KETIKA ATASAN TAK BUTUH TIM HEBAT: JEBAKAN EGO DALAM KEPEMIMPINAN
Dunia kerja dan organisasi sering kali menggaungkan
pentingnya membangun "tim yang hebat." Kita sering mendengar jargon
seperti “Teamwork makes the dream work” atau pencarian bakat-bakat
unggul untuk memajukan sebuah lembaga. Namun, ada sebuah realita pahit yang
jarang dibicarakan di balik meja rapat yang megah: Ada atasan yang
sebenarnya tidak butuh tim yang hebat. Mereka hanya butuh tim yang patuh.
Fenomena tersebut bukan sekadar masalah teknis manajemen,
melainkan masalah psikologis dan ego yang berakar dalam. Bagi para pendidik,
pemimpin sekolah, atau profesional di bidang apapun, memahami dinamika tersebut
sangatlah krusial agar kita tidak terjebak dalam lingkungan yang justru
mengerdilkan potensi kita sendiri.
Ciri-Ciri Pemimpin yang "Terancam" oleh
Kecemerlangan
Mengapa ada pemimpin yang justru merasa tidak nyaman dengan
anggota tim yang berprestasi? Alasannya sederhana namun merusak: Ketakutan
akan tersaingi.
Pemimpin tipe tersebut melihat kesuksesan anggota tim sebagai
ancaman terhadap posisinya, bukan sebagai aset bagi organisasi. Berikut adalah
beberapa pola perilaku yang sering muncul:
1. Sentralisasi Ide: Setiap ide brilian harus nampak
seolah-olah berasal dari sang pemimpin. Jika ada anggota tim yang memberikan
solusi cerdas, pemimpin tersebut akan mencoba "memodifikasi" sedikit
agar ia tetap terlihat sebagai otak di balik keberhasilan tersebut.
2. Kecenderungan Memadamkan Cahaya: Jika ada seseorang yang terlalu
bersinar, yang terlalu vokal dengan solusi inovatif, atau yang terlalu dicintai
oleh lingkungan kerja, sang pemimpin akan mulai "meredupkan" mereka
secara perlahan. Hal ini dilakukan bukan dengan teguran keras, melainkan dengan
taktik yang lebih halus.
3. Pengabaian secara Sistematis: Daripada memarahi, pemimpin tersebut
lebih memilih untuk mengabaikan. Masukan tidak didengar, kehadiran tidak
dianggap, dan kontribusi tidak diapresiasi. Hal ini adalah bentuk silent
treatment profesional.
4. Mengerdilkan Peran: Pernahkah Anda merasa memiliki
kapasitas untuk mengerjakan proyek besar, namun terus-menerus diberikan tugas
administratif yang sepele? Hal ini merupakan cara pemimpin tersebut memastikan
Anda tidak memiliki panggung untuk membuktikan kehebatan Anda.
Paradoks Kedewasaan: Topeng di Balik Ego
Menariknya, pemimpin seperti ini sering kali memoles citra
diri mereka sebagai sosok yang "dewasa" dan "bijaksana."
Mereka mungkin berbicara tentang harmoni organisasi atau kepatuhan terhadap
hierarki demi kebaikan bersama. Padahal, yang mereka rawat sebenarnya bukanlah
organisasi, melainkan ego mereka sendiri.
Ego yang belum selesai adalah musuh terbesar kepemimpinan.
Pemimpin yang matang secara emosional akan merasa bangga jika anggota timnya
melampaui kemampuan dirinya sendiri. Sebaliknya, pemimpin yang rapuh akan
merasa dunianya runtuh setiap kali ada bawahannya yang mendapatkan panggung.
Mengapa Anggota Tim Tidak Bisa Tumbuh?
Di bawah kepemimpinan yang berbasis ego, pertumbuhan adalah
sesuatu yang mustahil. Tim tidak akan belajar untuk menjadi lebih besar atau
lebih cerdas. Sebaliknya, mereka akan belajar untuk mengecil.
- Budaya
Ketakutan:
Anggota tim akan ragu untuk berinovasi karena takut dianggap melangkahi
atau menyaingi atasan.
- Stagnasi
Kreativitas:
Ide-ide segar akan mati sebelum dilahirkan karena lingkungan yang tidak
mendukung kritik atau pemikiran out-of-the-box.
- Kehilangan
Motivasi:
Individu-individu hebat akan segera menyadari bahwa tidak ada ruang bagi
mereka untuk berkembang, yang akhirnya berujung pada pengunduran diri atau
penurunan kinerja secara drastis (quiet quitting).
Refleksi untuk Kita Semua: Pemimpin atau Bos?
Penting bagi kita untuk melakukan introspeksi, terutama bagi
kita yang memegang amanah sebagai pemimpin, baik itu kepala sekolah,
koordinator guru, atau pemimpin organisasi lainnya.
- Apakah
kita merasa senang saat melihat rekan sejawat kita sukses?
- Apakah
kita memberikan ruang seluas-luasnya bagi tim untuk berinovasi, meskipun
ide mereka lebih baik dari ide kita?
- Atau,
apakah kita merasa cemas dan mulai mencari-cari kesalahan ketika ada
anggota tim yang mulai mendapatkan apresiasi dari pihak luar?
Seorang pemimpin sejati adalah seorang enabler,
seseorang yang memampukan orang lain. Tugas utama pemimpin bukan untuk menjadi
orang terpintar di dalam ruangan, melainkan memastikan orang-orang terpintar di
dalam ruangan tersebut dapat bekerja sama dengan maksimal.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Anda Berada di Posisi Ini?
Jika Anda merasa setiap hari Anda "makin mengecil"
di tempat kerja, jika potensi Anda tidak diberikan ruang, dan kontribusi Anda
justru dianggap sebagai ancaman, ingatlah satu hal: Bukan Anda yang
bermasalah.
Anda mungkin hanya sedang bekerja di bawah kepemimpinan yang
belum siap memimpin manusia. Kepemimpinan yang masih terjebak dalam rasa haus
akan pengakuan dan ketakutan akan kehilangan kendali.
Langkah yang bisa diambil:
1. Tetap Profesional: Jangan biarkan perilaku atasan
merusak integritas kerja Anda. Tetap berikan yang terbaik, namun kelola
ekspektasi Anda terhadap apresiasi.
2. Cari Mentor di Luar: Jika Anda tidak mendapatkan
bimbingan di tempat kerja, carilah komunitas atau jaringan profesional di luar
untuk terus mengasah kemampuan Anda.
3. Evaluasi Masa Depan Anda: Lingkungan yang beracun (toxic)
bagi pertumbuhan tidak akan berubah selama pemimpinnya tidak menyadari egonya.
Kepemimpinan Berbasis Cinta
Pemimpin yang baik seharusnya menerapkan prinsip yang mirip
dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), di mana rasa aman, kepercayaan,
dan kasih sayang menjadi fondasi hubungan kerja.
Hanya dalam lingkungan yang amanlah, manusia bisa mekar.
Hanya di bawah pemimpin yang rendah hati lah, sebuah tim bisa menjadi hebat.
Bagaimana dengan pengalaman Anda? Apakah Anda pernah merasa
dikerdilkan oleh ego seorang atasan atau justru pernah bertemu dengan pemimpin
yang begitu tulus mendukung kesuksesan Anda?
Mari berbagi cerita di kolom komentar berikut agar kita semua bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Posting Komentar untuk "KETIKA ATASAN TAK BUTUH TIM HEBAT: JEBAKAN EGO DALAM KEPEMIMPINAN"
Posting Komentar