BUDAYA LEMBAGA PENDIDIKAN YANG TERLIHAT PROFESIONAL, TETAPI DIAM-DIAM MERACUNI GURU DAN PEMBELAJARAN

Dalam dunia pendidikan dan madrasah, kata profesional sering kali dijadikan standar tertinggi. Guru yang profesional dianggap harus selalu siap, selalu kuat, selalu patuh, dan selalu sanggup menyesuaikan diri dengan berbagai kebijakan, apa pun bentuk dan waktunya.

Namun, pertanyaan penting yang jarang diajukan adalah:
apakah semua yang tampak profesional tersebut benar-benar mendidik dan menyehatkan?

Tidak sedikit budaya di sekolah atau madrasah yang terlihat rapi, tertib, dan sesuai aturan, tetapi di balik itu justru menggerogoti semangat guru, mematikan kreativitas pembelajaran, dan menjauhkan pendidikan dari nilai kemanusiaannya. Budaya semacam ini tidak selalu keras atau kasar. Budaya tersebut sering hadir dengan bahasa regulasi, administrasi, dan slogan mutu.

Artikel berikut mengajak kita menelaah beberapa budaya di lembaga pendidikan yang kerap dianggap wajar dan profesional, padahal sesungguhnya bersifat toxic secara struktural.

1. Transparansi yang Hanya Mengalir dari Guru ke Pimpinan

Di sekolah dan madrasah, guru sering diminta transparan dalam segala hal:

  • laporan administrasi pembelajaran,
  • jurnal harian,
  • Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), modul ajar, asesmen,
  • hingga dokumentasi kegiatan kelas.

Namun transparansi tersebut sering bersifat satu arah. Guru dituntut terbuka, sementara kebijakan:

  • perubahan jadwal mendadak,
  • pembagian tugas tambahan,
  • penilaian kinerja,
  • atau keputusan penting sekolah atau madrasah,

kerap disampaikan tanpa dialog dan tanpa penjelasan yang memadai.

Akibatnya, transparansi berubah menjadi alat kontrol, bukan nilai kejujuran bersama. Guru merasa terus diawasi, tetapi tidak dilibatkan. Dalam jangka panjang, hal ini akan melahirkan budaya “asal patuh” dan mematikan rasa memiliki terhadap sekolah atau madrasah.

Padahal, pendidikan yang sehat membutuhkan transparansi dua arah: keterbukaan guru dan keterbukaan pimpinan.

2. Rapat Rutin Sekolah atau Madrasah yang Padat, tetapi Miskin Makna

Rapat guru adalah simbol keseriusan manajemen sekolah atau madrasah. Namun realitas di lapangan sering berbeda. Banyak rapat rutin yang:

  • agendanya tidak jelas,
  • isinya pengulangan instruksi,
  • dipenuhi teguran umum tanpa solusi,
  • atau hanya formalitas administrasi.

Guru duduk berjam-jam, mendengar arahan yang sama dari bulan ke bulan, sementara persoalan nyata di kelas tidak pernah benar-benar dibahas. Ironisnya, waktu rapat sering mengambil jatah waktu guru untuk mengajar dan merancang pembelajaran yang bermakna.

Sekolah atau madrasah yang profesional bukan yang paling sering rapat, melainkan yang menghargai waktu guru sebagai pendidik, bukan sekadar peserta forum.

3. Target dan Deadline Akademik yang Tidak Manusiawi

Dalam dunia pendidikan, target sering dibungkus dengan istilah mutu dan kedisiplinan:

  • target ketuntasan,
  • target administrasi,
  • target laporan,
  • target lomba dan capaian sekolah atau madrasah.

Masalahnya, banyak target ditetapkan tanpa mempertimbangkan kondisi riil guru dan murid. Informasi datang terlambat, perubahan kebijakan mendadak, tetapi tenggat tetap dipaksakan.

Ketika guru kewalahan, respons yang muncul sering kali:

“Ini bagian dari profesionalisme.”

Padahal profesionalisme bukan berarti mengabaikan akal sehat. Target yang baik seharusnya menantang, bukan menekan secara sistemik. Pendidikan bukan pabrik, dan guru bukan operator mesin.

