SETIAP KAYUHAN ADALAH LISTRIK! PEDALECTRA, KARYA DUA MURID MTs NEGERI SALATIGA, MENGGEBRAK KREASI 2026, MERAIH MEDALI EMAS DAN BEST PRESENTER

Setiap kayuhan adalah listrik. Kalimat tersebut bukan slogan kosong, melainkan inti dari PEDALECTRA, sepeda statis yang tidak beranjak dari tempatnya, tetapi setiap putaran pedalnya mampu menyalakan perangkat elektronik. Karya dua murid kelas VIII C Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Salatiga, ALYA AFIFA NAURA dan ANNISA ILMI AZMI AZZAHRA, ini menggebrak panggung Kompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI) 2026 di Yogyakarta, 17–19 Oktober 2026, dan membawa pulang MEDALI EMAS sekaligus predikat BEST PRESENTER pada subbidang Matematika, Fisika Terapan, dan Teknologi Rekayasa.

Artikel berikut tidak sekadar mengabarkan kemenangan. Tulisan ini mengurai mengapa PEDALECTRA dibuat, bagaimana alat tersebut bekerja, bagaimana interpretasi data yang dihasilkan, dan apa yang dapat dipelajari guru maupun murid dari alat itu.

446
tim terdaftar
235
tim lolos final
40
kabupaten/kota
14
provinsi

Data-data tersebut berdasarkan keterangan salah satu guru pembimbing, LILIS ERFIANTI, M.Pd. Dari 446 tim yang mendaftar, 235 tim melaju ke babak final sebagai perwakilan 40 kabupaten/kota di 14 provinsi Indonesia. Di tengah persaingan seketat itu, PEDALECTRA tampil menggebrak: karya ini meraih Medali Emas dan Best Presenter pada subbidang Matematika, Fisika Terapan, dan Teknologi Rekayasa. Predikat Best Presenter menandakan bahwa kedua murid tidak hanya unggul dalam merancang alat, tetapi juga dalam menjelaskan gagasannya di hadapan juri.

Alya dan Annisa memegang medali emas dan piala Best Presenter KREASI 2026
Alya Afifa Naura dan Annisa Ilmi Azmi Azzahra memperlihatkan medali emas dan piala Best Presenter di KREASI 2026, Yogyakarta.

Ringkasan Prestasi

KeteranganRincian
AjangKompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI) 2026, Yogyakarta, 17–19 Oktober 2026
PenyelenggaraABAK Academy, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada, Taiwan Center, dan Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
KaryaPEDALECTRA: Sepeda Pintar Penghasil Energi Terbarukan sebagai Solusi Gerak Sehat dan Bugar bagi Murid
SubbidangMatematika, Fisika Terapan, dan Teknologi Rekayasa
Peraih PrestasiMedali Emas dan Best Presenter: Alya Afifa Naura (VIII C) dan Annisa Ilmi Azmi Azzahra (VIII C)
PembimbingLilis Erfianti, M.Pd. dan Fajar Ardiansah, S.Pd.

Dua Persoalan, Satu Alat

Gagasan PEDALECTRA lahir dari dua keresahan yang tampak berjauhan, tetapi ternyata dapat dipertemukan. Persoalan pertama adalah ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil yang jumlahnya kian terbatas dan menimbulkan polusi udara serta emisi gas rumah kaca. Indonesia sebenarnya berpotensi besar mengembangkan energi alternatif, tetapi pemanfaatannya masih rendah dan pemahaman generasi muda tentang energi terbarukan belum memadai.

Persoalan kedua menyangkut tubuh para murid itu sendiri. Di sinilah slogan “setiap kayuhan adalah listrik” menemukan maknanya. Pembelajaran dalam jaringan (daring) dan penggunaan gawai yang berlebihan membuat murid lebih banyak duduk. Aktivitas fisik yang rendah dikaitkan dengan menurunnya kebugaran dan meningkatnya risiko obesitas dini. Alya merumuskannya dengan kalimat yang mudah diingat: setiap kayuhan bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menghasilkan listrik.

