Dra. SITI ASDIQOH, M.Si.: ALUMNI MTs NEGERI SALATIGA (LULUS 1984), LEKTOR KEPALA, WAKIL DEKAN, DAN PEMBIMBING CALON GURU HINGGA MALAYSIA, SINGAPURA, DAN THAILAND
Bayangkan seorang remaja yang pernah duduk di bangku kelas sebuah madrasah di Kota Salatiga pada pertengahan 1980-an. Empat dekade kemudian, namanya tercatat sebagai Lektor Kepala berpangkat Pembina Utama Muda (IV/c), pernah memimpin program studi (prodi), menjabat Wakil Dekan di sebuah universitas Islam negeri, menulis buku, meneliti puluhan topik pendidikan, hingga membimbing calon guru yang praktik mengajar di Malaysia dan Thailand serta meneliti di Malaysia dan Singapura. Itulah garis besar perjalanan Dra. SITI ASDIQOH, M.Si., alumni MTs Negeri Salatiga yang lulus pada tahun 1984.
Kualitas seorang lulusan tidak diukur dari seberapa besar sekolahnya, melainkan dari seberapa konsisten ia berjalan setelah lulus.
Identitas: Siapa Beliau?
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Dra. Siti Asdiqoh, M.Si. |
| Pendidikan menengah pertama | MTs Negeri Salatiga, lulus 1984 |
| Pekerjaan | Dosen |
| Pangkat, jabatan | Pembina Utama Muda (IV/c), Lektor Kepala |
| Posisi terbaru | Ketua Pusat Konsultasi dan Konseling Tazkia UIN Salatiga, 2024–2028 |
| Bidang yang menonjol | Pendidikan Agama Islam, pendidikan karakter, bimbingan dan konseling Islami, etika profesi guru |
Sekilas: Jejak yang Bisa Dihitung
Dari Madrasah di Salatiga ke Mimbar Kampus
Ada satu fakta menarik yang bisa dibaca dari jejaknya. Salah satu karya penelitian beliau berjudul Analisis Kinerja Guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri Salatiga. Artinya, madrasah tingkat tsanawiyah yang sama dengan jenjang almamaternya pernah menjadi objek telaah akademik beliau.
Arah kariernya sendiri sangat konsisten. Seluruh jabatan bergerak di sekitar satu poros besar: mendidik calon pendidik. Beliau memulai rangkaian jabatan struktural sebagai Sekretaris Program Studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, sekarang Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, pada tahun 2007 hingga 2010, kemudian naik menjadi Ketua Program Studi Pendidikan Agama islam (PAI) pada tahun 2010 hingga 2014. Setelah itu, beliau memimpin Lembaga Bimbingan dan Konseling Tazkia sebagai direktur pada tahun 2014 hingga 2018, merangkap Ketua Jurusan Pendidikan Guru Raudhatul Atfal pada tahun 2016 hingga 2019, lalu kembali dipercaya sebagai Ketua Program Studi PAI pada tahun 2019 hingga 2023.
Puncaknya, pada tahun 2022 hingga 2024, beliau menjabat Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja sama di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga. Ada ironi manis di sini: seorang alumni madrasah kemudian dipercaya mengurus urusan alumni, mahasiswa, dan kerja sama di tingkat fakultas. Bila dijumlahkan, posisi beliau di lingkaran pimpinan program studi PAI (sekretaris dan dua periode ketua) mencakup sekitar sebelas tahun, yaitu 2007–2014 dan 2019–2023. Itu bukan prestasi sesaat, melainkan bukti kepercayaan institusi yang berulang.
Peta Waktu Jabatan (2007–2029)
Diagram berikut memetakan seluruh jabatan dan keanggotaan berdasarkan tahun mulai dan berakhirnya. Perhatikan betapa banyak peran yang berjalan tumpang tindih; hal ini menunjukkan kemampuan membagi fokus dalam waktu yang sama. Untuk peran yang tertulis "sekarang", batas diagram dipotong pada tahun 2026.
