, semua ini adalah tanda bahwa air sudah keruh.

Membersihkan Air: Langkah-Langkah Praktis

Jika masalahnya adalah sistem, maka solusinya juga harus pada level sistem. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

1. Ciptakan Budaya yang Aman untuk Gagal

Biarkan guru tahu bahwa mencoba dan gagal adalah bagian dari proses belajar. Yang penting adalah pembelajaran dari kegagalan tersebut, bukan hukuman.

2. Kurangi Beban Administratif yang Tidak Perlu

Evaluasi kembali semua formulir dan laporan yang diminta dari guru. Tanyakan: "Apakah ini benar-benar diperlukan? Atau hanya formalitas?" Jika tidak esensial, hapus.

3. Buat Aturan yang Memfasilitasi, Bukan Mengekang

SOP dan aturan memang perlu, tapi buatlah dengan tujuan membantu guru bekerja lebih baik, bukan untuk mengontrol setiap detail tindakan mereka.

4. Dengarkan Suara Guru

Buat forum atau mekanisme di mana guru bisa menyampaikan ide, keluhan, dan saran. Dan yang lebih penting: tindaklanjuti masukan mereka. Jangan hanya jadi formalitas.

5. Apresiasi dan Rayakan Pencapaian

Jangan hanya menyoroti kesalahan. Rayakan pencapaian sekecil apa pun. Apresiasi upaya, bukan hanya hasil.

6. Selaraskan Pesan dari Semua Level

Pastikan pesan dari pelatihan, dari kepala sekolah, dari pengawas, semuanya selaras. Jangan sampai ada yang menyuruh "gas" sementara yang lain menyuruh "rem".

7. Berikan Otonomi yang Bertanggung Jawab

Percayai guru sebagai profesional. Beri mereka ruang untuk membuat keputusan terkait pembelajaran, selama tetap sejalan dengan visi dan nilai sekolah.

8. Investasi pada Pengembangan Kapasitas yang Berkelanjutan

Pelatihan bukan sekadar event satu kali. Buat sistem mentoring dan pendampingan berkelanjutan sehingga pembelajaran dari pelatihan bisa diterapkan dengan dukungan yang memadai.

Dari Compliance ke Commitment

Perubahan terbesar yang perlu terjadi adalah pergeseran dari budaya compliance (kepatuhan) ke budaya commitment (komitmen).

Dalam budaya compliance, guru bekerja karena takut dihukum jika tidak mengikuti aturan. Mereka melakukan sesuatu karena "harus", bukan karena "ingin".

Dalam budaya commitment, guru bekerja karena mereka percaya pada visi sekolah dan merasa bahwa kontribusi mereka dihargai. Mereka melakukan sesuatu karena merasa memiliki dan bertanggung jawab, bukan karena dipaksa.

Perubahan tersebut tidak terjadi dalam semalam. Tapi dimulai dari kesadaran bahwa sistem yang baik akan membuat orang biasa menghasilkan kinerja luar biasa, sementara sistem yang buruk akan membuat orang hebat menghasilkan kinerja biasa-biasa saja.

Jangan Salahkan Ikannya, Perbaiki Airnya

Cerita tentang guru yang mengikuti pelatihan tapi kembali dengan semangat yang sama adalah cerminan dari sistem yang tidak mendukung. Bukan berarti pelatihannya tidak berguna, tapi karena guru kembali ke "air yang sama", sistem yang sama yang tidak mendukung perubahan.

Analogi akuarium mengajarkan kita sesuatu yang sangat fundamental: jika banyak ikan yang sakit, jangan terus-menerus mengganti ikannya. Periksa airnya. Bersihkan airnya. Perbaiki sistemnya.

Begitu pula dalam dunia pendidikan. Jika banyak guru yang kinerjanya mandek, jangan terburu-buru menyalahkan mereka. Periksa sistemnya. Apakah budaya organisasinya mendukung? Apakah aturannya memfasilitasi atau mengekang? Apakah beban kerjanya masuk akal? Apakah ada apresiasi yang memadai?

Air keruh membuat ikan-ikan hebat pun jadi sakit.

Sebelum pimpinan marah-marah atau memecat orang, tanyakan dulu pada diri sendiri: "Apakah saya sedang memelihara ikan di air yang keruh? Apakah saya menyuruh mereka ngebut (berkarya), tapi kaki saya terus menginjak rem (menakut-nakuti)?"

Karena pada akhirnya, sekolah yang hebat bukan sekolah yang memiliki guru-guru super berbakat yang bekerja sendirian melawan sistem yang buruk. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang memiliki sistem yang baik, air yang jernih, sehingga guru-guru biasa pun bisa berkembang menjadi luar biasa.

Mari kita bersama-sama membersihkan air di akuarium pendidikan kita. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi untuk memastikan bahwa setiap guru, setiap ikan, bisa berkembang dengan sehat dan memberikan kontribusi terbaiknya untuk masa depan anak-anak kita.

Miftah Syarifuddin

Miftah Syarifuddin, anak ketiga dari 3 (tiga) bersaudara, lahir di Kab. Semarang, 24 Maret 1978. Ditetapkan sebagai Guru Matematika di Madrasah Ts anawiyah Negeri Salatiga sejak tahun 2003. Pendidikan dasar ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Pabelan, Kab. Semarang (1984 – 1989). Pendidikan menengah ditempuh di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Salatiga (1989 – 1992) dan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Salatiga (1992 – 1995). Gelar Sarjana Sains (S.Si.) bidang Matematika diperoleh di Universitas Diponegoro Semarang (1995 – 2001). Gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) bidang Pendidikan Matematika diperoleh di Universitas Negeri Surabaya (2015 – 2017) melalui Program Beasiswa yang diadakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Beberapa judul buku yang pernah ditulis adalah “Algebraic Reasoning: Pendekatan Smart dalam Model Problem Based Learning”, “Conceptual Thinking: Proses Hebat dalam Problem Solving Matematika”, dan Procedural Thinking vs Conceptual Thinking dalam Matematika: Which One to Win?.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama