WASPADA! 6 KEBIASAAN "GILA KERJA" YANG DIAM-DIAM MERACUNI SEKOLAH DAN KADANG DIANGGAP WAJAR!
WASPADA! 6 KEBIASAAN "GILA KERJA" YANG DIAM-DIAM MERACUNI SEKOLAH DAN KADANG DIANGGAP WAJAR!
Sebuah refleksi jujur tentang budaya kerja di dunia pendidikan yang perlu diubah
Pernahkah Bapak/Ibu Guru merasa bersalah hanya karena mengambil hak cuti? Atau pernah merasa harus tetap "standby" menjawab pesan WhatsApp dari wali murid meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam? Jika jawabannya iya, maka Bapak/Ibu tidak sendirian. Fenomena tersebut terjadi di hampir seluruh institusi kerja, termasuk sekolah. Yang lebih mengkhawatirkan, kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya tidak sehat tersebut justru dianggap normal, bahkan dianggap sebagai tanda dedikasi dan profesionalisme.
Padahal, jika kita mau jujur dan mau berhenti sejenak untuk merenung, banyak dari kebiasaan tersebut bukanlah profesionalisme sejati, tapi hanyalah kebiasaan buruk yang telah dinormalisasi karena terlalu lama dibiarkan tumbuh subur di lingkungan kerja, termasuk di dunia pendidikan madrasah dan sekolah pada umumnya. Mari kita bedah satu per satu enam kebiasaan tersebut, kaitkan dengan realitas kehidupan guru dan pegawai di sekolah, serta cari solusi konkretnya.
1️⃣ Selalu Harus "Siap" 24 Jam
Jam pelajaran sudah usai, bel pulang sudah berbunyi, namun ponsel Bapak/Ibu Guru tetap "berdering" oleh notifikasi grup WhatsApp wali kelas, grup dewan guru, atau bahkan pesan pribadi dari Kepala Sekolah yang meminta laporan mendadak. Anehnya, jika tidak segera dibalas, guru tersebut bisa dicap kurang responsif atau bahkan kurang loyal terhadap sekolah.
Padahal, secara psikologis maupun profesional, seorang pendidik yang selalu "on call" 24 jam justru rentan mengalami kelelahan mental (burnout), yang pada akhirnya menurunkan kualitas mengajarnya di kelas keesokan hari. Solusinya, sekolah perlu membangun kesepakatan bersama mengenai jam komunikasi kedinasan, misalnya hanya pada pukul 07.00–15.00. Di luar jam tersebut, kecuali dalam kondisi darurat, komunikasi sebaiknya ditunda hingga hari kerja berikutnya. Kepala Sekolah dan dewan guru bisa duduk bersama merumuskan etika berkomunikasi digital tersebut dalam rapat awal semester.
2️⃣ Lembur Dianggap Bukti Loyalitas
Di banyak sekolah, guru yang pulang paling akhir sering dianggap paling rajin, sementara guru yang pulang tepat waktu justru dicurigai kurang berdedikasi. Padahal, menyelesaikan administrasi seperti Modul Ajar/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), asesmen/penilaian, atau input nilai rapor hingga larut malam bukanlah indikator kualitas kerja, melainkan seringkali menandakan manajemen waktu dan beban kerja yang tidak seimbang.
Yang seharusnya dinilai adalah hasil dan dampak pembelajaran, bukan berapa lama seseorang duduk di kursi kerja sekolah. Solusinya, pihak sekolah dapat menyediakan waktu khusus di jam kerja untuk pengerjaan administrasi guru, misalnya dengan mengalokasikan satu hari tanpa jam mengajar penuh (hari non-tatap muka) khusus untuk penyelesaian tugas administratif, sehingga guru tidak perlu membawa pekerjaan pulang hingga larut malam.
3️⃣ Takut Pulang Tepat Waktu
Fenomena ini kerap terjadi: seorang guru atau pegawai tata usaha yang sebenarnya sudah menyelesaikan seluruh tugasnya, namun enggan pulang tepat waktu karena khawatir dinilai "tidak sungguh-sungguh" oleh rekan kerja maupun Kepala Sekolah. Akhirnya, ia memilih berlama-lama di sekolah tanpa pekerjaan yang jelas, hanya demi kesan baik semata.
Padahal, pulang tepat waktu setelah menuntaskan tanggung jawab adalah bentuk kedisiplinan dan efisiensi kerja yang patut diapresiasi, bukan dicurigai. Solusinya, budaya sekolah perlu diubah dengan cara Kepala Sekolah memberi teladan langsung: pulang tepat waktu ketika tugas sudah selesai, serta secara terbuka mengapresiasi guru/pegawai yang mampu bekerja efisien, bukan sekadar yang terlihat sibuk paling lama.
4️⃣ Cuti Bikin Merasa Bersalah
Tidak sedikit guru yang menahan diri untuk tidak mengambil cuti meski sedang sakit atau memiliki keperluan keluarga mendesak, hanya karena khawatir dianggap merepotkan rekan-rekan yang harus menggantikan jam mengajarnya. Rasa bersalah tersebut seringkali muncul bukan karena aturan yang melarang, melainkan karena tekanan sosial dan budaya kerja yang keliru.