Membaca Data Aktivitas Fisik 86 Murid Kelas VII

Sebelum merakit alat, tim melakukan observasi terhadap 86 murid kelas VII melalui angket aktivitas fisik. Hasilnya dikelompokkan ke dalam empat kategori sebagaimana tampak pada tabel dan diagram berikut.

KategoriJumlah (n)PersentaseMakna
Rendah1922,09%Perlu peningkatan kebiasaan bergerak
Sedang2326,74%Sudah aktif, tetapi belum konsisten
Tinggi2832,55%Kebiasaan aktivitas fisik baik
Sangat Tinggi1618,60%Kebiasaan aktivitas fisik sangat baik
Total86100%
Rendah
19 murid (22,09%)
Sedang
23 murid (26,74%)
Tinggi
28 murid (32,55%)
Sangat Tinggi
16 murid (18,6%)

Jika kategori rendah dan sedang digabungkan, maka jumlahnya 42 murid dari 86, yaitu sekitar 48,8%. Data tersebut menjadi dasar kuat bagi urgensi penelitian. Di sisi lain, 44 murid (sekitar 51,2%) berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi, sehingga gambaran yang jujur adalah: aktivitas fisik murid cukup baik tetapi belum merata.

Usia 13 Tahun: Kelompok yang Paling Perlu Perhatian

Tabel berikut memecah data berdasarkan usia.

UsiaRendahSedangTinggiSangat TinggiTotal% Rendah% Tinggi + Sangat Tinggi
12 tahun14501010,0%50,0%
13 tahun139873735,1%40,5%
14 tahun28158336,1%69,7%
15 tahun2201540,0%20,0%
>15 tahun10001100%0%

Dari 19 murid berkategori rendah, 13 murid (sekitar 68,4%) berusia 13 tahun. Itulah sebabnya kelompok usia ini disebut paling rentan. Sebaliknya, murid usia 14 tahun tampil paling aktif: hampir 70% berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi. Partisipasi gerak “menyusut drastis” pada usia 15 tahun ke atas. Pembaca yang cermat tentu menyadari bahwa kelompok tersebut hanya terdiri atas 5 dan 1 murid, sehingga persentasenya sangat peka terhadap perubahan satu orang saja. Pelajaran statistikanya jelas: besarnya sampel menentukan kekuatan sebuah kesimpulan. Tim sendiri mengusulkan observasi pada murid yang lebih banyak dan lebih beragam.

Stan pameran PEDALECTRA di KREASI 2026
Suasana stan pameran PEDALECTRA di KREASI 2026, lengkap dengan buku tamu, tablet yang menampilkan aplikasi, dan brosur.

Langkah demi Langkah: Dari Kayuhan hingga Listrik 220 Volt

Cara kerja PEDALECTRA dapat dipahami sebagai rangkaian perubahan bentuk energi. Berikut urutannya.

1Murid mengayuh pedal. Energi kimia dalam tubuh berubah menjadi energi gerak (kinetik). Sepeda statis memiliki resistensi sehingga tenaga manusia dapat dipanen.
2Putaran diteruskan ke generator. Generator atau dinamo dipasang pada roda belakang atau flywheel dan dihubungkan dengan sabuk atau rantai.
3Generator AC menghasilkan arus bolak-balik. Energi gerak berubah menjadi energi listrik.
4Rangkaian dioda menyearahkan arus. Arus bolak-balik (Alternating Current/AC) diubah menjadi arus searah (Direct Current/DC).
5Controller menstabilkan tegangan. Alat ini menjaga tegangan tetap stabil dan mencegah pengisian berlebih.
6Aki menyimpan energi. Listrik DC disimpan sehingga dapat digunakan kemudian.
7Inverter mengubah DC menjadi AC 220 V. Daya tersimpan dapat dipakai untuk perangkat elektronik, termasuk sensor pada sistem.
Mengapa Ada Dioda dan Controller?
Generator menghasilkan arus bolak-balik, sedangkan aki hanya dapat diisi dengan arus searah. Dioda berperan sebagai penyearah, sementara controller melindungi aki dari tegangan yang tidak stabil. Tanpa kedua komponen tersebut, aki berisiko rusak.

