KENAPA ORANG YANG DULU PALING VOKAL MENGKRITIK, JUSTRU JADI YANG PALING DIBENCI SAAT DUDUK DI KURSI KEKUASAAN?

KENAPA ORANG YANG DULU PALING VOKAL MENGKRITIK, JUSTRU JADI YANG PALING DIBENCI SAAT DUDUK DI KURSI KEKUASAAN?

Sebuah refleksi tentang integritas dan amanah di sekolah.

Ada satu pola yang hampir selalu berulang, di organisasi mana pun, termasuk di lingkungan sekolah. Polanya sederhana: seseorang yang dulu paling lantang bersuara, paling berani mengkritik kebijakan yang dianggap tidak sehat, justru menjadi sosok yang paling ditakuti ketika ia sendiri naik jabatan. Diskusi yang dulu ia perjuangkan agar terbuka, kini ia hindari. Masukan yang dulu ia bela mati-matian, kini ia anggap gangguan. Dan yang paling ironis, ia mulai melakukan hal-hal yang dulu paling keras ia kritik.

Pertanyaannya bukan sekadar "kenapa ia berubah?" Pertanyaan yang lebih dalam dan lebih jujur adalah: apakah jabatan benar-benar mengubah karakter seseorang atau jabatan hanya membuka apa yang sebenarnya sudah lama tersembunyi di dalam dirinya?

Saat Menjadi Guru Biasa, Kritik Itu Gratis dan Tanpa Beban

Mari kita jujur pada diri sendiri. Ketika kita masih menjadi guru biasa, wali kelas, atau tim tanpa jabatan yang lebih tinggi, mengkritik kebijakan itu murah. Kita tidak perlu menanggung akibat dari keputusan yang kita kritik. Kita hanya perlu bersuara, lalu pulang dengan hati lega karena merasa sudah "berjuang untuk perubahan."

Tetapi begitu jabatan yang lebih tinggi datang, entah sebagai wakil kepala sekolah, koordinator ini koordinator itu, kepala ini kepala itu, atau bahkan sekadar ketua panitia kegiatan tahunan, semua berubah. Setiap keputusan sekarang menuntut pertanggungjawaban. Setiap kebijakan yang dulu terasa mudah untuk dikritik, ternyata memiliki alasan, tekanan, dan keterbatasan yang dulu tidak pernah terlihat dari kursi penonton.

Di titik inilah idealisme benar-benar diuji. Bukan di ruang rapat guru yang ramai suara kritik, melainkan di ruang sunyi ketika diri sendiri harus mengambil keputusan yang membuat orang lain kecewa dan kita harus menanggung sendiri konsekuensinya.

Integritas Sejati Tidak Terlihat Sebelum Punya Kuasa, Tapi Setelahnya

Ada satu kalimat yang layak direnungkan panjang oleh siapa pun yang bekerja di dunia pendidikan, termasuk para guru dan tenaga kependidikan: pertanyaan yang paling penting bukanlah "apakah saya pantas mendapatkan jabatan?", melainkan "jika suatu hari saya mendapat jabatan, apakah saya masih akan menjadi orang yang hari ini saya banggakan?"

Sebab integritas yang sesungguhnya bukan terlihat sebelum seseorang memiliki kuasa, tetapi justru terlihat jelas setelah ia memilikinya. Ketika seorang guru diberi amanah menjadi wakil kepala sekolah misalnya, barulah terlihat apakah ia tetap memegang nilai keadilan yang sama ataukah nilai itu luntur begitu ia memiliki wewenang untuk menentukan siapa yang mendapat jam mengajar favorit, siapa yang diikutkan pelatihan, atau siapa yang mendapat penilaian kinerja lebih baik.

Perspektif Al-Qur'an: Jabatan Adalah Amanah, Bukan Hadiah

Islam sudah jauh lebih dulu mengingatkan persoalan tersebut, jauh sebelum teori kepemimpinan modern lahir. Allah Swt berfirman dalam QS An-Nisa' ayat 58, yang artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'anil Azhim menjelaskan bahwa ayat tersebut bermakna umum, mencakup seluruh amanah yang menjadi tanggung jawab manusia, baik yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak sesama manusia, termasuk menjalankan tugas dan jabatan dengan benar. Artinya, jabatan di sekolah, seperti amanah menjadi kepala, wakil kepala, wali kelas dan/atau pembina ekstrakurikuler, sejatinya adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hadiah untuk dinikmati sesuka hati.