Padahal, cuti adalah hak yang dilindungi peraturan kepegawaian, bukan hadiah belas kasihan dari sekolah. Solusinya, sekolah perlu memiliki sistem guru piket pengganti (subtitute teacher) yang jelas dan terjadwal, sehingga ketika ada guru yang mengambil cuti, proses pembelajaran tetap berjalan tanpa membebani guru lain secara mendadak dan yang bersangkutan tidak perlu merasa bersalah menggunakan haknya sendiri.
5️⃣ Semua Masalah Dianggap Urusan Guru/Pegawai
Ketika nilai ujian sekolah menurun, ketika target akreditasi tidak tercapai, atau ketika ada keluhan wali murid, seringkali yang pertama disalahkan adalah guru dan pegawai di lapangan. Padahal, banyak permasalahan tersebut berakar dari sistem yang lebih besar: kurikulum yang kurang matang perencanaannya, sarana prasarana yang minim, atau kebijakan yang dibuat tanpa melibatkan masukan dari guru/pegawai itu sendiri.
Menyalahkan individu tanpa mengevaluasi sistem hanya akan menciptakan budaya saling menyalahkan (blaming culture) yang kontraproduktif. Solusinya, setiap permasalahan yang muncul di sekolah sebaiknya dievaluasi secara komprehensif melalui forum rapat evaluasi bersama, dengan pendekatan mencari akar masalah (root cause analysis), bukan sekadar mencari siapa yang salah. Dengan begitu, solusi yang dihasilkan akan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
6️⃣ Kepala Sekolah Marah Dianggap Hal Biasa
Di beberapa sekolah, kemarahan atau nada bicara tinggi dari Kepala Sekolah kepada guru maupun pegawai dianggap sebagai bagian biasa dari dinamika kerja, bahkan dianggap wajar sebagai bentuk "ketegasan pemimpin". Padahal, kepemimpinan yang sehat justru dibangun di atas rasa saling menghormati antara atasan dan bawahan, bukan intimidasi maupun tekanan emosional.
Kepala Sekolah yang bijaksana memahami bahwa menghargai guru dan pegawai bukan berarti kehilangan wibawa, justru sebaliknya, hal itu memperkuat rasa hormat yang tulus dari bawahan. Solusinya, perlu dibangun budaya komunikasi asertif di lingkungan sekolah, menyampaikan kritik dan evaluasi kinerja dengan cara yang membangun, dilakukan secara personal dan privat, bukan di depan umum, serta senantiasa berlandaskan adab dan akhlak mulia sebagaimana yang diajarkan dalam nilai-nilai keislaman yang menjunjung tinggi kelembutan dalam menegur (QS. Ali Imran: 159).
Artinya: Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
"Jika sesuatu yang tidak sehat dibiarkan terlalu lama, maka perlahan-lahan dianggap normal. Dan tanpa disadari, kita mulai lupa seperti apa sebenarnya lingkungan kerja yang benar-benar sehat tersebut."
Saatnya Sekolah Menjadi Ruang Kerja yang Sehat, Bukan Sekadar "Terlihat" Profesional
Sekolah, khususnya madrasah, adalah institusi yang seharusnya menjadi teladan akhlak dan kesejahteraan bagi seluruh warga di dalamnya, bukan hanya bagi murid, tetapi juga bagi para guru dan pegawai yang mengabdi di dalamnya. Ironisnya, justru di lingkungan yang mengajarkan nilai-nilai keadilan dan kasih sayang inilah kadang budaya kerja yang tidak sehat masih dianggap lumrah.
Perubahan budaya kerja tidak bisa terjadi dalam semalam. Namun, langkah kecil seperti menetapkan jam komunikasi kedinasan yang jelas, mengapresiasi efisiensi kerja, memberi ruang aman bagi guru untuk mengambil hak cuti, mengevaluasi sistem alih-alih menyalahkan individu, serta membangun komunikasi yang santun antara Kepala Sekolah dan guru/pegawai, akan membawa dampak besar dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, kualitas pendidikan yang unggul tidak lahir dari guru yang kelelahan secara fisik dan mental, melainkan dari guru yang bekerja dalam lingkungan yang sehat, dihargai, dan merasa aman secara psikologis. Sudah saatnya kita bersama-sama mengevaluasi kembali: apakah kebiasaan yang selama ini dianggap "biasa" di sekolah kita benar-benar sehat atau justru sekadar kebiasaan buruk yang terlalu lama dibiarkan?
Mari mulai dari diri sendiri, dari sekolah kita masing-masing, untuk membangun budaya kerja pendidikan yang lebih manusiawi dan bermartabat. 🌱


Posting Komentar untuk "WASPADA! 6 KEBIASAAN "GILA KERJA" YANG DIAM-DIAM MERACUNI SEKOLAH DAN KADANG DIANGGAP WAJAR!"
Posting Komentar