DALECHECK: Ketika Sepeda Bisa “Berbicara”

Keunggulan PEDALECTRA tidak berhenti pada pembangkitan listrik. Sistem ini dilengkapi mikrokontroler dan rangkaian sensor yang mengukur suhu tubuh dan mendeteksi denyut jantung secara real-time melalui area genggaman. Data dikirim secara nirkabel ke aplikasi Android bernama DALECHECK.

Fitur DALECHECKFungsi
Pemantauan tanda vitalMenampilkan suhu tubuh dan denyut jantung secara langsung
Kalkulasi Body Mass Index (BMI)Mengolah data sensor dengan profil fisik pengguna
Estimasi kaloriMemperkirakan kalori harian yang terbakar dan memuat target kalori
Peringatan diniMenyarankan pengguna beristirahat jika detak jantung dan suhu melampaui batas aman sesuai usia
Menu EdukasiPanduan pemanasan, aktivitas fisik terstruktur, dan gizi untuk menekan risiko cedera

Aplikasi juga memantau tekanan darah. Data tekanan darah berasal dari rekapitulasi kesehatan 20 murid.

Hasil Uji pada 20 Murid

ParameterHasil
Jumlah partisipan20 orang (12 perempuan, 8 laki-laki)
Tinggi badan152 cm hingga 175 cm
Berat badan44 kg hingga 68,5 kg
Denyut nadi istirahat69 hingga 82 beats per minute (bpm), rata-rata 75 bpm (tergolong normal untuk usia remaja)
Tekanan darah15 murid normal; 5 murid laki-laki pada zona prehipertensi

Menariknya, kelima murid yang berada pada zona prehipertensi juga merupakan murid dengan tinggi dan berat badan terbesar dalam sampel. Laporan mengaitkannya dengan temuan bahwa tekanan darah cenderung meningkat seiring kenaikan BMI. Prosedur implementasi yang digunakan sederhana namun runtut: mengukur denyut nadi awal, murid mengayuh selama 10–15 menit, mengukur tegangan listrik dan denyut nadi akhir, kemudian mengisi angket respons.

PEDALECTRA dipamerkan di KREASI 2026
PEDALECTRA dipamerkan di arena KREASI 2026. Panel di bagian depan sepeda menampilkan data-data hasil pengukuran.

Celah yang Diisi: Mengapa Karya Ini Layak Disebut Baru

Karya ilmiah yang baik selalu menunjukkan posisinya terhadap penelitian terdahulu. PEDALECTRA memetakan tiga rujukan utama berikut.

PenelitianFokusKeterbatasan
Sabarudin & Hasyim (2020)Sepeda statis dengan Permanent Magnet Generator, dioda bridge, buck converter, aki 12 Volt 5 Ampere-hourPemantauan kebugaran masih memakai alat ukur manual eksternal
Rizanty (2024)Kontrol torsi beban kayuh; arus maksimum 3,2 A; baterai 24 VDC ke 220 VAC via inverter; tampilan LCDPemantauan kebugaran terbatas pada alat ukur manual eksternal
Sari (2024)Monitoring sepeda statis berbasis Internet of Things (IoT) dengan ESP8266 (detak jantung, suhu tubuh, kondisi udara)Tidak memanfaatkan energi kayuhan sebagai sumber daya

Kebaruan PEDALECTRA terletak pada penggabungan kedua dunia tersebut: sistem yang menghasilkan listrik sendiri (self-sustaining) sekaligus memantau kondisi fisik pengguna secara interaktif.