Rasulullah Muhammad Saw bahkan menegaskan dalam sebuah hadis riwayat An-Nasa'i yang artinya: "Sungguh Allah akan menanyakan setiap pemimpin, tentang apa yang dipercayakan kepadanya, apakah ia memeliharanya atau justru menyia-nyiakannya." Peringatan tersebut seharusnya cukup untuk membuat siapa pun yang diberi jabatan di lingkungan sekolah, berpikir dua kali sebelum menyalahgunakannya, sekecil apa pun bentuk penyalahgunaan tersebut.

Data yang Menampar: Skor Integritas Indonesia Masih Rendah

Fenomena lunturnya integritas setelah memiliki kuasa ini bukan sekadar cerita fiksi atau bahan renungan semata. Laporan Transparency International tahun 2025 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100, dengan peringkat ke-109 dari 180 negara di dunia dalam Indeks Persepsi Korupsi. Data tersebut adalah cermin nyata bahwa persoalan penyalahgunaan amanah, di level mana pun, mulai dari level negara hingga level unit kerja terkecil seperti sekolah, masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini.

Dan penting untuk kita sadari bersama, pelanggaran seperti korupsi dalam skala besar hampir selalu berawal dari kebiasaan meremehkan pelanggaran-pelanggaran kecil. Menyalahgunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, memanipulasi laporan kegiatan agar terlihat lebih baik dari kenyataan, atau memanfaatkan wewenang untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, semuanya adalah benih dari pohon yang sama.

Ketika Guru Kritis Naik Jabatan: Refleksi untuk Ruang Kerja di Sekolah

Di lingkungan sekolah, pola ini bisa terjadi dalam bentuk yang jauh lebih berbahaya. Seorang guru yang dulu vokal menuntut transparansi pembagian jam mengajar, begitu diangkat menjadi bagian di dalamnya, tiba-tiba enggan menjelaskan dasar pembagiannya. Seorang guru yang dulu kritis terhadap ketidakadilan dalam penunjukan panitia kegiatan, begitu ia sendiri menjadi ketua panitia, justru hanya melibatkan lingkaran orang-orang dekatnya.

Bukan berarti setiap guru yang naik jabatan pasti akan berubah. Tetapi ini adalah peringatan bahwa jabatan, sekecil apa pun bentuknya di sekolah, terkadang memiliki daya tarik yang bisa menggeser nilai yang dulu dipegang teguh, jika tidak menjaga dan merawatnya.

Solusi yang Membangun: Merawat Integritas Sejak Guru Biasa

Ada beberapa langkah konkret yang bisa diterapkan bersama di lingkungan sekolah agar jabatan tidak menjadi jebakan yang mengikis nilai-nilai yang dulu diperjuangkan:

Pertama, biasakan menuliskan alasan di balik setiap keputusan, sekecil apa pun jabatan yang diemban. Kebiasaan mendokumentasikan alasan pembagian jam mengajar, penunjukan panitia, atau penilaian kinerja, akan memaksa untuk selalu berpikir adil sebelum bertindak, karena tahu keputusan tersebut bisa dipertanggungjawabkan.

Kedua, sengaja mencari kritik, bukan menghindarinya. Seorang pemimpin di sekolah, sekecil apa pun lingkupnya, sebaiknya secara aktif membuka forum masukan dari rekan sejawat, bukan menunggu kritik itu datang sendiri lalu merasa terganggu olehnya.

Ketiga, jadikan diri sendiri di masa lalu sebagai standar penilaian. Sesekali bertanya pada diri sendiri, "apakah keputusan yang saya ambil hari ini akan tetap saya bela, jika saya masih menjadi guru biasa yang mengamati dari luar?"

Keempat, ingat bahwa jabatan di sekolah adalah amanah yang bersifat sementara dan akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di depan kepala sekolah atau pengawas, tetapi juga di hadapan Allah Swt kelak.

Organisasi Berubah Bukan Karena Orang Baik Naik Jabatan

Sekolah atau organisasi apa pun tidak akan berubah hanya karena orang baik berhasil naik jabatan. Sekolah baru benar-benar berubah ketika orang baik itu tetap berani memegang nilai yang sama, bahkan setelah ia memiliki kewenangan untuk melakukan sebaliknya.

Memimpin memang jauh lebih sulit daripada mengkritik. Tetapi kesulitan tersebut seharusnya membuat lebih bijaksana, bukan membuat menyerah pada budaya yang dulu ingin diubah. Sebab pada akhirnya, jabatan bukanlah ujian tentang seberapa besar kekuasaan yang dipegang, melainkan ujian tentang seberapa teguh memegang prinsip, ketika harga yang harus dibayar untuk prinsip tersebut ternyata jauh lebih mahal daripada yang pernah dibayangkan.

Posting Komentar untuk "KENAPA ORANG YANG DULU PALING VOKAL MENGKRITIK, JUSTRU JADI YANG PALING DIBENCI SAAT DUDUK DI KURSI KEKUASAAN?"