Dari diagram tersebut, terdapat satu benang merah yang jelas: kiprah beliau di Pusat Konsultasi dan Konseling Tazkia. Beliau menjadi konselor sejak tahun 2008, memimpin lembaga bimbingan dan konseling sebagai direktur pada 2014–2018, lalu kembali menjadi ketua pusat tersebut untuk periode 2024–2028. Konsistensi lebih dari delapan belas tahun pada satu bidang pelayanan adalah sinyal komitmen yang luar biasa.
Produktivitas Ilmiah: Buku, Penelitian, dan Artikel
Empat buku: Implementasi Pendidikan Karakter pada Siswa MAN 1 Boyolali, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Etika Profesi Keguruan, dan Bimbingan dan Konseling Islami. Salah satu buku tersebut, Etika Profesi Keguruan terbit di Yogyakarta oleh Trust Media Publishing pada tahun 2013. Judul-judul buku itu sendiri sudah memperlihatkan peta keahlian beliau: cara mengajar, etika menjadi guru, pendidikan karakter, dan layanan konseling.
Diagram tersebut membuat satu hal terlihat jelas. Dibandingkan banyak jabatan, bobot terbesar justru ada pada kerja penelitian dan penulisan. Dengan kata lain, beliau bukan hanya pejabat kampus; beliau terus berproduksi sebagai akademisi. Penelitian juga tidak berhenti di ruang kuliah. Kolaborasi dengan banyak rekan penulis, termasuk mahasiswa, tampak pada judul-judul yang mencantumkan "dkk" atau nama mitra, dan itu memberi petunjuk bahwa beliau terbiasa bekerja dalam tim.
Membedah Tema: Apa yang Sebenarnya Beliau Teliti?
Tabel berikut merangkum contoh karya, dikelompokkan menurut tema.
| Tema | Contoh judul | Catatan analisis |
|---|---|---|
| Guru dan kinerja mengajar | Analisis Kinerja Guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri Salatiga; Persepsi Guru Pamong terhadap Kemampuan Mengajar Mahasiswa Peserta Praktek; Motivasi Kinerja Guru | Sorotan pada kualitas guru, dari calon guru sampai guru yang sudah mengajar |
| Karakter dan moral siswa | Implementasi Pendidikan Karakter pada Siswa MAN 1 Boyolali; Moralitas Siswa dan Guru PAI di Sekolah Menengah Kota Salatiga | Tema paling sering muncul dan menjadi judul buku beliau |
| Keluarga dan pengasuhan | Pola Kepemimpinan Orang Tua dalam Mendidik Anak sebelum Akil Baligh; Peran Orang Tua dalam Pemahaman Etika Sosial Anak | Pendidikan dipandang berawal dari rumah |
| Lingkungan hidup | Etika Islam terhadap Lingkungan Hidup; Implementasi Pendidikan Ekoteologi dalam Kurikulum Berbasis Cinta di MTs N 9 Boyolali | Menghubungkan nilai agama dengan kepedulian terhadap alam |
| Isu remaja dan pesantren | Pendidikan Hukum untuk Pencegahan Perundungan di Pondok Pesantren; Implementasi Pendidikan Seks pada Santri | Menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik |
| Pendidikan inklusif | Implementasi Pendidikan Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus di MAN 2 Klaten | Perhatian pada anak dengan kebutuhan beragam |
| Moderasi dan media belajar | Contemporary Issues of Religious Moderation (Case Study in Salatiga City); Media Pembelajaran PAI Berbasis YouTube di Tengah Gelombang Radikalisme | Respons terhadap tantangan zaman digital |
| Kesehatan jiwa dan konseling | Layanan Psikoterapi Islam bagi Jamaah Buruh Pabrik; Pelatihan Komunikasi Interpersonal bagi Dosen Pembimbing Akademik | Ranah konseling menjadi benang merah |
Ada pola yang patut dicatat. Pertama, hampir seluruh tema menyentuh persoalan nyata yang dihadapi sekolah, madrasah, keluarga, dan masyarakat, bukan hanya teori. Kedua, objek penelitian berasal dari berbagai jenjang dan jenis lembaga: madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), pesantren, raudhatul atfal, hingga sekolah Indonesia di Kuala Lumpur. Ketiga, ada kecenderungan responsif terhadap isu terkini seperti media digital, radikalisme, perundungan, dan kurikulum berbasis cinta. Hal ini sejalan dengan daftar topik yang beliau bawakan sebagai pemateri.
