MURID TIDAK HAFAL PERKALIAN BUKAN KARENA MALAS BELAJAR — Penjelasan yang Selama Ini Terlewat oleh Guru
MURID TIDAK HAFAL PERKALIAN BUKAN KARENA MALAS BELAJAR
Berikut Penjelasan yang Selama Ini Terlewat oleh Guru
"Murid sekarang tidak hafal perkalian." Kalimat tersebut begitu sering terdengar di sekolah, di grup WhatsApp orang tua, bahkan di seminar pendidikan, sampai-sampai kita menerimanya begitu saja sebagai fakta yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Narasinya selalu sama: generasi sekarang lebih lemah dibanding generasi dulu, murid tidak pernah benar-benar belajar perkalian dan sekolah gagal menanamkan dasar aritmetika yang seharusnya sudah matang sejak Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI)/sederajat. Tetapi benarkah demikian? Tulisan berikut mengajak Anda menelusuri ulang asumsi tersebut, karena ada kemungkinan besar kita selama ini salah menempatkan letak masalahnya.
Mitos yang Terlalu Cepat Disimpulkan
Klaim bahwa murid tidak pernah belajar atau tidak pernah menghafalkan perkalian sebenarnya adalah simpulan yang diambil terlalu cepat. Jika kita menelusuri pengalaman murid dari SD/MI/sederajat sampai Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA)/sederajat, hampir mustahil ada murid yang benar-benar belum pernah diajar perkalian. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang pada masanya berhasil menghafal dan mengerjakan soal perkalian dengan cukup baik. Artinya, persoalan bukan terletak pada momen belajar pertama kali, melainkan pada apa yang terjadi setelah momen itu berlalu.
"Murid kita bukan tidak pernah belajar perkalian. Mereka hanya terlalu lama tidak diminta menggunakannya."
Storage Strength vs Retrieval Strength: Dua Hal yang Sering Dicampuradukkan
Di sinilah konsep dari psikolog kognitif Robert Bjork menjadi sangat relevan. Bjork membedakan dua kekuatan memori yang sering dianggap satu hal yang sama: storage strength dan retrieval strength. Storage strength adalah seberapa kuat sebuah informasi tersimpan dalam memori jangka panjang, sementara retrieval strength adalah seberapa mudah informasi itu dipanggil kembali pada saat dibutuhkan. Seseorang bisa saja memiliki storage strength yang tinggi atas fakta perkalian, namun retrieval strength-nya rendah karena jalur untuk mengaksesnya sudah terlalu lama tidak dilalui.
| Aspek | Storage Strength | Retrieval Strength |
|---|---|---|
| Definisi | Seberapa dalam informasi tertanam di memori jangka panjang | Seberapa mudah informasi itu dipanggil kembali saat ini |
| Apakah bisa hilang? | Cenderung permanen, sangat sulit benar-benar hilang | Bisa melemah drastis jika tidak pernah dipanggil ulang |
| Analogi pada perkalian | Murid pernah benar-benar menghafal dan memahami konsepnya | Murid kesulitan menjawab cepat karena jarang dilatih memanggilnya |
| Implikasi keliru jika diabaikan | Dianggap murid "tidak pernah tahu" sama sekali | Solusi yang ditawarkan hanya pengulangan materi dari nol |
Perbedaan tersebut bukan sekadar permainan istilah akademis. Implikasinya sangat praktis di kelas: ketika kita mengira murid "tidak pernah tahu", padahal sebenarnya mereka "tahu tapi sulit mengakses", sehingga pendekatan pembelajaran yang kita pilih pun akan keliru arah.
Apa Sebenarnya Kata Riset Retrieval Practice?
Temuan dari riset tentang retrieval practice memperkuat penjelasan tersebut. Kelancaran seseorang mengingat fakta matematika ternyata tidak banyak dipengaruhi oleh seberapa sering ia melihat atau membaca ulang tabel perkalian. Faktor yang jauh lebih menentukan adalah berapa kali ia benar-benar diminta memanggil kembali fakta tersebut dari dalam memorinya, tanpa melihat catatan atau tabel bantuan. Membaca ulang tabel perkalian terasa seperti belajar, tetapi aktivitas tersebut sebenarnya lebih banyak melatih pengenalan (recognition) ketimbang pemanggilan aktif (retrieval). Dua hal tersebut terasa mirip namun berbeda secara mendasar dalam membangun kelancaran berpikir.
Mengapa Hal Ini Penting bagi Guru Matematika?
Banyak guru, ketika menemukan murid lambat menjawab 7 × 8, refleksnya adalah mengulang penjelasan konsep perkalian dari awal. Padahal jika akar masalahnya adalah retrieval strength yang lemah, mengulang penjelasan konsep tidak banyak membantu. Yang dibutuhkan murid bukan penjelasan ulang, melainkan kesempatan berulang untuk memanggil fakta itu sendiri secara aktif.
