Ada satu bilangan yang jarang dipamerkan, tetapi selalu berbicara lantang tentang kesungguhan seseorang: Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99. Bilangan nyaris sempurna itulah yang mengantar salah satu alumni Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Salatiga, HIDAYAH SYIFAIL FU'ADAH, dari bangku pendidikan tinggi keperawatan menuju profesi yang menuntut ketelitian dan tanggung jawab besar terhadap nyawa manusia: perawat profesional di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandan Arang Boyolali, Jawa Tengah. Kisahnya bukan sekadar riwayat karier di atas kertas curriculum vitae, melainkan bukti hidup bahwa pendidikan madrasah mampu menumbuhkan fondasi karakter dan ketekunan yang melahirkan prestasi akademik gemilang, sekaligus profesionalisme yang matang di dunia kerja.
Angka IPK 3,99 bukan hanya deretan digit di atas ijazah, melainkan representasi nyata dari disiplin, kerja keras, dan konsistensi belajar yang panjang, kualitas-kualitas yang sesungguhnya sudah mulai dilatih sejak masa-masa awal pendidikan.
Perjalanan profesional Hidayah Syifail Fu'adah dimulai pada masa yang tidak mudah bagi siapa pun di dunia kesehatan: pandemi COVID-19. Pada rentang tahun 2021 hingga 2022, ia berkontribusi sebagai bagian dari tim vaksinator COVID-19, ikut serta secara langsung dalam program percepatan vaksinasi nasional serta upaya pencegahan dan pengendalian pandemi di tengah masyarakat. Pada tahun 2022, ia melanjutkan pengalaman klinisnya di RS Sisma Medika Boyolali, bertugas di ruang High Care Unit (HCU) yang menuntut pemantauan ketat, ketelitian, respons cepat, serta kemampuan menentukan prioritas di tengah kondisi pasien yang bisa berubah sewaktu-waktu. Di tahun yang sama, ia juga mengikuti pelatihan Keperawatan Intensive Care Unit (ICU) di RSUD Dr. Moewardi Surakarta, memperdalam kemampuan identifikasi dini perubahan kondisi pasien, penentuan prioritas tindakan, pemberian terapi sesuai instruksi medis, serta kolaborasi dengan dokter dan tenaga kesehatan lain dalam menangani pasien kritis. Sejak tahun 2023 hingga saat ini, Hidayah Syifail Fu'adah resmi berkarier sebagai pegawai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di RSUD Pandan Arang Boyolali, bertugas di ruang Intensive Care Unit (ICU), tempat pasien dengan kondisi kritis ditangani dengan pengawasan ketat selama 24 jam penuh.
Kombinasi karakter dan kompetensi tersebut tidak lahir dalam semalam, tapi hasil akumulasi panjang dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibangun sejak dini: kedisiplinan mengikuti jadwal, ketaatan pada aturan, kebiasaan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, hingga nilai-nilai ta'awun atau saling menolong yang lekat dalam kehidupan madrasah sehari-hari.
Kisah Hidayah Syifail Fu'adah layak menjadi cermin bagi murid-murid MTs Negeri Salatiga yang hari ini masih duduk di bangku kelas VII, VIII, atau IX. Ruang kelas yang tampak sederhana, pelajaran matematika dan sains yang kadang terasa berat, hingga rutinitas madrasah yang terlihat biasa saja, sesungguhnya sedang membentuk fondasi yang kelak menopang cita-cita besar. Jalan yang ditempuh Hidayah Syifail Fu'adah, dari SD Negeri Cebongan 2 Salatiga, ke MTs Negeri Salatiga, lanjut ke SMA Negeri 1 Salatiga jurusan MIPA, hingga Diploma IV Keperawatan dan Profesi Ners di Poltekkes Kemenkes Surakarta dengan IPK 3,99, membuktikan satu hal sederhana namun penting: pendidikan madrasah bukan jalan buntu menuju profesi tertentu, melainkan gerbang terbuka menuju hampir semua bidang, termasuk dunia kesehatan yang menuntut kecerdasan sekaligus kepekaan nurani. Bagi murid MTs Negeri Salatiga yang sedang berjuang dengan pelajaran matematika, fisika, atau biologi hari ini, kisah alumni Hidayah Syifail Fu'adah bisa menjadi pengingat bahwa setiap materi yang dipelajari, sekecil apa pun, sedang menyusun fondasi masa depan yang mungkin belum terbayangkan sekarang.
|
Tags:
ALUMNI MATANSA