Jejak Kerja: Dari Rumah dan Bengkel hingga Laboratorium

TahapKegiatanBulan
1Identifikasi masalah dan studi literaturMei
2Perancangan desain PEDALECTRAMei
3–4Pengadaan alat dan bahan serta perakitanJuni
5–6Uji fungsi, penyempurnaan, dan uji coba pada muridJuli
7Pengumpulan dan analisis dataAgustus
8Penyusunan laporan penelitianSeptember

Jadwal mencakup bulan Mei hingga September. Guru pembimbing menyebut keseluruhan proses, termasuk pendampingan daring dari penyelenggara, berlangsung selama tujuh bulan sebelum karya lolos ke final. Perakitan memanfaatkan bahan yang relatif sederhana, di antaranya sepeda bekas layak pakai, dinamo atau motor DC bekas 12V, aki kecil, inverter DC-AC, dan controller DC.

Untuk Guru: Menjadikan PEDALECTRA Bahan Ajar

Karya ini kaya akan konteks pembelajaran lintas mata pelajaran. Berikut beberapa gagasan penerapan.

Mata pelajaranTopik yang dapat dikaitkan
MatematikaPersentase, tabel dan diagram batang, rata-rata, rentang data, serta ukuran sampel
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)Perubahan bentuk energi, generator, arus AC dan DC, rangkaian listrik
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK)Denyut nadi, kebugaran jasmani, pemanasan dan pendinginan
InformatikaSensor, mikrokontroler, dan aplikasi pemantau

Catatan Kritis dan Arah Pengembangan

Apresiasi yang tulus justru lahir dari pembacaan yang jujur. Ada dua hal yang dapat memperkuat PEDALECTRA pada pengembangan berikutnya. Pertama, secara rinci data aktivitas fisik dan tanda vital sudah disajikan, tetapi belum memuat hasil pengukuran listrik yang dibangkitkan, misalnya tegangan, arus, atau daya dalam watt untuk durasi kayuhan tertentu. Skala daya generator sepeda tergolong mikro, yaitu beberapa watt hingga belasan watt. Data ini akan membantu untuk menilai seberapa besar manfaat listriknya. Kedua, kesimpulan bahwa sistem “efektif” dalam memotivasi murid dan meningkatkan literasi energi terbarukan akan lebih meyakinkan bila didukung data pra dan pasca, misalnya hasil angket respons yang dianalisis secara terbuka. Dua catatan tersebut bukan mengurangi capaian, melainkan menunjukkan jalan menuju karya yang lebih matang.

Ucapan Terima Kasih yang Menyentuh

Seusai menerima penghargaan pada Senin, 19 Oktober 2026, Annisa menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada guru pembimbing, Bu Lilis dan Pak Fajar, serta Kepala Madrasah, Pak Faisal. Ucapan tersebut mengingatkan kita bahwa prestasi murid hampir selalu merupakan kerja bersama: murid yang gigih, guru yang membimbing dan mendampingi, dan madrasah yang memberi ruang bagi gagasan untuk tumbuh.

Penutup

Setiap kayuhan adalah listrik dan setiap langkah penelitian adalah bukti bahwa kerja keras membuahkan hasil. PEDALECTRA membuktikan bahwa murid madrasah mampu menjawab persoalan nyata dengan cara ilmiah: mengamati, mengukur, merancang, menguji, lalu mempresentasikan. Lebih dari sekadar sepeda, PEDALECTRA adalah pesan bahwa kebugaran dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Selamat atas Medali Emas dan Best Presenter KREASI 2026 kepada Alya Afifa Naura, Annisa Ilmi Azmi Azzahra, Ibu Lilis Erfianti, M.Pd., Bapak Fajar Ardiansah, S.Pd., dan seluruh keluarga besar MTs Negeri Salatiga.

Bagikan Kabar Baik Ini
Jika artikel ini bermanfaat, silakan bagikan kepada rekan guru, orang tua, dan murid agar semakin banyak yang terinspirasi untuk meneliti dan berinovasi.

Posting Komentar untuk "SETIAP KAYUHAN ADALAH LISTRIK! PEDALECTRA, KARYA DUA MURID MTs NEGERI SALATIGA, MENGGEBRAK KREASI 2026, MERAIH MEDALI EMAS DAN BEST PRESENTER"