4. Guru Didorong Kerja Lebih, tetapi Dilarang Mengeluh Lelah

Budaya pengabdian sering kali disalahartikan. Guru yang menyampaikan kelelahan mental atau fisik kerap dianggap:

  • kurang ikhlas,
  • kurang kuat,
  • kurang bermental pendidik.

Kalimat-kalimat seperti:

  • “Guru sejati tidak mengeluh,”
  • “Ini ladang pahala,”
  • “Semua juga capek,”

sering digunakan untuk menormalisasi beban kerja berlebih tanpa dukungan yang memadai. Ketika kinerja menurun akibat kelelahan, guru justru disalahkan secara personal.

Padahal, guru yang sehat secara mental dan fisik adalah prasyarat utama pembelajaran yang bermakna. Pendidikan tidak akan berkualitas jika para pendidiknya dipaksa terus memberi tanpa pernah dipulihkan.

5. Mengatasnamakan “Kekeluargaan”, tetapi Sarat Ketidakadilan

Banyak sekolah dan madrasah bangga menyebut dirinya sebagai keluarga besar. Namun dalam praktiknya, jargon kekeluargaan tersebut sering menutupi masalah serius:

  • pembagian tugas tidak adil,
  • guru tertentu selalu diandalkan,
  • yang lain dilindungi karena kedekatan personal,
  • konflik disembunyikan demi citra harmonis.

Dalam lingkungan seperti ini, profesionalisme kabur. Kritik dianggap tidak sopan, aspirasi dianggap pembangkangan. Guru akhirnya memilih diam demi “menjaga suasana”.

Sekolah dan madrasah yang sehat tidak anti kritik. Justru kritik yang disampaikan dengan adab adalah tanda kepedulian terhadap mutu pendidikan.

6. Pengawasan Berlebihan atas Nama Mutu Pendidikan

Supervisi akademik sejatinya bertujuan membina. Namun ketika berubah menjadi pengawasan yang kaku dan penuh kecurigaan, supervisi tersebut justru mematikan inovasi guru.

Ciri-cirinya antara lain:

  • guru takut mencoba metode baru,
  • pembelajaran diseragamkan secara berlebihan,
  • kreativitas dianggap menyimpang dari standar.

Guru akhirnya mengajar bukan untuk murid, tetapi untuk memenuhi format penilaian. Pembelajaran menjadi formalitas, bukan proses bermakna.

Mutu pendidikan tidak lahir dari ketakutan salah, melainkan dari kepercayaan yang dibingkai dengan pendampingan.

7. Guru Berprestasi Dianggap Mengganggu Keseimbangan

Fenomena yang jarang dibicarakan adalah ketika guru yang terlalu berprestasi justru dianggap “tidak aman”. Inovasi dipandang berlebihan, prestasi dianggap pamer, dan kreativitas dianggap mengancam zona nyaman.

Alih-alih dijadikan inspirasi, guru berprestasi justru:

  • dibatasi ruang geraknya,
  • tidak diberi dukungan,
  • atau dibiarkan berjalan sendiri.

Sekolah dan madrasah yang sehat merayakan prestasi sebagai kekuatan kolektif. Sekolah dan madrasah yang toxic justru merasa terancam oleh keunggulan individu.

Profesionalisme Pendidikan Harus Berakar pada Kemanusiaan

Pendidikan bukan sekadar sistem, regulasi, dan target. Pendidikan adalah relasi manusia dengan manusia. Profesionalisme sejati dalam pendidikan tidak pernah meniadakan empati, dialog, dan keadilan.

Sekolah dan madrasah yang benar-benar profesional akan:

  • mendengar guru,
  • melindungi pendidik,
  • menata sistem, bukan menekan individu,
  • serta menjadikan nilai kemanusiaan sebagai fondasi mutu.

Jika sebuah lembaga pendidikan terlihat rapi, tetapi banyak gurunya lelah secara diam-diam, maka yang perlu diperbaiki bukan dedikasi guru, melainkan budaya organisasinya.

Karena pendidikan yang bermakna hanya akan lahir dari pendidik yang dimanusiakan.

Posting Komentar untuk "BUDAYA LEMBAGA PENDIDIKAN YANG TERLIHAT PROFESIONAL, TETAPI DIAM-DIAM MERACUNI GURU DAN PEMBELAJARAN"