Mengapa Fakta Perkalian Begitu Mudah Terlupakan?
Mekanismenya cukup sederhana untuk dipahami: semakin sering sebuah fakta dipanggil kembali dari memori, semakin kuat dan semakin cepat fakta tersebut bisa diakses di kemudian hari. Sebaliknya, ketika sebuah fakta jarang atau bahkan tidak pernah dipanggil, jalur aksesnya melemah secara perlahan, meskipun fakta itu sendiri tidak benar-benar hilang dari penyimpanan memori. Inilah sebabnya seorang murid yang dulu lancar mengerjakan perkalian bisa terlihat "lupa total" beberapa tahun kemudian, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah retrieval strength-nya yang menurun drastis karena tidak pernah dilatih ulang.
Mengapa Perkalian Jadi Jarang Dipakai dalam Keseharian Murid?
Pertanyaan berikutnya yang perlu kita jawab adalah: mengapa fakta perkalian menjadi jarang dipanggil dalam kehidupan sehari-hari murid? Jawabannya berkaitan erat dengan kemudahan teknologi. Di era sekarang, hampir semua perhitungan diserahkan kepada mesin. Mulai dari komputer kasir di minimarket, kalkulator pedagang di pasar tradisional, sampai kalkulator yang selalu tersedia di smartphone pribadi yang tidak pernah lepas dari genggaman. Tanpa disadari, murid kehilangan kesempatan alami untuk "bermatematika" dalam keseharian mereka, karena setiap kali ada kebutuhan berhitung, solusi instan selalu lebih dulu hadir sebelum otak diberi kesempatan memproses sendiri.
Ironisnya, semakin canggih alat bantu hitung yang tersedia, semakin sedikit pula kesempatan retrieval practice yang dialami murid secara alami di luar kelas. Beban untuk menyediakan kesempatan tersebut kini bertumpu lebih besar pada desain pembelajaran di sekolah.
Ketika Diagnosis Salah, Solusi pun Ikut Salah Arah
Inilah inti permasalahan yang paling penting untuk disadari oleh setiap guru matematika. Jika kita mendiagnosis bahwa murid "tidak pernah belajar", maka solusi yang paling masuk akal di kepala kita adalah mengulang materi yang sama dari awal, seolah-olah murid memulai dari nol. Padahal, jika akar masalah sebenarnya adalah kurangnya kesempatan untuk memanggil kembali pengetahuan yang sudah ada, maka pengulangan materi dari nol justru menjadi pendekatan yang kurang tepat sasaran dan menghabiskan waktu pembelajaran yang berharga.
Implikasi Praktis untuk Pembelajaran di Kelas
- Ganti pengulangan pasif dengan pemanggilan aktif. Daripada meminta murid membaca ulang tabel perkalian, beri mereka kesempatan singkat dan rutin untuk menjawab tanpa melihat catatan, sekecil apa pun porsinya.
- Sebar latihan, jangan ditumpuk di satu waktu. Latihan pemanggilan fakta perkalian yang dilakukan sedikit demi sedikit secara rutin lebih bermakna daripada satu sesi panjang yang hanya dilakukan sesekali.
- Selipkan perkalian dalam konteks soal, bukan hanya soal hafalan murni. Saat murid menggunakan perkalian untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar, mereka dipaksa memanggil fakta tersebut secara fungsional, bukan sekadar mekanis.
- Jangan langsung simpulkan murid "tidak tahu" saat mereka lambat menjawab. Lambat menjawab bisa jadi tanda retrieval strength yang lemah, bukan storage strength yang kosong. Diagnosis yang tepat akan menentukan jenis bantuan yang tepat pula.
Pertanyaan Terakhir yang Perlu Kita Ajukan
Sebelum kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa murid generasi sekarang tidak pernah belajar atau tidak pernah menghafalkan perkalian, ada satu pertanyaan reflektif yang perlu lebih dulu kita jawab dengan jujur sebagai pendidik: apakah mereka benar-benar tidak pernah tahu ataukah mereka sebenarnya pernah tahu, namun terlalu lama tidak diberi kesempatan untuk menggunakannya kembali?
Refleksi untuk Guru Matematika
Mitos bahwa murid tidak pernah belajar perkalian terasa nyaman karena meletakkan masalah sepenuhnya pada murid atau pada generasi sebelumnya. Namun penjelasan yang lebih jujur justru menuntut kita untuk melihat ke dalam: sudahkah desain pembelajaran kita memberi cukup ruang bagi murid untuk memanggil kembali pengetahuan yang sudah mereka miliki, bukan sekadar menjejalkan pengetahuan baru berulang kali?
Retrieval Practice Storage vs Retrieval Pembelajaran Matematika Mitos Pendidikan

Posting Komentar untuk "MURID TIDAK HAFAL PERKALIAN BUKAN KARENA MALAS BELAJAR — Penjelasan yang Selama Ini Terlewat oleh Guru"
Posting Komentar