Malaysia, Singapura, dan Thailand: Pengalaman Luar Negeri
Bagian paling menggugah bagi murid madrasah barangkali ada pada pengalaman luar negeri. Beliau menjadi Dosen Pembimbing Lapangan bagi mahasiswa yang praktik mengajar di Kuala Lumpur, Kinabalu, Johor, dan Bangkok, serta melaksanakan penelitian di Malaysia dan Singapura. Tiga kota pertama berada di Malaysia, sedangkan Bangkok berada di Thailand; dengan Singapura, jangkauan kiprah beliau mencakup tiga negara: Malaysia, Singapura, dan Thailand. Penelitian tentang model pembelajaran pada Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur juga tercantum dalam daftar karya. Artinya, pengalaman internasional tersebut bukan sekadar kunjungan; ada pekerjaan akademik yang menyertainya.
Materi yang Beliau Bawakan
Selain di ruang kelas dan ruang rapat, beliau dikenal lewat kiprah sebagai pemateri. Sebelas topik yang jangkauannya luas: dari persoalan keluarga hingga persoalan remaja, dari strategi mengajar hingga ketahanan mental. Daftar ini menarik karena menunjukkan bahwa ilmu beliau dipakai langsung oleh masyarakat, mulai dari remaja sampai lanjut usia (lansia).
Garis Waktu
Lima Pelajaran untuk Murid MTs Negeri Salatiga
1. Jalan panjang mengalahkan jalan pintas. Dari 2007 sampai 2026, kita melihat jabatan demi jabatan yang dijalani berurutan, mulai dari sekretaris, ketua prodi, direktur, sampai wakil dekan. Tidak ada lompatan instan; yang ada adalah akumulasi kepercayaan.
2. Spesialisasi yang jelas. Karakter, konseling, dan pendidikan guru muncul berulang dalam buku, penelitian dan jabatan. Murid yang menemukan fokus sejak dini cenderung lebih mudah membangun reputasi.
3. Ilmu harus kembali kepada masyarakat. Sebelas topik sebagai pemateri, dari parenting sampai lanjut usia (lansia), menunjukkan bahwa pengetahuan tidak berhenti di kampus.
4. Dunia yang lebih luas terbuka bagi yang siap. Pembimbingan calon guru di empat kota (di Malaysia dan Thailand) serta penelitian di Malaysia dan Singapura menjadi bukti bahwa lulusan beliau mampu bekerja di tingkat internasional.
5. Berkolaborasi itu kekuatan. Banyak karyanya ditulis bersama rekan dan mahasiswa. Belajar bekerja dalam tim sejak dini adalah bekal yang nyata.
Dari bangku madrasah di Salatiga, jalan menuju ruang rapat universitas, panggung seminar, hingga sekolah di negeri jiran ternyata dapat ditempuh dengan satu bekal: konsistensi.
Penutup
Profil Dra. Siti Asdiqoh, M.Si. memperlihatkan bahwa madrasah bukan titik berhenti, melainkan titik berangkat. Dari lulus MTs Negeri Salatiga pada tahun 1984 hingga memimpin pusat konsultasi dan konseling di universitas, perjalanan tersebut ditopang oleh kerja panjang yang rapi dan terdokumentasi. Bagi murid MTs Negeri Salatiga saat ini, kisah beliau semestinya menjadi pengingat bahwa batas masa depan bukan ditentukan oleh ukuran sekolah atau tahun kelulusan, melainkan oleh kesungguhan melangkah.
Semoga kisah-kisah alumni terus menyalakan semangat generasi berikutnya.

Posting Komentar untuk "Dra. SITI ASDIQOH, M.Si.: ALUMNI MTs NEGERI SALATIGA (LULUS 1984), LEKTOR KEPALA, WAKIL DEKAN, DAN PEMBIMBING CALON GURU HINGGA MALAYSIA, SINGAPURA, DAN THAILAND"
Posting Komentar